Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Tumbuh 5,11 Persen Di Triwulan I, Ekonomi Indonesia Dipuji Wakil Kanselir Jerman
Senin, 6 Mei 2024 19:51 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan pertemuan bilateral dengan Wakil Kanselir Jerman sekaligus Menteri Ekonomi dan Aksi Iklim Jerman YM Robert Habeck, di Berlin, Senin (6/5/2024). Dalam pertemuan itu, Habeck memuji pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai salah satu tertinggi di Asia Tenggara.
Pertemuan bilateral dua negara dengan ekonomi terbesar di kawasan ASEAN dan Eropa ini membahas berbagai kerjasama di bidang industri, perdagangan dan investasi, energi, serta pengembangan sumber daya manusia.
Dalam sambutannya, Menko Airlangga mengungkapkan, pada Triwulan I tahun 2024, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen. Ini merupakan tingkat tertinggi sejak tahun 2015.
"Pertumbuhan ekonomi yang solid ini juga didukung oleh penilaian positif dari berbagai lembaga rating, yang menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga berkat pertumbuhan yang tinggi dan stabil," kata Airlangga dalam keterangan tertulis, Senin (6/5/2024).
Baca juga : Kemenag Luncurkan Senam Haji Indonesia, Diikuti Lebih 28 Ribu Jemaah
Airlangga menyampaikan, capaian pertumbuhan ekonomi nasional semakin berkualitas, terlihat dari peningkatan dalam data ketenagakerjaan per Februari 2024 yang juga dirilis hari ini. Jumlah penduduk yang bekerja meningkat sebanyak 3,55 juta orang menjadi 142,18 juta, dibandingkan dengan Februari 2023, sementara tingkat pengangguran menurun sebesar 0,79 juta orang menjadi 7,2 juta. Proporsi pekerja formal naik menjadi 40,83%, naik dari 39,88% di tahun sebelumnya, didorong utamanya oleh kenaikan jumlah buruh, karyawan, atau pegawai sebesar 2,66%.
Dari sisi pengeluaran, peningkatan signifikan dalam realisasi berbagai belanja Pemerintah, terutama untuk Pemilu, mendorong pertumbuhan Konsumsi Pemerintah yang mencapai 19,9%.
"Hal ini juga tercermin pada pertumbuhan Konsumsi Lembaga Non-Profit Rumah Tangga (LNPRT) yang melonjak hingga 24,29%, akibat dari adanya kegiatan Pemilu," paparnya.
Selain itu, lanjut Airlangga, Konsumsi Rumah Tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tetap menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi, meskipun dihadapkan pada net ekspor yang negatif.
Baca juga : Forum Dekan Ilmu Sosial PTN Se-Indonesia Apresiasi Mahkamah Konstitusi
"Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan domestik masih kuat, didukung oleh kebijakan fiskal yang berfungsi sebagai penyerap goncangan dalam menghadapi ketidakpastian global saat ini," ungkap Ketum Partai Golkar ini.
Dengan serangkaian pencapaian ini, kata Airlangga, Indonesia berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi yang kuat dan persisten, berada pada level tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malaysia (3,9%), Korea Selatan (3,4%), Singapura (2,7%), dan Meksiko (1,6%). Pertumbuhan ekonomi tersebut juga diiringi oleh tingkat inflasi yang rendah dan terkendali, hanya 3,0%, lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain seperti India (4,9%), Brasil (3,9%), dan Filipina (3,7%).
Untuk sisa tahun 2024, ekonomi global diperkirakan masih akan menghadapi ketidakpastian akibat faktor-faktor seperti kebijakan suku bunga tinggi, meningkatnya tensi geopolitik, dan penurunan permintaan global.
Namun, menurut World Economic Outlook (WEO) IMF yang diterbitkan pada April 2024, perekonomian Indonesia diperkirakan akan tetap tangguh dengan pertumbuhan di kisaran 5% dan di tahun 2025 diperkirakan akan meningkat, melampaui pertumbuhan ekonomi global dan rata-rata negara berkembang.
Baca juga : Dubes Thailand Untuk Indonesia Prapan Disyatat Happy Festival “Perang Air” Meriah
Dalam upaya mempertahankan pertumbuhan ini, Pemerintah Indonesia telah merencanakan berbagai strategi yang meliputi pemeliharaan daya beli dan stabilitas harga melalui kebijakan bantuan sosial, PPN DTP Properti, dan pengendalian inflasi dengan strategi 4K.
Selain itu, pemerintah juga berfokus pada penguatan sektor eksternal melalui optimalisasi penerimaan dari Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) dan penguatan implementasi Local Content Requirement (LCR), serta mempercepat transisi energi dengan mendorong penggunaan Kendaraan Listrik (EV) dan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah kebijakan sektoral lainnya.
Dalam pertemuan di Berlin, kedua Menteri menekankan pentingnya menyelesaikan perundingan IEU-CEPA secepatnya, dengan memperhatikan prinsip perdagangan yang adil dan kemakmuran bersama. Menko Airlangga juga membahas kebijakan EU Deforestation Regulation (EUDR), menyerukan agar kebijakan tersebut mempertimbangkan aspirasi negara-negara dengan hutan alami. Selain itu, dibahas pula kerjasama dalam pengembangan ekosistem semikonduktor di Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya