Dewan Pers

Dark/Light Mode

Jaga Stok Aman Jelang Idul Adha, Kementan Kawal Panen Cabe

Rabu, 29 Juni 2022 15:38 WIB
Dirjen Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto saat panen cabe di Desa Kataan, Temanggung, Minggu (26/6)/Ist
Dirjen Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto saat panen cabe di Desa Kataan, Temanggung, Minggu (26/6)/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pertanian terus memonitoring proses panen cabe di sejumlah sentra pertanian, guna menjamin ketersediaan komoditas cabe skala nasional jelang Idul Adha tahun ini. 

Hal ini dilakukan untuk memenuhi permintaan masyarakat yang diprediksi akan mengalami lonjakan pada momentum tersebut.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Prihasto Setyanto, saat meninjau sentra lahan pertanian cabe di Desa Kataan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Minggu (26/6).

Kendati demikian, pihaknya menyebut harga komoditas cabe tengah mengalami kenaikan akibat berkurangnya hasil panen dari tingkat petani akibat pengaruh anomali cuaca.

“Kami melakukan proses pemantauan panen cabe di sejumlah wilayah jelang Idul Adha untuk menjamin agar ketersediaannya mampu mencukupi kebutuhan masyarakat,” katanya.

Menurut dia, berdasarkan data yang diperoleh dari BPS pusat, hasil panen cabe secara nasional di seluruh provinsi saat ini tengah mengalami penurunan sekitar 7- 10 persen dari tingkat rata-rata produksi bulanan.

Berita Terkait : Jelang 1 Abad, Kauman Padang Panjang Luncurkan Buku

Berdasarkan hasil identifikasi Tim Kementan, penurunan banyak dipengaruhi oleh petani yang banyak berubah dari bertanam cabe ke pertanian padi, lantaran pada periode Mei-Juni curah hujan di banyak wilayah masih cukup tinggi.  Selain itu, juga akibat banyaknya penyakit yang menyerang tanaman cabe.

“Iklimnya memang tidak bisa kita duga. Kami juga menempuh upaya pengendalian hama penyakit yang menyerang tanaman cabe di ribuan hektare lahan sejak Mei lalu. Kami juga akan membagikan bantuan benih kepada para petani pada musim tanam berikutnya. Khususnya petani yang terdampak agar saat musim tanam tiba semuanya telah siap,” ungkapnya.

Dia menyebut, varietas cabe besar yang umum ditanam yaitu Arimbi, Pilar, Jecko, dan TM99. Sedangkan yang cabe rawit yaitu Kencana, Carika, Madun, Sigantung, dan Mahkota. Produksi cabe besar banyak terdapat di Kecamatan Bulu dan Parakan. Sedangkan cabe rawit banyak terdapat di Kecamatan Ngadirejo dan Kaloran.

Luasan panen pada Juni untuk jenis cabe keriting mencapai  1.213 ha, sedangkan jenis cabe rawit merah seluas 1.946 ha.

“Ketersediaan aneka cabe (Cabe Rawit Merah, Cabe Rawit Hijau, Cabe Merah Keriting dan Cabe Besar) pada Juni hingga Juli masih surplus untuk memenuhi kebutuhan nasional,” katanya.

Pihaknya membeberkan, berdasarkan angka  total produksi cab3 besar nasional pada Juni sebesar 78.040 ton, sedangkan kebutuhan cabe besar pada Juni diperkirakan 76.317 ton. Sehingga neraca cabe besar surplus 1.723 ton.

Berita Terkait : Moeldoko : Kalau Ada KSP Ke Kementerian, Itu Perintah Saya

Produksi cabe rawit sebesar 73.562 ton, sedangkan kebutuhan cabe rawit diperkirakan 72.159 ton sehingga neraca cabe rawit surplus sebesar 1.403 ton. Sementara produksi cabe besar pada Juli sebesar 99.949 ton dan cabe rawit sebesar 209.673 ton. 

Kebutuhan cabe besar Juli diperkirakan 97.731 ton sehingga neraca cabe besar masih surplus 2.218 ton. Sedangkan kebutuhan cabe rawit diperkirakan 87.308 ton sehingga neraca cabe rawit juga surplus sebesar 22.365 ton. 

Bulan Agustus, produksi cabe besar sebesar 98.561 ton dan cabe rawit sebesar 120.536 ton. Kebutuhan cabe besar Agustus diperkirakan 78.861 ton sehingga neraca cabe besar surplus 19.701 ton, sedangkan kebutuhan cabe rawit diperkirakan 74.564 ton sehingga neraca cabe rawit surplus sebesar 45.972 ton. 

Untuk pasokan tetap mengadalkan daerah sentra Jawa yang memiliki dataran tinggi serta daerah luar Jawa. Seperti Sulsel, Sulteng dan Sumut yang memiliki produksi lebih.

Curah hujan ekstrem yang cenderung masih tinggi di Pulau Jawa tidak dipungkiri berdampak pada volume panen. Namun, tim Ditjen Hortikultura telah melakukan langkah-langkah prefentif untuk menjaga sentra panen terus berproduksi. 

Ketahanan pertanaman melalui fasilitasi dan penyaluran sarana produksi, Percepatan tanam untuk Kawasan cabai seluas 3.350 ha di akhir Semester I dan fasilitasi benih seluas 1.000 ha terus salurkan.

Berita Terkait : Bantu Masyarakat, Kementan Gelar Bawang Merah Dan Cabe Murah

Tim Ditjen Hortikultura melalui Direktorat PPHH juga sudah menyiapkan Langkah bantuan distribusi mobilisasi barang dari daerah surplus produksi ke daerah minus. Serta pembinaan pascapanen dengan menyediakan bangsal yang digunakan untuk penyimpanan cabe segar, sekaligus tempat produk olahan kering. Sehingga hasilnya dapat menjadi substitusi di kala harga cabe segar relative meningkat.

Dimana tim pemasaran sudah menunjuk TTIC untuk menjadi agen penyalur dan pemasaran berkeadilan bagi konsumen perkotaan, dan juga memiliki unit pasar pati di seluruh provinsi di Indonesia terus melakukan gelar pasar murah mingguan.

Data produksi cabe besar dan cabe rawit Juni 2022 menggunakan penghitungan data LTT dikalikan provitas per provinsi dengan perkiraan penurunan produksi akibat perubahan iklim untuk cabai besar sebesar 15 persen dan cabe rawit sebesar 30 persen.

Data produksi Juli-Agustus berdasarkan data rerata enam tahun terakhir (ATAP 2016-2021) dengan perkiraan penurunan produksi Bulan Juli sebesar 10 persen dan cabe rawit sebesar 20 persen.

“Produk olahan lanjutan hasil panen cabe merupakan salah satu upaya strategis menjaga ketahanan harga di tingkat petani. Agar saat panen menurun atau panen melimpah dapat menyangga hasil,” pungkasnya.■