Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Libur Panjang Picu Kasus Positif Naik
IDI Prihatin 194 Dokter Gugur Karena Covid-19
Rabu, 9 Desember 2020 07:04 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kematian dokter terus meningkat. Data terbaru, 194 dokter meninggal dunia akibat terpapar Covid-19. Libur panjang dianggap sebagai pemicu meningkatnya kasus kematian. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) berharap tak ada libur panjang di bulan Desember.
Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar IDI, Adib Khumaidi mengatakan, jumlah kematian tersebut merupakan data yang tercatat sejak Maret sampai 8 Desember.
“Sebagai laporan, sekarang sudah ada 194 dokter yang meninggal,” kata Adib saat diskusi virtual, kemarin.
Pada November lalu, jumlah kematian dokter mencapai rekor tertingginya, sebanyak 32 kasus.“Yang memprihatinkan bagi kami, 16 dari 32 dokter itu meninggal dalam minggu terakhir, minggu keempat November,” ujarnya.
Adib mengatakan, kenaikan jumlah kematian dokter salah satunya, disebabkan dampak libur panjang akhir Oktober. Mobilitas massa sulit dibatasi, sehingga transmisi virus cepat terjadi.
Satgas Penanganan Covid-19 pun sebelumnya memaparkan libur panjang 28 Oktober-1 November 2020 terjadi peningkatan kasus sebesar 17- 22 persen.
Baca juga : Kasus Positif Naik 6.089, Positivity Rate 21,29 Persen
“Selain long weekend ada peristiwa-peristiwa kerumunan dari Oktober hingga awal November,” jelasnya.
Karena itu, Adib meminta masyarakat disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes). Sebab, dengan mematuhi protokol 3M yang meliputi memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, maka akan membantu menghalangi transmisi virus.
Menurut Adib, bila masyarakat memakai masker maka perlindungan terhadap virus mencapai 85 persen. Bila menjaga jarak mencapai 90 persen, dan apabila mencuci tangan keamanan dari virus mencapai 80 persen.
Soal sebaran wilayah dokter yang meninggal, IDI mencatat Provinsi Jawa Timur menjadi daerah yang menyumbang angka kematian dokter terbanyak, yaitu 40 dokter.
Kemudian DKI Jakarta 31 dokter, Sumatera Utara 24 dokter, Jawa Tengah 18 dokter, Jawa Barat 17 dokter, Sulawesi Selatan 7 dokter, Banten 7 dokter dan Bali 6 dokter.
Lalu, Aceh 6 dokter, Riau 5 dokter, Kalimantan Timur 5 dokter, Yogyakarta 5 dokter, Sumatera Selatan 4 dokter, Kalimantan Selatan 4 dokter, Kepulauan Riau 3 dokter, Sulawesi Utara 3 dokter dan Nusa Tenggara Barat 2 dokter. Kemudian, Sulawesi Tenggara, Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Tengah, Lampung, Maluku Utara dan Papua Barat masing-masing 1 dokter.
Baca juga : Kasus Positif Naik 6.027, Positivity Rate 16,32 Persen
Sebelumnya, Ketua Umum PB IDI Daeng Faqih mendesak pemerintah membatalkan libur dan cuti bersama pada akhir Desember 2020.Sebab, libur panjang berdampak terhadap peningkatan kasus kematian dokter.
Kasus kematian dokter, menurut Daeng, menunjukkan beratnya beban tenaga medis di rumah sakit (RS). Sementara pasien Covid-19 terus berdatangan, sehingga potensi penularan pada tenaga kesehatan (nakes) meningkat.
“Terus terang saja, peristiwa itu semua terjadi karena kasus Covid-19 meningkat setelah libur bersama. Karena libur bersama itu memicu aktivitas kerumunan, sehingga terjadi lonjakan besar. Kami sangat memohon untuk mempertimbangkan kebijakan libur bersama ditiadakan,” jelasnya.
Daeng menyinggung kerugian kehilangan satu dokter. Menurutnya, untuk memproduksi seorang dokter itu tak mudah, karena untuk menjadi dokter dibutuhkan waktu lama.
Belum lagi, untuk menjadi dokter spesialis bisa memerlukan waktu 10-15 tahun dengan biaya yang tidak murah. Daeng mengatakan, kehilangan satu tenaga dokter, itu artinya ada sekitar 5 ribu orang di Indonesia yang terancam tidak mendapatkan perawatan spesialis.
“Saya makin khawatir, semakin banyak dokter yang terinfeksi, semakin banyak yang gugur,” imbuhnya.
Baca juga : Perjuangan Hidup Mati Dokter Bedah Sembuh Dari Covid-19
Sebelumnya, Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhilah juga mengungkapkan, hingga 5 Desember 2020 setidaknya sudah 136 perawat meninggal dunia akibat terpapar Corona.
Dia mengatakan, korban perawat yang meninggal dunia akibat terpapar Covid-19, sebanyak 75 persennya perawat yang bertugas di kamar rawat inap.
Harif menduga, perawat kemungkinan tertular Covid dari pasien sebelum hasil swab pasien keluar dari laboratorium atau dari orang tanpa gejala (OTG). [DIR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya