Dark/Light Mode

Kendalikan Perubahan Iklim

Indonesia dan INBAR Sepakat Tingkatkan Produksi Rotan dan Bambu

Rabu, 11 Desember 2019 12:39 WIB
Wamen KLHK Alue Dohong bertemu dengan Direktur Jenderal INBAR (International Bamboo and Rattan Organization) Ali Mchumo di Paviliun Indonesia, COP25 Madrid, Spanyol, kemarin.
Wamen KLHK Alue Dohong bertemu dengan Direktur Jenderal INBAR (International Bamboo and Rattan Organization) Ali Mchumo di Paviliun Indonesia, COP25 Madrid, Spanyol, kemarin.

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia bersama negara-negara selatan siap mengembangkan bambu dan rotan sebagai solusi pengendalian perubahan iklim. Mereka mengharapkan Indonesia bisa menjadi pemimpin dalam pengembangan bambu dan rotan dalam kerja sama selatan.

Hal itu disampaikan Wamen KLHK Alue Dohong usai bertemu dengan Direktur Jenderal INBAR (International Bamboo and Rattan Organization) Ali Mchumo di Paviliun Indonesia, COP25 Madrid, Spanyol.

Diketahui, INBAR adalah organisasi pengembangan multilateral dari 41 negara anggota untuk mempromosikan bambu dan rotan. Tujuannya, untuk pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau.

Alue mengatakan, di negara-negara maju pertumbuhan rotan sudah mengalami penurunan dan hampir punah. Padahal,  rotan dan bambu sangat penting untuk dikembangkan.  

Baca juga : Indonesia dan Norwegia Bahas Dana Lingkungan dan Ibu Kota Baru

Sedangkan di Indonesia, kata Alue rotan masih terus dikembangkan. Indonesia sebagai negara penghasil rotan terbesar di dunia dan juga penghasil bambu yang sangat besar.  

"Komoditas tersebut sangat penting untuk dikembangkan. Bambu bisa menjadi salah satu solusi pengendalian perubahan iklim, tidak hanya menyerap dan menyimpan  karbon, merehabilitasi lahan terdegradasi, tetapi jg dapat diolah menjadi produk yang berkualitas dan berestetika tinggi," ujar Alue.

Sebagaimana diketahui, satu ha tanaman bambu dapat menyerap 50 ton karbon dioksida setara setiap tahunnya.

Sementara Dirjen INBAR, Ali menyatakan,  Indonesia adalah anggota INBAR yang sangat penting. '

Baca juga : Pekan Film Indonesia Hangatkan Belanda

Sebagai Dirjen baru, Ia akan melakukan kerja sama dengan Indonesia, mengingat Indonesia memiliki potensi bambu dan rotan yang sangat potensial.

'Indonesia adalah anggota yang sangat penting dalam KKS, dan Indonesia diharapkan dapat menjadi pemimpin dalam KSS untuk pengembangan bambu dan rotan karena Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar dalam kerangka KSS," ujar Ali. 

Ia mengungkapkan, di banyak negara, rotan mengalami penurunan potensi bahkan sudah punah.Untuk itu diperlukan upaya untuk membangkitkan lagi rotan di negara-negara anggota INBAR.

Ali juga berharap INBAR bisa membuka kantor perwakilan di Indonesia, karena posisi Indonesia yang sangat strategis di  kawasan tersebut.

Baca juga : Kemenkop dan UKM Terus Tingkatkan Kontribusi UMKM Terhadap Ekspor

"INBAR perlu membuka kantor di Indonesia sebagai hub di kawasan Asia Pasifik, karena baru ada satu perwakilan INBAR di Asia yaitu di India," kata Ali.

Menanggapi itu, Wamen Alue akan mempertimbangkan usulan pembukaan kantor INBAR di Indonesia dalam pengembangan rotan dan bambu."Kita akan menganalisis manfaat pengembangan rotan dan bambu di Indonesia," kata Alue lagi

Selain itu tambah Alue, perlu juga dilakukan studi komparasi di China, yang merupakan negara produsen bambu terbesar di dunia sekaligus mengunjungi kantor pusat  INBAR di Beijing. 

Dalam pertemuan tersebut, Wamen didampingi oleh Agus Justianto, Kepala Badan Litbang dan Inovasi dan Ruandha Sugardiman, Direktur Jenderal
Pengendalian Perubahan Iklim. [FIK]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.