Dark/Light Mode

Waspada Terjadi Lonjakan Usai Libur Lebaran

Jokowi Sindir Kepala Daerah Tak Tahu Data Kasus Corona

Jumat, 21 Mei 2021 06:58 WIB
Presiden Joko Widodo saat memberikan pengarahan kepada Forkopimda Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengenai penanganan pandemi Covid-19 yang digelar di Gedung Daerah Provinsi Kepulauan Riau, Kota Tanjungpinang (Foto: Setpres)
Presiden Joko Widodo saat memberikan pengarahan kepada Forkopimda Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengenai penanganan pandemi Covid-19 yang digelar di Gedung Daerah Provinsi Kepulauan Riau, Kota Tanjungpinang (Foto: Setpres)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi meminta para kepala daerah mengawasi data harian kasus Covid-19 di daerah masing-masing. Ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus.

“Naik  nggak apa-apa, tapi kecil saja. Ini yang kita harapkan. Sebab itu, jaga-jaga, harus terus kita tekan,” tegas Jokowi saat memberi pengarahan kepada Forkopimda se-Provinsi Kepulauan Riau, Kota Tanjungpinang, yang disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, kemarin.

Dengan dinamika data yang selalu terpantau, segenap komponen Pemda dapat bersiaga, menaruh kewaspadaan dan berkonsolidasi untuk menekan laju penularan.

Ditekankan Jokowi, semua kepala daerah harus paham perkembangan kasus Covid di daerahnya masing-masing.

“Kalau saya tanya mestinya semua bupati, wali kota, gubernur, itu tahu posisi di tingkat kabupaten, harus bisa jawab,” tuturnya.

Jokowi mengaku pernah ke suatu daerah yang kepala daerahnya tidak tahu angka kasus Covid di daerahnya.

Berita Terkait : Ke Riau, Jokowi Cek Proyek Tol Plus Kasih Wejangan Covid

“Kalau angka-angka saja tidak tahu bagaimana menyelesaikannya,” seloroh mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Jokowi menyebut, setiap pagi dirinya ‘sarapan’ dengan angka-angka data Covid-19. Semua angka kasus di seluruh daerah dipelajarinya.

“Semua kabupaten ada, semua kota ada, semua provinsi saya punya,” ucapnya.

Jokowi tak asal bicara. Dia kemudian menyajikan sejumlah data secara terperinci dan detail mengenai kondisi yang saat ini terjadi di Kepri.

Dibeberkannya, pada Agustus tahun lalu, kasus aktif di Kepri masih 362. Kemudian, pada Oktober sudah melompat menjadi 1.240.

“Bisa turun di bulan Februari sampai 192. Tapi kelihatannya Bapak/Ibu tidak waspada di sini. Di Februari dan Maret ada kelengahan di situ sehingga April dan Mei sekarang sudah 2.015 kasus. Hati-hati,” wanti-wantinya.

Berita Terkait : Siagakan Fasilitas Kesehatan

Demikian halnya dengan tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Kepri yang masih berada di angka 83 persen. Angka itu di bawah rata-rata kesembuhan nasional sebesar 92 persen.

Jokowi pun meminta semua pihak bergerak bersama untuk meningkatkan rasio kesembuhan pasien tersebut, sehingga dapat mengurangi dan mencegah kematian.

Eks Wali Kota Solo itu juga mengingatkan, pandemi Covid-19 sangat berkaitan dengan kondisi ekonomi. Jika pandemi belum tertangani, mustahil ekonomi pulih dari krisis.

Dalam setahun terakhir, ekonomi Indonesia mengalami krisis akibat pandemi. Pada kuartal II-2020, pertumbuhan ekonomi jatuh di angka minus 5,32 persen. Padahal, pada kuartal pertama ekonomi tumbuh mencapai 5 persen.

Menurut Jokowi, kala itu ekonomi anjlok lantaran masyarakat tak percaya diri melakukan konsumsi atau permintaan (demand).

Jika demand tidak ada, maka produksi terpaksa berhenti. Tidak berproduksinya pabrik, industri, hingga UMKM inilah yang menyebabkan ekonomi jatuh.

Berita Terkait : Kasus Corona Bakal Naik Minggu Depan

Namun demikian, Jokowi mengatakan, perlahan ekonomi Indonesia sudah mulai bangkit. Meski masih kontraksi, pada kuartal III-2020 ekonomi bergerak ke angka yang lebih baik yakni minus 3,49 persen.

Kemudian, pada kuartal IV2020 pertumbuhan ekonomi kembali membaik di angka minus 2,19 persen, dan kuartal I-2021 minus 0,74 persen.

Jokowi menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun ini bisa mencapai angka 7 persen. Karenanya, dia meminta para kepala daerah bekerja keras menangani pandemi. “Bagaimana caranya? Caranya ya Covid-nya selesaikan,” seloroh Jokowi.

Dia meyakini, apabila kasus Covid-19 melandai, masyarakat akan percaya diri melakukan konsumsi. Hal ini menyebabkan adanya peningkatan permintaan. Dengan begitu, ekonomi yang sempat anjlok akan mulai tumbuh dan bangkit kembali.

“Covid-nya beres, orang merasa percaya diri untuk konsumsi, melakukan permintaan, itu yang menyebabkan ekonomi menjadi naik,” tandasnya. [JAR]