Dark/Light Mode

Dipastikan Tito: 99,9% Korban Bencana Sumatera Tinggalkan Tenda Pengungsian

Kamis, 26 Maret 2026 07:30 WIB
Mendagri Tito Karnavian menyampaikan perkembangan penanganan pengungsi pascabencana Sumatera, Rabu (25/3/2026). Foto: UMM/RM.ID
Mendagri Tito Karnavian menyampaikan perkembangan penanganan pengungsi pascabencana Sumatera, Rabu (25/3/2026). Foto: UMM/RM.ID

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melaporkan progres penanganan bencana Sumatera. Sebagai Ketua Satgas, Tito memastikan 99,9 persen korban bencana sudah tinggalkan tenda pengungsian. 

“Bisa dikatakan hampir 100 persen sudah tidak di tenda. Tinggal sekitar 0,008 persen saja, atau 171 orang dari total 2,1 juta pengungsi di awal,” ujar Tito dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (25/3/2026). 

Angka tersebut menunjukkan lonjakan signifikan dibanding fase awal bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025, ketika sekitar 2,1 juta warga terpaksa mengungsi. Bencana yang melanda 52 kabupaten/kota di tiga provinsi itu juga menyebabkan kerugian material ditaksir mencapai Rp 16 triliun hingga Rp 17 triliun. 

Baca juga : Satriwan Salim: Aturan Ini Jangan Hanya Jadi Macan Kertas Saja

Menurut Tito, percepatan penanganan dilakukan melalui berbagai skema bantuan pemerintah.

Mulai dari bantuan perbaikan rumah rusak ringan sebesar Rp 15 juta, rusak sedang Rp 30 juta, hingga pembangunan hunian sementara (huntara), pemberian dana tunggu hunian (DTH), dan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi korban dengan rumah rusak berat. 

Melalui skema tersebut, masyarakat secara bertahap dapat meninggalkan tenda darurat dan kembali menjalani kehidupan yang lebih normal. 

Baca juga : Hetifah Sjaifudian: Pengawasan Tak Bisa Dibebankan Ke Satu Pihak

Meski demikian, pemerintah masih mencatat sejumlah kecil warga yang belum meninggalkan tenda. Di antaranya 26 kepala keluarga di Desa Sekur, Aceh Tamiang, yang belum direlokasi akibat akses jalan terisolasi. Sementara di Bireuen, terdapat 17 kepala keluarga yang memilih bertahan di tenda karena menolak hunian sementara dan meminta langsung dibangunkan hunian tetap. 

Tito menegaskan, pemerintah akan terus menyelesaikan sisa persoalan di lapangan agar seluruh penyintas dapat segera menempati hunian yang aman dan layak. 

“Karakter bencana di tiga provinsi ini cukup kompleks karena tersebar dan sporadis. Berbeda dengan tsunami 2004 yang terpusat di wilayah pesisir,” ujar Tito yang juga menjabat Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera. 

Baca juga : DPR Rela Potong Gaji

Di kesempatan yang sama, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyatakan, saat ini penanganan bencana telah memasuki fase transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan. Pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 36.000 unit hunian tetap melalui kerja sama BNPB dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). 

“Mudah-mudahan masa transisi ini selesai pada 30 Maret 2026. Mulai 1 April kita masuk ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi,” ujar Suharyanto. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.