Dewan Pers

Dark/Light Mode

Biar Makin Kuat, Teten Ajak Nelayan Bentuk Koperasi

Selasa, 19 Juli 2022 16:02 WIB
Menkop UKM Teten Masduki dan Menteri BUMN Erick Thohir pada acara Munas KNTI. (Foto: ist)
Menkop UKM Teten Masduki dan Menteri BUMN Erick Thohir pada acara Munas KNTI. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki mengajak para nelayan untuk berkoperasi, agar tangguh dan kuat dalam mengelola sektor kelautan di Indonesia.

"Jangan sendiri-sendiri. Masuk dan bentuk koperasi agar bisa masuk skala ekonomi," kata Menkop UKM, Teten Masduki, dalam acara Munas IV Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) 2022 bertema Aksi Kolaboratif Pemenuhan Hak Nelayan Tradisional Menuju Indonesia yang Mandiri, Adil, Makmur, dan Lestari, di Jakarta, Selasa (19/7).

Ia mencontohkan, Koperasi Minosaroyo di Cilacap yang mampu mengelola penyediaan BBM hingga Tempat Pelelangan Ikan (TPI) nelayan. Hal yang sama dilakukan nelayan di Jepang, mereka bahkan bisa menjadi pemain utama perikanan dunia. Salah satu strategi mereka adalah memperkuat peran koperasi sehingga bisa memastikan akses pembiayaan, pasar, dan inovasi kepada para nelayan.

Teten menjabarkan, aneka program Korporatisasi Petani berbasis koperasi yang sudah digulirkan. Misalnya, ada 1.000 petani pisang berlahan sempit di Tenggamus (Lampung) yang bergabung dalam koperasi. Begitu juga dengan para petani sayur di Ciwidey (Kabupaten Bandung) yang tergabung dalam Koperasi Pondok Pesantren Al Ittifaq.

Dalam ekosistem tersebut, koperasi menjadi offtaker yang membeli secara tunai produk yang dihasilkan para petani. Koperasi juga yang memasarkan produk petani. "Konsep Korporatisasi Petani ini yang akan kita terapkan untuk para nelayan di Indonesia," tegas Menteri Teten.

Lebih dari itu, ia menegaskan, koperasi bisa mengolah hasil nelayan agar memiliki nilai tambah. "Kita akan terus perkuat ekosistem UMKM lewat koperasi, agar ada kepastian harga dan pasar," katanya.

Berita Terkait : Biaya Haji Bisa Dipangkas Lagi

Hadir di kesempatan yang sama, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir juga mengamini apa yang dikatakan Menteri Teten. Ia juga meminta agar nelayan jangan jalan sendiri-sendiri, melainkan harus berkolaborasi. "Perlu ada kepastian produk untuk dibeli. Dan koperasi bisa menjadi offtaker," tegas Erick.

Selain itu, dengan nelayan terdaftar dalam koperasi, maka akan memudahkan pemerintah dalam menyalurkan BBM bersubsidi. "Pertamina akan menyalurkan BBM bersubsidi melalui koperasi, sehingga tepat sasaran," kata Erick.

Ia juga berharap, ada pengembangan ekonomi sektor kelautan di daratan, yakni budi daya ikan. "Harus segera dikembangkan. Karena, kalau mau dikorporatisasikan, harus ada standar produk, yaitu standar ikan," tuturnya.

Sementara, Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Muhammad Zaini menyebutkan, pihaknya sudah menggulirkan beberapa program pemberdayaan nelayan di Indonesia. Di antaranya, menjaga kesehatan laut dengan menerapkan penangkapan ikan di laut berbasis kuota. 

"Penangkapan ikan terukur berbasis kuota diharapkan bisa lebih menyejahterakan nelayan," kata Zaini.

Selain itu, KKP juga sudah mengembangkan kampung-kampung nelayan di seluruh Indonesia. Tahun ini ditargetkan pengembangan kampung nelayan sebanyak 120 kampung. Di dalamnya, mencakup pelatihan, modernisasi alat tangkap, hingga pemasaran produk yang dihasilkan.

Berita Terkait : Zul Merasa Di Jalan Yang Benar

Zaini mencontohkan, Kampung Nelayan di Kepulauan Belitung yang sudah melakukan diversifikasi usaha sehingga produknya memiliki nilai tambah. "Saya mendorong hal ini, termasuk kuota tangkap ikan, dibagikan melalui koperasi. Jika nelayan bergabung dalam koperasi, akan lebih memiliki daya saing," katanya.

Peran KNTI

Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Riza Damanik menjelaskan, KNTI sejak didirikan 14 tahun silam terus terlibat aktif dalam upaya meningkatkan kapasitas nelayan Indonesia, baik laki-laki dan perempuan, hingga untuk menjaga laut tetap sehat.

Beberapa peran dan langkah KNTI, di antaranya di Serdang Bedagai, Pekalongan, dan Indramayu, yang secara konsisten menanam mangrove dan memulihkan ekosistem pesisir Indonesia.

Ada juga KNTI Tarakan dan Tanjungbalai yang secara aktif menjaga agar laut tidak dirusak dengan alat tangkap merusak, seperti trawl. Begitu juga KNTI Medan, Semarang, Lombok Timur, dan Aceh Selatan, yang tidak lelah membantu nelayan agar semakin mudah mendapatkan BBM bersubsidi.

Selanjutnya, perempuan-perempuan nelayan dari KPPI Surabaya, Medan, Gresik, dan lainnya. Mereka ini perempuan-perempuan hebat yang berorganisasi dan meningkatkan nilai tambah produk perikanan.

Berita Terkait : Jalin Kerja Sama, DKI Berikan Akses Pemodalan UMKM Kota Bekasi

"Tak ketinggalan, ada koperasi KNTI dari Surabaya yang ikhtiarnya adalah memperluas skala ekonomi usaha nelayan," kata Riza.

Lebih dari itu, KNTI juga terlibat langsung dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan dan terlibat aktif mengawal kebijakan-kebijakan agar berpihak pada nelayan kecil dan tradisional.

Pasalnya, menurut Riza, nelayan kecil dan tradisional merupakan 96 persen dari total kekuatan nelayan Indonesia. "Inilah yang memastikan tersedianya pasokan ikan, baik untuk konsumsi maupun industri di Tanah Air," kata Riza.

Bahkan, ikan inilah yang selanjutnya akan dikonsumsi ibu-ibu di Tanah Air ketika hamil sehingga janinnya kuat, anak-anak generasi ke depan lebih sehat dan intelegensianya lebih tinggi, hingga terhindar dari penyakit.

"Maka, memastikan nelayan kecil dan tradisional hidup sejahtera adalah bagian dari kepentingan besar bangsa kita. Juga, memastikan tidak ada masalah pangan, tidak ada masalah lapangan pekerjaan, tidak ada masalah kesejahteraan, dan tidak ada masalah lingkungan," pungkasnya.