Dark/Light Mode

Sejumlah Klub Bubar, Hidupnya Susah

Pak Presiden, Banyak Atlet Kini Terpuruk

Jumat, 5 Februari 2021 07:42 WIB
Menteri Pemuda dan Olahraga,  Zainudin Amali saat menjadi  narasumber dalam  Focus  Group Discussion dengan Rakyat  Merdeka,  Kamis (4/2). (Foto: Youtube)
Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion dengan Rakyat Merdeka, Kamis (4/2). (Foto: Youtube)

 Sebelumnya 
Yang lebih menyedihkan lagi nasib para atlet amatir. Kata dia, para atlet ini harus keluar dari Pelatnas dan Pelatda. Sebab, akomodasi dan uang gaji ikut berhenti.

Di antara seluruh cabang olahraga, sepakbola lah yang paling membuat Politisi Golkar ini dilema. Apalagi, ada survei yang menyebut 70 persen masyarakat Indonesia menyukai sepakbola.

Dari seluruh cabor yang ada, sepakbola yang memiliki euforia paling besar. Saat dirinya berbincang dengan Ketum PSSI, Mochamad Iriawan, terhentinya kompetisi Liga1 dan Liga2, ada perputaran uang sekitar Rp 3 triliun yang hilang.

Baca juga : Keluarga Minta Masiku Jangan Ngumpet Terus

“Sepakbola bukan hanya urusan pemain, klub, tapi ada ribuan orang yang juga tergantung dari kompetisi ini. Para tukang parkir, pedagang gorengan, penjual kaos, dan lainnya,” sebutnya.

Lalu bagaimana sikap Presiden menyikapi hal ini? Soal insentif, dia menyebut yang paling memungkinkan untuk atlet adalah bantuan sosial (bansos). Terkait yang di Pelatnas, negara hadir melalui fasilitas akomodasi. Bagi yang terikat kontrak, negara tidak mampu berbuat banyak. Sebab kegiatan itu dikelola swasta.

“Kalau ada bantuan APBN, harus ada kriterianya. Untuk klub bisa survive, kami mengusulkan ada insentif. Kemudian industri olahraga, tapi sampai sekarang belum. Intinya, Presiden meminta kami memikirkan ini, di samping yang lain itu,” ungkapnya.

Baca juga : Komjen Listyo Sigit Calon Kapolri, Supriansa: Usulan Presiden Pasti Terbaik

Dia juga berupaya menjalankan kembali pelatihan bagi atlet yang akan mengikuti turnamen di ajang internasional, khususnya bagi mereka yang mendapat tiket Olimpiade di Negeri Samurai, tahun ini. Sebab, ketika berdiskusi dengan pimpinan cabor, para pakar, dan pelatih, ketika atlet berhenti latihan 1 bulan, butuh waktu 7 bulan untuk membalikkan kemampuannya.

“Bayangkan kalau Olimpiade Juli-Agustus, tapi sekarang nggak ada latihan, pasti acaranya cuma jalan-jalan ke Tokyo. Karena pas MoU ke cabor soal permohonan bantuan dana, saya bentuk tim review dari akademisi, praktisi, internal kami, KONI juga ada. Kami putuskan bersama soal target dan durasi. Kalau itu oke, baru kita beri bantuan,” pungkasnya.

Amali juga mengungkapkan, sudah berkoordinasi dengan Kapolri, Jenderal Listyo Sigit untuk meminta izin membuka kembali sejumlah kompetisi Liga1 dan Liga 2. “Kami lagi matangkan konsepnya. agar kompesiti tetap jalan tanpa meng abaikan protokol kesehatan,” ujarnya.

Baca juga : Siapa Pun Presidennya, AS Tetap Musuh Korut

Amali sadar saat ini rakyat Indonesia menantikan bergulirnya berbagai kompetisi, terutama sepakbola. Karena rakyat butuh hiburan, butuh tontonan yang dinantinantikan. “Tapi, dari semua itu, bagi saya tetap kesehatan dan keselamatan menjadi faktor utama,” tegasnya, sambil berharap kepada semua pihak untuk tidak melupakan porsi olahraga. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.