Dewan Pers

Dark/Light Mode

Sudah 504 Orang Nakes Meninggal

Senin, 4 Januari 2021 09:42 WIB
Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Adib Khumaidi. (Foto: Istimewa)
Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Adib Khumaidi. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jumlah tenaga kesehatan (nakes) yang meninggal akibat Covid-19 makin banyak. Hingga kini, sudah 504 orang yang gugur. Hal ini menyebabkan Indonesia menduduki peringkat pertama kematian tenaga medis di Asia, dan lima besar di seluruh di dunia.

Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Adib Khumaidi menyebutkan, dari 504 tenaga media yang meninggal, 237 di antaranya dokter, 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, dan 10 tenaga lab medik.

Menurutnya, angka kematian nakes terus bertambah tiap bulannya. Puncaknya, pada Desember 2020, mencapai 52 dokter. “Angka ini naik hingga lima kali lipat dari awal pandemi,” ungkap Adib, melalui keterangan tertulisnya, kemarin.

Kenaikan jumlah kematian tenaga medis dan tenaga kesehatan ini, katanya, merupakan salah satu dampak akumulasi peningkatan aktivitas dan mobilitas yang terjadi belakangan ini. Seperti berlibur, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), dan aktivitas berkumpul bersama teman dan keluarga yang tidak serumah.

Berita Terkait : Yahudisasi Di Yerusalem Meningkat Drastis

Karena itu, Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi itu mengingatkan kepada masyarakat, agar tidak lengah dan abai terhadap protokol kesehatan.

Protokol 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menghidari kerumunan harus tetap dilakukan, meski pemerintah sudah menyiapkan vaksin yang akan diberikan kepada seluruh warganya.

Sebab, kata Adib, vaksin bukan satu-satunya cara melawan Corona. Perubahan perilaku dengan 3M justru lebih ampuh memutus penyebaran virus Covid-19.

Menurut dia, situasi akan bisa menjadi semakin tidak terkendali jika masyarakat tidak membantu dengan meningkatkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Sebab, vaksin dan vaksinasi hanya upaya yang bersifat preventif dan bukan kuratif.

Berita Terkait : Aturan Dadakan Bikin Deg-degan

Meski sudah ada vaksin dan sudah melakukan vaksinasi, jelas Adib, pihaknya mengimbau agar masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat. “Risiko penularan saat ini berada pada titik tertinggi, di mana rasio positif Covid-19 pada angka 29,4 persen,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Adib juga mengingatkan pemerintah dan pengelola fasilitas kesehatan agar memperhatikan ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para tenaga medis dan kesehatan. Selain itu, juga memberikan tes rutin untuk mengetahui status kondisi kesehatan terkini para pekerja medis dan kesehatan.

Perlindungan bagi tenaga medis dan kesehatan, dikatakan Adib, mutlak diperlukan. Karena dalam situasi masyarakat yang abai protokol kesehatan dan seharusnya berada di garda terdepan dalam penanganan pandemi ini.

“Para tenaga medis dan kesehatan kini bukan hanya menjadi garda terdepan, namun juga benteng terakhir,” kata Adib.

Berita Terkait : Bunga Citra Lestari, Kayak Robot Usai Ashraf Meninggal

Sementara Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman Pulungan mengingatkan, pandemi belum akan selesai dalam waktu dekat. Karena itu, dia meminta semua pihak untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Hal ini demi memastikan agar semua orang, terutama anak, tidak tertular penyakit, serta mulai mengajarkan perilaku hidup bersih sehat sejak dini semampu anak.

“Sedapat mungkin tetap di rumah saja dulu. Karena aktivitas di luar rumah tetap memiliki risiko infeksi yang jauh lebih tinggi,” kata Aman. [QAR]