Dewan Pers

Dark/Light Mode

60,4 Persen Pasien Covid Meninggal Berumur 19-59

Jumat, 4 Desember 2020 08:20 WIB
Anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional ITAGI, Soedjatmiko. (Foto: Instagram)
Anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional ITAGI, Soedjatmiko. (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Protokol kesehatan (prokes) dan vaksin menjadi penanganan ampuh bagi Covid-19. Pasalnya, penyakit ini selain mudah menular, juga menimbulkan problem sistematis bagi pasien dengan komorbid.

Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) menyebut, 60,4 persen pasien Covid-19 di rentang umur 19-59 tahun meninggal dunia. Anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional ITAGI Soedjatmiko mengungkapkan, penanganan pandemi yang paling efektif, paling tidak harus meliputi tiga hal.

Pertama, masyarakat harus disiplin menerapkan prokes 3 M (Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak), pelaksanaan 3T (tracing, testing dan treatment) serta vaksinasi dengan cakupan 70 persen.

“Dengan itu, diharapkan penularan Covid-19 akan terhambat. Pandemi melambat dan ekonomi akan meningkat,” kata Soedjatmiko di acara diskusi bertajuk ‘Indonesia Siapkan Vaksin’ yang digelar Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN), kemarin.

Berita Terkait : Petani Sawit Minta Bea Keluar Dinolkan

Menurutnya, penularan Covid-19 tidak pandang bulu. Catatan ITAGI menyebut, 60,4 persen pasien Covid-19 di rentang umur 19-59 tahun meninggal dunia. Mereka pada usia ini aktif di luar rumah dengan berjualan, bermain dan segala aktivitas lainnya.

Soedjatmiko mengakui, pemerintah telah berupaya maksimal dengan melakukan 3T dan mengedukasi masyarakat agar patuh terhadap 3M. Namun, apa daya di lapangan masih banyak yang mengabaikannya.

Alhasil, korban banyak berjatuhan tak hanya pada pasien, tapi juga para dokter. Hingga akhir November, sekitar 160 dokter dan 130 perawat atau paramedis yang berjuang mengobati pasien Covid-19 justru meninggal dunia karena ikut terpapar.

Untuk itu, menurut Soedjatmiko, inisiatif melakukan intervensi kesehatan melalui vaksin pun harus dilakukan secepat mungkin, melihat kondisi pandemi akhir-akhir ini makin sulit dikendalikan tak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain.

Berita Terkait : Peran Generasi Millenial Dalam Menangkal Hoax

“Sejak Mei, China sudah mulai menyiapkan vaksin, WHO (World Health Organization) juga memulai langkah sama di bulan Juni. Sementara, di Amerika dan Eropa juga memulai persiapan kandidat vaksin di bulan Juni-Juli,” jelasnya.

Vaksinasi merupakan langkah yang aman dan umum dilakukan. Indonesia telah melakukan vaksinasi kepada jutaan jiwa sejak 1974 dan terbukti aman. Percepatan penemuan vaksin dengan tetap memperhatikan asas keamanan dan efektivitas sangat diperlukan.

“Perkara vaksin mana yang dipakai itu nanti pemerintah yang menentukan. Tapi salah satu vaksin yang mungkin akan dipakai di Indonesia adalah vaksin Sinovac yang sudah diuji klinis fase III di Bandung,” ujarnya.

Dia berharap, kelak masyarakat mau terlibat aktif dalam imunisasi ketika vaksin sudah siap diedarkan. Survei ITAGI bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan, 64 persen orang Indonesia mau menerima vaksinasi dan 24 persen masih ragu.

Berita Terkait : Biaya Pasien Covid Mahal Banget Lho, Rp 184 Juta...

Soedjatmiko juga berharap, kelompok yang masih ragu-ragu ini nantinya mau turut serta, supaya terlindung dari penularan Covid-19, sakit dan kematian.

Sementara, tenaga kesehatan yang terlibat langsung dalam penanganan pasien Covid-19 yang juga dokter spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Erika Maharani mengaku, dirinya hingga kini masih merasa takut terpapar Covid-19. Namun, keberaniannya tumbuh ketika mulai melihat pasien sembuh. [DIR]