Dark/Light Mode

Wawancara Eksklusif Dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

Terbukti Miliki Fondasi Yang Kuat, Indonesia Optimis Ekonomi Ke Depan Akan Terdongkrak

Jumat, 4 Oktober 2024 08:00 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto optimistis, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang dapat meningkat signifikan meskipun situasi global penuh ketidakpastian.

Airlangga percaya, dengan sejumlah terobosan, ekonomi Indonesia dapat terdongkrak lebih tinggi. Meski diakuinya, ada beberapa langkah strategis yang perlu diambil. Yakni menjaga iklim usaha, meningkatkan investasi, serta mempertahankan daya beli kelas menengah. Selain itu, kesolidan dalam menghadapi gejolak ekonomi global juga menjadi kunci.

“Dengan berbagai program yang ada, saya optimis bahwa apa yang direncanakan Pemerintah mendatang, dan dengan fondasi ekonomi yang telah dibangun, pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen bisa dicapai,” kata Airlangga dalam wawancara eksklusif dengan Rakyat Merdeka di Kantor KemenkoPerekonomian, Jakarta, Rabu (2/10/2024).

Dalam wawancara itu, Airlangga didampingi Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto. Sementara dari Rakyat Merdeka hadir CEO Rakyat Merdeka Group Kiki Iswara, Direktur Pemberitaan Ratna Susilowati, Wakil Pemimpin Redaksi Kartika Sari, Pemimpin Redaksi RM Digital Firsty Hestyarini, Kepala Redaktur Eksekutif Sarif Hidayat, Reporter Bambang Trismawan serta fotografer Khairizal Anwar.

Baca juga : Budi Arie Gaet 6 Platform Digital

Dalam wawancara tersebut, Airlangga memaparkan, strategi dan terobosan yang dilakukan Indonesia untuk memulihkan ekonomi pasca-krisis pandemi Covid-19. Ia menjelaskan bahwa setelah pandemi, ekonomi Indonesia berhasil rebound dengan cepat, tumbuh di kisaran 5 persen.

Airlangga juga mengungkapkan berbagai langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Di antaranya meningkatkan investasi dan menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR). ICOR merupakan parameter yang mengukur efisiensi investasi di suatu negara. Semakin kecil angkanya, semakin efisien investasi tersebut dalam menghasilkan output.

Penurunan biaya logistik dan peningkatan produktivitas, menurut Airlangga, menjadi prioritas utama pemerintah untuk menurunkan ICOR. Ia optimistis, jika ICOR berhasil ditekan hingga 5 persen, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6 persen.

“Bahkan, jika ICOR dapat diturunkan hingga 4 persen seperti sebelum krisis ekonomi 1998, pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 8 persen dengan meningkatkan investasi hingga 32 persen,” papar Airlangga.

Baca juga : PAN Berharap Dapat Jatah Kursi Menteri

Berikut wawancara seleng­kapnya:

Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada 2025 dan seterusnya, terobosan apa yang dibutuhkan agar kita bisa mendekati angka 7 persen?

Pertama, kita harus melihat kondisi ekonomi global hingga 2025 yang diperkirakan tumbuh sekitar 3,5 persen. Ini masih di­pengaruhi oleh dampak pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, pertumbuhan ekonomi dunia mencapai sekitar 6 persen, dan pertumbuhan ekonomi China juga berada di atas 6 persen. Namun, sekarang pertumbuhan global menurun, di bawah 4 persen, dan China masih menghadapi masalah di sektor proper­ti yang belum sepenuhnya pulih.

Perekonomian Indonesia saat ini sangat bergantung pada pasar ekspor, salah satunya ke China. Nilai perdagangan kita dengan China mencapai hampir 120 miliar dolar AS.

Baca juga : RK Siap, Pramono Juga Siap

Jadi, untuk bisa tumbuh dengan baik, kondisi global harus mem­baik. Kondisi global saat ini masih penuh ketidakpastian, termasuk situasi di Iran. Kita tidak tahu seberapa besar eskalasi yang akan terjadi, tetapi biasanya keti­ka tensi meningkat, harga minyak dunia akan naik terlebih dahulu.

Mengapa jika harga minyak dunia naik kita terdampak?

Jika harga minyak naik, kita terkena dampaknya karena sub­sidi energi kita sangat besar. Misalnya, saat perang Ukraina meletus, harga komoditas, ter­masuk minyak, melonjak tajam. Saat ini, dunia sudah mulai beradaptasi dengan situasi di Ukraina. Tetapi kita belum bisa memprediksi dampak dari konflik antara Iran dan Israel. Ketika Israel berseteru dengan Palestina dan Lebanon beberapa waktu lalu, pasar sudah mengantisipasi sehingga harga minyak tidak naik signifikan. Namun, situasi ter­baru ini lebih mengkhawatirkan karena melibatkan negara-nega­ra besar dengan sejarah konflik.

Inilah yang perlu kita waspa­dai. Ke depan, yang harus men­jadi prioritas utama adalah menjaga ketahanan energi dan pangan. Kita harus mempersiap­kan diri agar tidak terlambat. Contohnya, beberapa negara seperti India, Vietnam, dan Thai­land melarang ekspor pangan demi melindungi kepentingan dalam negeri. Kita pernah meng­hadapi situasi serupa, sehingga sekarang kita harus memastikan stok pangan kita mencukupi dan siap menghadapi berbagai ske­nario di masa depan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.