Dark/Light Mode

Barantin Teken MoU Perlindungan ITE Dengan BSSN

Senin, 3 Juni 2024 21:36 WIB
Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat Manaor Panggabean bersama Kepala Badan Siber dan Sandi Negara Hinsa Siburian saat penandatanganan kesepakatan kerjasama (MoU) tentang Perlindungan Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) di Bidang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, di Jakarta (3/6/2024). Foto: Istimewa
Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat Manaor Panggabean bersama Kepala Badan Siber dan Sandi Negara Hinsa Siburian saat penandatanganan kesepakatan kerjasama (MoU) tentang Perlindungan Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) di Bidang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, di Jakarta (3/6/2024). Foto: Istimewa

 Sebelumnya 
Di tempat yang sama, Kepala BSSN Hinsa Siburian mengatakan, konsep ancaman di era digital saat ini telah berkembang, tidak hanya berupa ancaman militer dan non militer, melainkan juga ancaman hybrid. Ancaman hybrid ini disebabkan terutama dari ruang siber.

Selain itu, harus juga disadari bahwa di masa-masa tenang seperti ini, kita tidak hanya menghadapi ancaman berupa penyakit atau pandemi yang berasal dari sumber bilogi seperti Covid-19, melainkan juga ancaman tidak kasat mata berupa serangan siber yang dapat melumpuhkan sistem elektronik yang kita gunakan.

"Sebagai salah satu instansi yang berperan besar di sektot kesehatan dan pangan Indonesia, Barantin tidak luput dari ancaman tersebut," ujarnya.

Dijelaskan Hinsa, berdasakan hasil monitoring BSSN, sepanjang tahun 2023 ditemukan lebih dari 403 juta anomali, dimana 1 juta diantaranya merupakan ransomware. Sedangkan pada periode Januari hingga 2 Juni 2024, BSSN mendeteksi sebanyak 83 juta anomali.

Baca juga : Garang Di April, Duo Brasil Persib Diganjar Penghargaan

Walaupun tampak ada penurunan jumlah anomali pada semester pertama tahun 2024 dibanding pada tahun 2023, tetap saja jumlah anomali tersebut terbilang tinggi.

Selain itu, berdasarkan landscape keamanan siber, pihaknya memprediksi bahwa di tahun 2024 ini, serangan siber baik berupa ransomware, phising, maupun Advance Persistent Threat (APT), masih akan menjadi serangan-serangan dominan yang menargetkan berbagai sektor termasuk sektor kesehatan dan pangan.

"Di luar negeri, kita menyaksikan serangan siber besar yang terjadi pada tahun 2024 seperti peretasan server milik microsoft di Amerika Serikat dan pencurian data besar-besaran di Eropa. Ini menunjukkanbahwa bahwa ancaman siber adalah masalah global yang memerlukan perhatian serius dan penanganan kolaboratif," terangnya.

Lebih lanjut, Hinsa mengatakan, penggunaan teknologi dan komunikasi dalam proses karantina memungkinkan pengumpulan dan pengolahan data secara cepat dan akurat, serta memastikan bahwa setiap langkah dalam proses tersebut dapat dipantau dan diaudit dengan baik.

Baca juga : Bangun Sinergitas, IRPII Teken Kerja Sama Dengan Kemenparekraf

MoU yang ditandangani ini, lanjutnya, merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa data dan informasi di lingkungan Barantin dapat terlindungi dengan baik dari ancaman siber.

Karenanya, Barantin dan BSSN harus dapat terus saling berkomitmen dan menindaklanjuti langkah-langkah teknis untuk membangun kerjasama yang baik dalam wujud keamanan siber nasional melalui pemanfaatan sertifikat elektronik untuk meningkatkan keamanan transaksi elektronik, pengamanan teknologi informasi dan komunikasi, peningkatan kapasitas keamanan siber, peningkatan dan penyeimbangan sumber daya manusia, kampanye dan literasi keamanan siber dan pertukaran informasi.

"Selain itu kita perlu melakukan pecerpatan implementasi teknis ruang lingkup kerjasama melalui layanan-layanan yang dimiliki oleh BSSN, yaitu kita memiliki monitoring dan deteksi aset elektonik yang dikelola Barantin," sebutnya.

Khusus suntuk percepatan pembentukan Computer Security Incident Respon Team atau CSIT di Barantin, Hinsa telah menunjuk Direktur Keamanan Siber dan Sandi Pemeritah pusat untuk segera menindaklanjuti dan berkoordinasi dengan direktur terkait di lingkungan Barantin.

Baca juga : LPSK Diakui Mampu Beri Perlindungan Efektif Saksi Dan Korban

CSIT ini berfungsi sebagai tim respon cepat yang dapat mendeteksi, merespon dan memitigasi insiden keamanan siber dengan efektif dan efisien.

"Dengan adanya CSIT, kita dapat lebih proaktif dalam menangani ancaman siber," tambahnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.