Dark/Light Mode

Wawancara Eksklusif Dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

Terbukti Miliki Fondasi Yang Kuat, Indonesia Optimis Ekonomi Ke Depan Akan Terdongkrak

Jumat, 4 Oktober 2024 08:00 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

 Sebelumnya 
Dengan situasi global saat ini, artinya target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang digaungkan oleh pemerintahan mendatang tidak mudah?

Tidak ada yang mudah, teta­pi peluang selalu ada. Dalam kondisi normal, kita harus men­dorong investasi. Kita memi­liki perekonomian senilai Rp 20.000 triliun dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 3.600 triliun. Faktor terbesar dalam pertum­buhan ekonomi kita berasal dari konsumsi dan daya beli, kemu­dian harus ditingkatkan melalui sektor investasi. Tentu saja, iklim investasi harus kondusif.

Secara politik, kita cukup kuat karena mayoritas partai mendu­kung pemerintah, yang menunjukkan stabilitas. Tantangannya adalah menjaga pasar domestik dan meningkatkan produktivitas investasi. Setiap investasi 1 dolar harus menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Dengan berbagai program yang sudah berjalan, saya optimis bahwa ren­cana pemerintah mendatang bisa tercapai, berkat fondasi ekonomi yang sudah dibangun.

Selain itu, apa lagi terobosan yang harus dilakukan?

Baca juga : Budi Arie Gaet 6 Platform Digital

Fondasi infrastruktur yang kita bangun adalah tulang punggung (backbone). Misalnya, kita telah membangun 2.900 kilometer jalan tol, sedangkan pada 2014, kita bahkan belum mencapai 1.000 kilometer. Namun, ini baru tahap awal, masih diperlu­kan pengembangan lebih lanjut (fishbone), yakni jalan-jalan yang menghubungkan ke sentra-sentra produksi, seperti di Sumatera yang harus terkoneksi hingga ke Bengkulu dan sekitarnya.

Jika fishbone ini dibangun, biaya logistik kita akan turun, karena saat ini biaya logistik kita termasuk yang tertinggi di dunia, yaitu 12-14 persen, sementara negara lain di bawah 10 persen. Jika kita mampu menurunkan biaya logistik dan meningkatkan produktivitas, maka pertumbuhan ekonomi akan terdorong.

Misalnya, jika investasi kita mencapai 30 persen dari PDB dengan ICOR (Incremental Capital Output Ratio) sebesar 6, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5 persen. Jika ICOR kita bisa diturunkan menjadi 5, per­tumbuhan otomatis naik menjadi 6 persen. Sebelum krisis 1998, ICOR kita bahkan bisa mencapai 4. Jadi, jika kita bisa menaikkan investasi hingga 32 persen dan menurunkan ICOR, pertumbu­han 8 persen bisa tercapai.

Namun, kita tidak hidup dalam ruang hampa. Ada tantangan geopolitik, geoekonomi, serta perubahan iklim. Baru-baru ini kita mengalami dampak La Nina dan El Nino, yang mengganggu produksi pertanian. Baik banjir maupun kekeringan kita terdam­pak. Jadi, ada banyak faktor yang harus diperhitungkan.

Baca juga : PAN Berharap Dapat Jatah Kursi Menteri

Menghadapi ketidakpastian global, apakah kebijakan Presiden terpilih Prabowo Subianto untuk merangkul semua pihak adalah langkah yang baik?

Dalam kondisi global yang ti­dak menentu, kita harus bersatu. Ketidakpastian di luar negeri sangat tinggi, jadi jika kita di dalam negeri kompak dan solid, saya yakin apa yang kita lakukan akan lebih tepat sasaran. Ketika semua pihak bekerja sama dan bersinergi, kita akan lebih siap menghadapi tantangan eksternal.

Transisi pemerintahan saat ini sangat mulus, hampir tidak ada oposisi. Apakah ini men­jadi kekuatan bagi kita?

Betul, menghadapi krisis mem­butuhkan kesatuan. Sebagai con­toh, saat menghadapi Covid-19, kita beruntung bisa melakukan konsolidasi politik. Di DPR, kita mampu mengeluarkan Peraturan Pengganti Undang-Undang (Perppu) dan melaksanakan kebijakan seperti Undang-Un­dang Cipta Kerja. Banyak hal bisa dilakukan ketika kekuatan kita bersatu. Ini adalah keistime­waan yang tidak dimiliki oleh banyak negara lain. Saat mereka hanya melakukan lockdown dan menunggu nasib, kita mengambil langkah proaktif dengan tetap mengendalikan kebijakan negara.

Baca juga : RK Siap, Pramono Juga Siap

Pendekatan ini memungkinkan kita untuk menyesuaikan pembatasan berdasarkan dina­mika penularan yang kita evaluasi setiap minggu. Negara lain tidak memiliki fleksibilitas ini. Bahkan China, yang paling akhir keluar dari lockdown, tidak mengadopsi model ini. Pengalaman ini menjadi dasar bagi langkah kita ke depan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.