Dark/Light Mode

BGS: Pandemi Nggak Bisa Langsung Hilang, Tapi Bisa Dikendalikan

Rabu, 12 Mei 2021 22:02 WIB
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. (Foto: Youtube Pusdalops BNPB)
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. (Foto: Youtube Pusdalops BNPB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan, pandemi Covid-19 tidak bisa langsung dihilangkan begitu saja. Berkaca dari pandemi-pandemi sebelumnya, tidak ada pandemi yang bisa hilang atau selesai dalam waktu singkat.

"Pandemi itu paling cepet dua tahun baru selesai. Ada yang lima tahun, 10 tahun, 30 tahun, bahkan ada yang masih ada sampai sekarang, yaitu polio," ujar Budi dalam rapat koordinasi micro lockdown yang digelar virtual, Selasa (11/5) malam.

Karena itu, target pemerintah dalam mengatasi pandemi adalah mengurangi laju penularan. Dengan begitu fasilitas kesehatan (faskes) atau sistem kesehatan kita bisa menampung dan merawat orang yang tertular.

"Hitung-hitungan untuk Covid-19 ini, dari 100 yang kena, yang butuh rumah sakit 20 persen. Yang 5 persen masuk ICU. Artinya yang 80 persen itu ditaruh di rumah, isolasi mandiri. Dia akan sembuh sendiri. Itu yang masih kita kejar," tutur eks Direktur Utama PT Inalum (Persero) ini.

Budi menyebut, virus Corona tidak separah virus-virus lain seperti HIV penyebab AIDS atau virus MERS yang dulu menyerang Timur Tengah. Fatality rate Covid-19 tidak setinggi dua virus tersebut. "Asal bisa teridentifikasi dan dirawat dengan cepat, Insyallah, sembuh," imbuh Budi.

Berita Terkait : Kasus Turun, Positivity Rate Tinggi, BGS: 3T Nggak Disiplin

Namun virus Corona jadi masalah besar, jika penularannya masif seperti yang terjadi di India. Banyak orang yang seharusnya dirawat tapi tidak dilakukan karena faskes atau rumah sakit di sana penuh.

"Jadi itu tadi, tujuannya mengurangi laju penularan. Jangan sampai orang yang tertular dan butuh dirawat di rumah sakit itu melebihi kapasitas rumah sakit kita," ulangnya.

Untuk mencapai tujuan itu, beberapa upaya harus dilakukan. Salah satunya, vaksinasi. Vaksinasi bisa menghambat laju penularan karena semakin banyak orang yang imunitasnya terbentuk.

"Tapi ada dua lagi yang sangat penting, tapi kadang-kadang suka terlewat. Padahal penting sekali, dan ini harus dijalankan bersama-sama dengan vaksinasi. Malahan harusnya dapat perhatian yang lebih besar dari vaksinasi," beber eks Direktur Utama Bank Mandiri itu.

Dua strategi itu adalah disiplin protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak), serta pelaksanaan 3T alias testing, tracing, dan treatment.

Berita Terkait : Mulai Juni, Vaksinasi Digenjot Sejuta Per Hari

Dalam penerapan protokol kesehatan, Pemerintah Daerah (Pemda) diminta Budi untuk mendisiplinkan masyarakat. Minimal, untuk memakai masker. Protokol kesehatan yang satu ini, katanya, bisa mencegah penularan hingga 95 persen.

"Ini tidak susah sebenernya. Jauh lebih mudah daripada nyuruh orang datang untuk disuntik atau dirawat di rumah sakit. Tapi mendisiplinkan masyarakat memang susah," sesal Budi.

Kemudian, dalam pelaksanaan 3T, Pemerintah Daerah (Pemda) juga mesti disiplin. Jika ada yang terkonfirmasi positif Covid-19, kepala daerah harusnya langsung melacak kontak erat orang tersebut.

World Health Organization (WHO) merekomendasikan penelusuran terhadap 30 kontak erat dalam waktu 72 jam.

"Kalau nggak bisa, 15 kontak erat. Kalau nggak bisa juga, 10. Tapi jangan 1, 2, apalagi nggak dicari. Semua kontak erat itu harus dites. Kalau positif, segera diisolasi. Ini bisa menurunkan laju penularan," imbaunya.

Berita Terkait : Tinjau Tiga Pasar, Anies Pastikan Harga Pangan Stabil dan Prokes Jalan

Budi menyebut, beberapa negara yang tidak menjalankan vaksinasi, sukses mengendalikan atau mengontrol pandemi Covid-19 hanya dengan bekal dua strategi itu. Kehidupan masyarakat di beberapa negara itu kini relatif normal. "Contohnya Australia, dan Korea Selatan," ungkapnya.

Karena itu, Budi sampai mengulang tiga kali imbauan bagi kepala daerah untuk mengedukasi warga agar memakai masker dan mengintensifkan 3T di akhir paparannya. [JAR]