Dewan Pers

Dark/Light Mode

Gerakkan Literasi, Perpusnas Gelar Pameran Lukisan Menjawab Pandemi

Kamis, 20 Mei 2021 14:40 WIB
Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando (kanan). (Foto: Perpusnas)
Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando (kanan). (Foto: Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Karya lukis merupakan salah satu bentuk ekspresi manusia. Seni lukis menjadi bentuk ekspresi jiwa dan emosi dari pelukisnya. Lukisan sebagai bentuk manifestasi seni rupa memiliki fungsi religius, estetis, simbolis, maupun komersial.

Sebagai bentuk hasil budaya, setiap lukisan yang tercipta selalu terselip literasi secara tersirat dan tersurat. Literasi atau kemampuan mengolah pengetahuan untuk kecakapan hidup bisa diperoleh dari mana saja. Termasuk saat pandemi Covid-19.

Kini, pemustaka dan masyarakat bisa menyaksikan 74 lukisan karya Syafruddin Nisyam, Staf Ahli Bidang Reformasi Birokrasi, Sekretariat Kabinet. Lukisan itu menggambar segala keresahan yang diekspresikanyanya lewat torehan kuas di atas kanvas. Pameran bertemakan “Literasi Lukisan Menjawab Pandemi” ini digelar di Ruang Gallery Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Lantai 4, dari 20 Mei  hingga 10 Juni 2021.

Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando begitu antusias dengan karya lukis sebagai media literasi ini. Dalam sambutannya, Syarif Bando menjabarkan bahwa seiring perkembangan zaman, banyak dikenal aliran dalam seni lukis. Seperti aliran naturalis, romantis, surealis, impresionis, abstrak, dan lain-lain.

Berita Terkait : Ngakalin Hasil Tes Covid, Penumpang Pesawat Tujuan China Dipenjara

“Sebagai perwujudan yang mengkomunikasikan pengalaman batin, maka setiap goresan ataupun torehan yang terlukis mampu disajikan secara indah sehingga merangsang timbulnya pengalaman batin pada manusia yang menghayatinya,” kata Syarif dalam talk show sebelum pembukaan pameran, yang diselenggarakan Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca (PAPPBB) Perpusnas, Kamis (20/5).

Talk show ini menghadirkan menghadirkan juga Wakil Sekretaris Kabinet Fadlansyah Lubis, Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian, Staf Khusus Presiden Putri Tanjung, pakar lukisan Imam Ali Wahyudi, dan legiat literasi Lukis Safruddin.

Syarif menambahkan, lukisan diartikan sebagai kekuatan budaya dan peradaban manusia. Sebab, di dalam aktivitas melukis, manusia dilatih untuk selalu jeli, cermat, dan teliti mengamati fenomena alam dan kehidupannya.

“Indonesia memiliki banyak pelukis yang karyanya mendunia. Sebut saja Basuki Abdullah, Raden Saleh, maupun Affandi. Dari imajinasi dan kreativitas mereka, ratusan lukisan berhasil dituangkan ke dalam kanvas,” sambungnya.

Berita Terkait : Ini, 6 Pangkalan Udara Israel Target Serangan Rudal Palestina

Secara khusus, Perpusnas menyimpan 533 koleksi lukisan dan lukisan reproduksi British Library. Lukisan reproduksi berjudul “2 Female Figures Candi Sari” yang dibuat pada Januari 1812, berukuran 41 x 52 cm merupakan salah satu koleksi tertua yang dimiliki Perpusnas. Pemustaka bisa melihatnya di Lantai 16. 

Ia menginformasikan pula jumlah koleksi digital yang terdata dalam website khastara.perpusnas.go.id. Antara lain 1.460 naskah kuno, 227 judul buku langka, 1.548 judul pada koleksi peta, 5.712 judul pada koleksi foto, gambar, dan lukisan, serta 112 judul untuk koleksi majalah dan surat kabar langka. 

“Fasilitas Layanan Perpustakaan Nasional yang berada di Jalan Merdeka Selatan Nomor 11, tidak statis hanya untuk dikunjungi atau aktivitas pemustaka. Ada area pameran, studio musik, teater, teater mini, hingga ruang diskusi yang bisa dimanfaatkan oleh pemustaka,” ajak Syarif.

Dalam sesi yang sama, Syafruddin Nisyam menceritakan bahwa pandemi Corona tak boleh menyurutkan semangat manusia di dunia untuk tertunduk lesu, meratapi nasib. Ini adalah tantangan yang jarang ada, yang sejatinya membuat manusia bisa berkarya dengan banyak cara.

Berita Terkait : Lawan Israel, Ini Permintaan Palestina Ke Indonesia

Ia mencontohkan dirinya yang pada saat melakukan aktivitas WFH, sebagai salah Staf Ahli Bidang Reformasi Birokrasi di Sekretariat Kabinet, tetap melakukan berbagai aktivitas produktif. Termasuk membuat puisi, memelihara anggrek, menulis novel dan buku hingga menghasilkan 74 karya lukis yang dipamerkan ini. “Ini untuk mendorong anak-anak muda serta diri saya untuk ‘Ayo, kita bisa melakukan sesuatu’,” katanya.

Dari ke-74 lukisnya, ia mengambil berbagai tema sosial budaya dan kemasyarakatan yang kurang lebih terjadi dalam situasi pandemi ini. Ada goresan yang menggambarkan kecantikan pemandangan Indonesia, sampai pada peristiwa pilu tenggelamnya KRI Nanggala-402 tak luput dari sapuan kuasnya. "Begitu saya lihat di televisi, dan ada dorongan di perasaan saya, saya tuangkan dalam lukisan,” sambungnya. [USU]