Dewan Pers

Dark/Light Mode

Anak Masih Rawan Terpapar Covid-19

Pemerintah Diminta Kaji Lagi Rencana PTM

Minggu, 6 Juni 2021 07:25 WIB
Suasana pembelajaran tatap muka dan online di SDN Pondok Labu 14 Pagi Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (4/6/2021) . (Foto: NG Putu Wahyu Rama/RM)
Suasana pembelajaran tatap muka dan online di SDN Pondok Labu 14 Pagi Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (4/6/2021) . (Foto: NG Putu Wahyu Rama/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pakar kesehatan dan anak meminta pemerintah tidak memaksakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas bagi anak sekolah di tengah pandemi Covid-19. PTM dinilai sulit dilaksanakan. Apalagi, target vaksinasi guru dan tenaga kependidikan belum tercapai.

Ketua Divisi Pulmonologi Intervensional dan Gawat Napas Departemen Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Menaldi Rasmin mengatakan, pelaksanaan PTM terbatas perlu dipertimbangkan kembali.

Berita Terkait : Prokes Harus Diawasi, Jangan Kadang Ketat, Kadang Longgar

“Saat ini kita belum tahu seberapa besar kejadian mutasi varian baru. Ini satu hal yang patut dipertimbangkan saat menginginkan adanya PTM secara terbatas,” kata Menaldi, saat diskusi daring, di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan, jika perkantoran dibuka kembali, hal itu bisa dimaklumi karena terdiri dari orang dewasa yang bisa diatur. Sementara sekolah, sebagian besar adalah anak dan remaja yang waktunya sebagian besar dihabiskan dengan bermain.

Berita Terkait : Tok! Pemerintah Tak Berangkatkan Haji Pada Tahun Ini

Menaldi menambahkan, catatan mengenai Covid-19 pada anak belum terdengar banyak. Angka kesakitan, bahkan kematian, terjadi pada anak yang memiliki penyakit penyerta. “Tapi bisa jadi anaknya tidak sakit begitu terinfeksi Covid-19, tapi membawa penyakit itu atau menjadi carrier dan menularkannya pada orang tua dan guru,” kata guru besar FKUI itu.

Tapi, jika PTM terbatas benar-benar harus dilakukan, maka harus dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Sedangkan, perguruan tinggi juga tidak bisa dilakukan sepenuhnya daring. Mahasiswa FKUI misalnya, lanjut dia, sudah mulai melakukan perkuliahan secara luring.

Berita Terkait : Perang Lawan Covid-19, PM Malaysia Dan Menteri Tidak Terima Gaji 3 Bulan

Di acara yang sama, peneliti FKUI dr Kristiana Siste SpKJ (K) mengatakan, perlu adanya deteksi dini gangguan psikologis saat pelaksanaan PTM terbatas. “Untuk kegiatan luring pada masa pandemi Covid-19, sebanyak satu dari lima orang dewasa mengalami gangguan kecemasan. Termasuk dewasa muda seperti mahasiswa, psikologis terganggu dan itu tercermin pada perilaku sehari-hari,” kata Kristiana.

Begitu juga ketika diharuskan melakukan PTM terbatas atau perkuliahan secara daring, tak jarang mengalami burnout meskipun telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Untuk itu dukungan psikologis harus benar-benar bagus. “Deteksi dini harus dilakukan pada anak sekolah saat mereka melakukan pembelajaran secara luring,” tambah dia.
 Selanjutnya