Dewan Pers

Dark/Light Mode

Vaksin Berkualitas Dapat Dilihat Dari Efikasi Dan Efektivitas

Sabtu, 12 Desember 2020 08:35 WIB
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito. (Foto: Istimewa
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito. (Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengharapkan masyarakat mengetahui jenis vaksin yang berkualitas.  Vaksin harus memenuhi dua faktor, sehingga bisa dinyatakan sebagai penawar Virus Corona.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyatakan, kriteria ideal vaksin berkualitas dapat dilihat dari aspek efikasi dan efektivitasnya. Kedua aspek tersebut memiliki peran untuk mengukur manfaat vaksin dalam mengendalikan Covid-19.

Efikasi, kata dia, adalah besarnya kemampuan vaksin mencegah penyakit dan menekan penularan pada individu di kondisi ideal dan terkontrol.

“Hal ini dapat dilihat dari hasil uji klinis vaksin di laboratorium yang dilakukan kepada populasi dalam jumlah yang terbatas,” kata Wiku di Jakarta, kemarin.

Aspek efektivitas, merupakan kemampuan vaksin mencegah penyakit dan menekan penularan individu, pada lingkup masyarakat yang luas dan beragam. “Dalam hal efektivitas, terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi,” ujarnya.

Berita Terkait : Dubes Lutfi Genjot Kerja Sama RI-AS Di Bidang Jasa Dan Digital

Faktor pertama, kondisi individu penerima vaksin. Hal itu mencakup usia, komorbid alias penyakit penyerta, riwayat infeksi sebelumnya serta jangka waktu sejak vaksinasi dilakukan.

Faktor kedua, karakteristik dari vaksin tersebut. Karakteristik ini mencakup jenis vaksin, active atau inactivated, komposisi vaksin dan cara penyuntikannya.

Ketiga, kecocokan strain pada vaksin, dengan strain pada virus yang beredar di masyarakat.

Untuk mengetahui aspek efektivitas vaksin, maka perlu adanya data surveilans, untuk melihat perkembangan kasus serta memantau dampaknya.

Sementara, data imunisasi untuk melihat cakupan imunisasinya, dan data klinis individu pendukung untuk melihat aspek lain yang mempengaruhi kondisi kesehatan individu.

Berita Terkait : Vaksin Buatan Sinovac Aman, Disimpan Di Envirotainer

Sementara, soal efisiensi vaksin dapat dilihat dari nilai pembelanjaan vaksin. Vaksin dapat mencegah pengeluaran biaya kesehatan lain untuk menangani orang yang sakit akibat penyakit tersebut.

Di samping vaksin, terdapat berbagai pertimbangan lain yang sedang dilakukan pemerintah untuk memastikan tujuan utama yaitu mengakhiri pandemi Covid-19.

Wiku menyebut, beberapa faktor yang sama pentingnya dengan vaksin. Dia mengilustrasikan hal itu dengan menggunakan analogi Swiss Cheese Model.

Analogi Swiss Cheese Model menggambarkan lapisan-lapisan keju yang berlubang, yang mana antara satu lubang dan lainnya saling menutupi pada lapisan keju yang ada di depan atau di belakangnya.

“Perlu kita ingat, bahwa satu upaya pengendalian saja tidak akan efektif jika tidak disertai upaya lain yang menutup kekurangan masing-masing dan saling melengkapi,” tambahnya.

Berita Terkait : Rakyat Diingatkan Tidak Euforia Dan Kendor 3M

Dia mencontohkan penerapan protokol kesehatan 3M yakni memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Atau upaya 3T, yaitu testing (pemeriksaan), tracing (pelacakan) dan treatment
(perawatan).

Jika dalam penerapannya hanya mengindahkan satu aspek saja, maka upaya yang dilakukan menjadi kurang efektif untuk menangani Covid-19.

Karena itu, perlu adanya kerja sama masyarakat untuk bersungguh-sungguh mengendalikan Covid-19. Langkah vaksinasi tingkat nasional harus tetap diikuti kedisiplinan dalam menjalankan kesehatan di setiap kegiatan. [DIR]