Dark/Light Mode

Masyarakat Cuek

Virus Corona Sudah Dianggap Biasa-biasa Aja

Selasa, 19 Januari 2021 11:25 WIB
Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Harmadi. (Foto: YouTube)
Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Harmadi. (Foto: YouTube)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tingkat kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan (prokes) mulai kendor beberapa bulan ini. Salah satu sebabnya, mereka menganggap Covid-19 biasa saja. Bukan sesuatu yang menakutkan.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Harmadi menuturkan, ketika Covid-19 pertama kali mencuat di Wuhan, Provinsi Hubei, China, masyarakat disuguhi video-video menakutkan dari sana. Narasi-narasi seram menyebar ke mana-mana.

“Orang tahu-tahu bisa meninggal di jalan ketika terkena Covid-19,” ujar Sonny, dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, kemarin.

Video dan narasi menakutkan yang disebut Sonny sebagai komunikasi risiko itu, membuat masyarakat patuh terhadap prokes dan juga mengurangi mobilitasnya.

Berita Terkait : Bu Susi Ngeledek Siapa?

Kemudian, beberapa waktu ke belakang, komunikasi risiko yang dilakukan Pemerintah cenderung mengusung narasi positif. Ini dilakukan agar tak tak terbangun kepanikan di masyarakat.

Meski tujuannya baik, tapi narasi positif itu kini justru meninabobokan masyarakat. Imbasnya, mereka semakin abai mematuhi prokes 3M, menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

“Dulu diumumkan kasus pertama dan kedua (di Indonesia), orang patuh tidak keluar rumah. Tapi begitu pengumuman 14 ribu kasus dalam sehari, orang biasa saja. Ini sebenarnya terkait komunikasi risiko,” urai dosen Universitas Indonesia (UI) ini.

Sejauh ini, tingkat kepatuhan masyarakat di berbagai daerah menurun. Angkanya kurang dari 60 persen. Dari 85 kabupaten/kota di Indonesia, tak sampai 60 persen masyarakatnya patuh menggunakan masker. Terbanyak, di Sumatera dan Papua.

Berita Terkait : Ingat, Prokes 3M Ojo Kendor Yo..!

Begitu pun dengan tingkat kepatuhan menjaga jarak di 87 kabupaten/kota. Juga berada di bawah 60 persen. Terbanyak, lagi-lagi, di Sumatera dan Papua.

Sonny menjelaskan, faktor yang mengakibatkan dua daerah itu masih sulit menerapkan prokes.

Faktor utama, masyarakat di sana senang berkumpul. Faktor lainnya, kekerabatannya cukup tinggi. “Akhirnya, mereka sulit mematuhi protokol kesehatan,” beber Sonny.

Mencoba menyadarkan masyarakat, Satgas merekrut 63 ribu orang duta perubahan perilaku. Para duta ini akan memberikan edukasi terkait pentingnya prokes terhadap masyarakat.

Berita Terkait : Pake Face Shield Tapi Nggak Bermasker, Tak Ada Gunanya

“Mereka akan menjelaskan bahwa vaksinasi dan 3M adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Walaupun sudah vaksinasi, kepatuhan 3M juga tetap penting,” terangnya.

Hal ini penting dilakukan. Sebab, rumah-rumah sakit rujukan Covid-19 kapasitasnya nyaris penuh. Berdasarkan statistik, terbukti, kepatuhan prokes yang naik berdampak pada penurunan kasus Covid-19.

“Kepatuhan protokol kesehatan punya dampak sangat besar terhadap penurunan kasus,” tandas Sonny. [DIR]