Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Penyebaran berita hoaks masih menjadi momok dalam perkembangan media digital. Sejak tahun 2000 hingga 2023, penyebaran berita hoaks meningkat sangat signifikan.
Pada tahun 2022-2023 terpetakan bahwa isu hoaks didominasi isu politik.
Hingga akhir Desember 2023, berdasarkan data dari Litbang Mafindo, sepanjang tahun 2023 ditemukan sebanyak 2.330 penyebaran hoaks dengan 1.292 hoaks terkait isu politik.
Dan jika dikerucutkan lagi, terdapat 646 isu yang berkaitan dengan pemilihan umum, yang baru selesai digelar pada 14 Februari 2024 lalu.
Pemilihan umum untuk memilih presiden dan wakilnya, serta perwakilan masyarakat di parlemen lima tahun ke depan, menjadi pagelaran pesta demokrasi terbesar di dunia.
Baca juga : Berpeci, Prabowo Dibonceng Polantas
Sayangnya, hal ini tak lepas dari isu-isu miring yang lalu lalang di media, terutama digital.
Karena itu, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) menyelenggarakan Obral Obrol Literasi Digital, pada Jumat, 16 Februari 2024 yang mengangkat topik "Pilah Pilih Berita, Cek Faktanya".
Pada pemilu kali ini, terjadi HLBK atau hoaks lama bersemi kembali,.seperti yang disampaikan Wakil Ketua Komite Pengembangan Mafindo SDM, Gushevinalti.
Menurut Gusti, ritme hoaks terkait pemilu datang setiap lima tahun, sehingga hoaks yang pada Pemilu tahun 2019, kembali muncul pada Pemilu tahun ini.
Namun, kemunculan hoaks pada pemilu tahun 2024, bentuknya telah berkembang pesat, dan lebih dominan dalam bentuk audio visual.
Baca juga : Anies Ajak Teman SMA 2 Yogyakarta Reunian Di Rumahnya
"Kalau dulu banyak sekali tentang teks atau narasi, kalau sekarang lebih banyak berkembang bentuk dari video dari foto yang memang sudah menggunakan kecanggihan teknologi seperti AI," ujar Gusti.
Berita hoaks sangat merugikan terutama dari sudut pandang media, seperti yang diungkapkan Jurnalis IDN Times, Ahmad Nuril Fahmi.
Tugas media meluruskan berita dan menyampaikan berita dengan benar. Menurut Fahmi, hoaks mengikuti trend yang sedang berkembang dan mengikuti isu.
Karena itu, masyarakat harus memahami bahwa hoaks dibuat dengan sengaja, yang terkadang dibuat oleh oknum dengan berbagai tujuan, seperti mencari popularitas dan menambah traffic pembaca.
"Apalagi di tahun politik sekarang ini, sentimen orang terhadap paslon atau pribadi sangat tinggi. Jadi terkadang kita nyebar atau share ada emosi yang terbawa juga," ujar Fahmi.
Baca juga : Bang Zaki Ajak Masyarakat Ciptakan Pemilu Damai
Sudah saatnya kita sadar untuk tidak berdebat terkait isu hoaks yang beredar, sehingga tidak merusak hubungan pertemanan dan terpecah belah.
Berdasarkan pengalaman Ketua KEB Solo, Ranny Afandi, saat memperoleh informasi yang dinilai provokatif, maka sebaiknya segera cari tahu kebenarannya, yang kemudian diikuti dengan memberitahukan kembali informasi dari sumber terpercaya.
“Namun, jika ternyata justru memperpanjang perdebatan, maka sebaiknya segera dihentikan," tegas Ranny.
Untuk mendapatkan rujukan yang kuat makan gali informasi lebih dari satu sumber, agar tidak 'missed'.
Sumber informasi yang kredible juga penting untuk menjadi rujukan agar kita tidak terpapar informasi salah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya