Dark/Light Mode

Genjot Buatan Dalam Negeri

Menkes Bangga Lihat Banyak Peneliti Kembangkan Vaksin

Rabu, 14 April 2021 07:29 WIB
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (Foto: Net)
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (Foto: Net)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia dinilai terlambat mengembangkan dan memproduksi massal vaksin Covid-19 buatan dalam negeri. Akibatnya, Indonesia kini agak keteteran setelah India melakukan embargo vaksin AstraZeneca.

Akibat embargo vaksin India, Indonesia terancam kehilangan 10 juta dosis vaksin gratis dari kerja sama multilateral GAVI pada bulan ini. Sementara, Indonesia baru memulai penelitian dan pengembangan vaksin virus Corona.

“Kita walau agak terlambat, ya kita lakukan sekarang. Karena kita sangat membutuhkan vaksin-vaksin asli Indonesia agar bisa mengatasi masalah resiliensi,” ujar Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam diskusi virtual, kemarin.

Meski terlambat, Budi Gunadi mengapresiasi melihat banyak perguruan tinggi dan para ahli di Tanah Air yang ikut mengembangkan vaksin Covid-19.

“Agak terlambat menurut saya, tapi saya bangga,” ucap mantan Direktur PT Inalum (Persero) ini.

Berita Terkait : Terbukti Rendah, Penularan Covid Dari Menyentuh Permukaan

Untuk mendukung segala jenis penelitian dan pengembangan vaksin dalam negeri, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggelontorkan dana Rp 400 miliar.

Jumlah ini memang terbilang kecil jika dibandingkan dengan Amerika Serikat. Pasalnya, di Negeri Paman Sam, dana untuk pengembangan vaksin yang digelontorkan sekitar Rp 14 triliun.

Meski begitu, Budi Gunadi memastikan, pemerintah berkomitmen mewujudkan vaksin asli Indonesia.

Dia menuturkan, dalam setiap penelitian, ada istilah lembah kematian. Istilah itu merujuk pada hasil penelitian yang gagal terealisasi.

“Itu salah satu tugas negara untuk memastikan, menggandeng para peneliti ini melewati lembah kematian itu dengan aman,” ucap Budi Gunadi.

Berita Terkait : Keluarga, Penentu Utama Kesuksesan Vaksinasi Lansia

Mantan Direktur Utama PT Bank Mandiri ini juga meminta dukungan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengawasi sekaligus mengevaluasi seluruh penelitian tentang vaksin maupun obat Covid-19, secara independen.

Segala bentuk penelitian harus tetap berdasarkan kaidah dan etika penelitian. Mulai dari uji praklinik, uji klinis hingga post marketing.

Indonesia saat ini tengah mengembangkan vaksin karya anak bangsa yang dinamai vaksin Merah Putih. Sejauh ini, ada enam institusi atau lembaga yang ikut mengembangkan vaksin tersebut dengan platform yang berbeda.

Yakni Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Untuk Eijkman, vaksin dengan subunit protein rekombinan itu saat ini tengah dalam riset pengembangan dan persiapan uji hewan untuk proof of concept.

Berita Terkait : Menteri Teten Desak Pemda Jeli Kembangkan Produk Lokal

Sementara, vaksin dari Unair yang mengembangkan metode inactivated virus dan Adenovirus masuk tahapan preklinis, persiapan uji klinis dan produksi biji vaksin.

Sedangkan LIPI dengan metode protein rekombinan saat ini dalam proses transfeksi ke dalam sel mamalia dan karakterisasi protein.

Kemudian, ITB dengan metode sub unit protein rekombinan dan Adenovirus vector masuk tahap purifikasi protein subunit dan produksi vektor adenovirus.

Lalu, UI dengan metode pengembangan DNA dan mRNA, telah memasuki riset pengembangan dan persiapan uji hewan.

Sementara yang terakhir, UGM, dengan subunit protein rekombinan memasuki tahapan pengembangan DNA sintetik ke vektor prokariotik dan sel mamalia. [DIR]