Dewan Pers

Dark/Light Mode

RI Kerja Sama Dengan Korsel

Bahlil Percepat Pengembangan Investasi Hijau Berkelanjutan

Kamis, 28 Juli 2022 23:50 WIB
Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia (duduk kiri) bersama dengan Menteri MOTIE Lee Chang-Yang (duduk kanan) menandatangani nota kerja sama , di Seoul, Korea Selatan, Kamis (28/7). Presiden Jokowi dan Presiden Korsel Yoon Seok-yeol menyaksikan penandatanganan ini.
Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia (duduk kiri) bersama dengan Menteri MOTIE Lee Chang-Yang (duduk kanan) menandatangani nota kerja sama , di Seoul, Korea Selatan, Kamis (28/7). Presiden Jokowi dan Presiden Korsel Yoon Seok-yeol menyaksikan penandatanganan ini.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah berkolaborasi dengan Korea Selatan (Korsel) dalam rangka mendorong peningkatan investasi hijau berkelanjutan melalui nota kerja sama antara Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Kementerian Perdagangan, Perindustrian, dan Energi (Ministry of Trade, Industry, and Energy/MOTIE). Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia bersama dengan Menteri MOTIE Lee Chang-Yang menandatangani nota kerja sama tersebut, di Seoul, Korea Selatan, Kamis (28/7). Penandatanganan ini disaksikan langsung Presiden Jokowi dan Presiden Korsel Yoon Seok-yeol.

Kolaborasi RI-Korsel ini dilakukan dalam rangka meningkatkan dan memfasilitasi kegiatan kerja sama yang saling menguntungkan. Seperti investasi, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas untuk mempercepat terwujudnya investasi hijau berkelanjutan.

Bahlil optimis, kerja sama yang dilakukan ini dapat mempercepat pertumbuhan investasi hijau berkelanjutan di Indonesia. Bahlil menyampaikan, RI dan Korsel telah memiliki hubungan bilateral yang sangat baik, khususnya terkait investasi.

“Kami berkomitmen untuk secara konsisten memberikan dukungan penuh kepada investor Korea Selatan mulai dari awal perizinan sampai dengan pengawasan hingga terealisasi investasinya. Ini berlaku bagi calon investor maupun yang sudah eksisting di Indonesia saat ini. Investor dari Korea Selatan silakan datang, bawa modal dan teknologi, kami siap fasilitasi,” ujar mantan Ketua Umum HIPMI ini, seperti keterangan yang diterima RM.id, Kamis (28/7).

Berita Terkait : Kinerja Kinclong, Bank Mandiri Percepat Transformasi Digital

Bahlil mengungkapkan, investor asal Korsel telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi Indonesia dalam mewujudkan transformasi ekonomi. Di antaranya diwujudkan dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

MOTIE akan memfasilitasi investasi dari Korsel yang memiliki modal dan teknologi mutakhir untuk mengembangkan investasi hijau berkelanjutan, serta memberikan dukungan teknologi yang tepat untuk ditransfer ke Pemerintah Indonesia dan sektor swasta.

Menteri MOTIE Lee Chang-Yang menyambut baik atas terjalinnya kerja sama dengan Kementerian Investasi/BKPM. Lee mengungkapkan optimis kerja sama yang sudah dan akan terjalin ini dapat memberikan dampak positif bagi kedua pihak, khususnya di bidang investasi.

“Kami sangat berterima kasih kepada Menteri Investasi atas dukungan dan fasilitasi yang diberikan kepada investor asal Korea Selatan selama ini. Kami senang dapat berkontribusi pada perkembangan investasi hijau di Indonesia, dan kami harap hubungan kerja sama ini dapat terus berjalan serta saling menguntungkan,” ujar Lee.

Berita Terkait : PLN UIP Jawa Bagian Barat Pendataan Awal Pembangunan Transmisi SUTT Tigaraksa

Nota kerja sama antara Kementerian Investasi/BKPM dan MOTIE ini selain mengembangkan dan mentransfer teknologi dalam investasi hijau berkelanjutan, pertukaran peluang investasi dan kebijakan yang relevan tentang pengembangan investasi hijau, serta mempromosikan dan memfasilitasi kegiatan kerja sama investasi yang bergerak di sektor industri dan energi hijau. Seperti ekosistem kendaraan listrik, baterai, semikonduktor, dan energi terbarukan.

Investasi hijau berkelanjutan berupa pengembangan ekosistem kendaraan listrik asal Korsel di Indonesia direalisasikan melalui kerja sama antara konsorsium perusahaan Korsel, yang di dalamnya termasuk LG, Hyundai, KIA, dan Posco dengan BUMN Indonesia IBC (Indonesia Battery Corporation). Kerja sama ini meliputi pembangunan industri baterai listrik terintegrasi dimulai dari pertambangan dan peleburan (smelter) nikel yang berlokasi di Halmahera, Maluku Utara, hingga industri pemurnian (refinery); industri prekursor dan katoda; serta perluasan industri sel baterai yang akan dibangun di KIT Batang, Jawa Tengah, hingga industri daur ulang baterai listriknya. Total rencana investasi mencapai Rp 142 triliun.

Implementasi tahap pertama ground breaking pembangunan pabrik sel baterai kendaraan listrik telah dilakukan di Karawang, 15 September 2021. Saat ini, pembangunan tersebut memasuki tahap konstruksi yang telah terealisasi sebesar 50-60 persen dari total target kapasitas produksi 10 gigawatt dengan nilai investasi sebesar 1,1 miliar dolar AS (setara Rp 16 triliun). Pada 8 Juni 2022, telah dimulai pembangunan tahap kedua industri baterai listrik terintegrasi ini di KIT Batang, Jawa Tengah.

Selain itu, dalam pengembangan pabrik produksi kendaraan listrik, Hyundai juga telah merealisasikan investasinya yang mencapai nilai 1,5 miliar dolar AS (setara Rp 22 triliun) di Cikarang, yang telah mulai berproduksi sejak Januari 2022 dengan kapasitas produksi saat ini mencapai 150.000 unit per tahun.

Berita Terkait : Kopda Muslimin, Dalang Penembakan Istri, Meninggal Di Rumah Orangtuanya

Data Kementerian Investasi/BKPM menunjukkan, Korsel saat ini menempati peringkat ke-5 dalam realisasi investasi di Indonesia berdasarkan negara untuk periode 2017 sampai dengan semester pertama 2022 mencapai 9,08 miliar dolar AS (setara Rp 130 triliun). Nilai tersebut didominasi investasi pada sektor manufaktur yaitu industri kendaraan bermotor yang mencapai 1,7 miliar dolar AS (setara Rp 25 triliun); kemudian disusul sektor listrik, gas, dan air sebesar 1,35 miliar dolar AS (setara Rp 19 triliun); industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam sebesar 0,92 miliar dolar AS (setara Rp 13 triliun); industri barang dari kulit dan alas kaki sebesar 0,86 miliar dolar AS (setara Rp 12,5 triliun); serta industri kimia dan farmasi sebesar 0,85 miliar dolar AS (setara Rp 12 triliun).■