Dewan Pers

Dark/Light Mode

Sebulan Lagi

Bisa Saja Muncul Mutasi Baru Covid

Selasa, 12 Juli 2022 07:35 WIB
Kepala Bidang Dukungan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19, Dr. Alexander K Ginting saat menyampaikan keterangan dalam diskusi Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Jakarta, Senin (11/7/2022). (Foto: YouTube)
Kepala Bidang Dukungan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19, Dr. Alexander K Ginting saat menyampaikan keterangan dalam diskusi Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Jakarta, Senin (11/7/2022). (Foto: YouTube)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penularan Covid-19 masih terus berlangsung. Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 pun mengingatkan, penularan yang terus berlanjut berpotensi melahirkan mutasi atau varian baru.

Kepala Bidang Dukungan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19, Dr. Alexander K Ginting menjelaskan, kemungkinan virus Corona bermutasi berdasarkan pengalaman pada tahun sebelumnya.

“Kalau kita lihat perjalanan pandemi Covid virus terus berubah dari Alpha, Beta, dan Delta. Lalu sekarang Omicron,” katanya ketika menjawab pertanyaan Rakyat Merdeka, dalam diskusi Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Jakarta, kemarin.

Berita Terkait : Pasar Lokal Dulu, Baru Ekspor

Dari varian Omicron saat ini kemudian, muncul subvarian turunannya, yakni BA.4 dan BA.5. Dua subvarian yang menjadi biang kerok meningkatnya kasus di sejumlah negara ini, bisa saja kembali bermutasi.

“Jadi selagi penularan masih berlangsung maka proses mutasi akan terus saja ada,” terangnya.

Dia mengatakan, mutasi virus bisa lebih bahaya dari sebelumnya. Tapi bisa juga lebih ringan. Untuk varian Omicron ini karakteristik virusnya berbeda dengan Delta, yang menjadi “perenggut nyawa” terbanyak saat gelombang 2, pada 2021 lalu.

Berita Terkait : Kerumunan Jemaah Haji Bisa Picu Kenaikan Covid

Meski demikian jangan sampai gejala ringan ini dianggap tidak membuat abai dalam menjalankan protokol kesehatan.

Meski tak sekuat Delta, subvarian Omicron bisa saja menjadi berbahaya jika menular kepada kelompok lansia yang belum divaksin serta memiliki penyakit bawaan yang berat atau komorbid. “Maka kami minta dinas kesehatan setempat untuk melakukan monitoring,” tutur Alex.

Meski begitu, dia menyebut, data kasus aktif yang sekarang ada di kisaran 20 ribuan masih dianggap aman, meski beberapa hari terakhir laju kasus harian tercatat lebih dari 2.500 pasien.
 Selanjutnya