Dark/Light Mode

Bangkitkan Kejayaan Era 80-an, Kementan Pacu Kembali Bawang Putih Magelang

Selasa, 30 April 2019 11:10 WIB
Direktur Perbenihan Hortikultura Kementan Sukarman bersama rombongan saat panen bawang putih di Magelang, Jawa Tengah, Senin (29/4). (Foto: Dok. Kementan)
Direktur Perbenihan Hortikultura Kementan Sukarman bersama rombongan saat panen bawang putih di Magelang, Jawa Tengah, Senin (29/4). (Foto: Dok. Kementan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wilayah Magelang, Jawa Tengah, menyimpan sejarah panjang kejayaan bawang putih. Era kejayaan tersebut terjadi pada 1980 hingga 1990, meliputi 3 kecamatan di lereng Gunung Sumbing yaitu Kecamatan Kaliangkrik, Kajoran, dan Windusari. 

Luas tanam bawang putih di kawasan tersebut dulunya rata-rata mencapai 1.500 hektare per tahun dengan produksi 9000 ton. Sisa-sisa kejayaan tersebut masih dapat dilihat di Desa Sutopati dan Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran berupa gudang bawang putih. Selain itu, terdapat bangunan rumah mewah dengan atap rumah dicor, berfungsi untuk penjemuran bawang putih. 

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang Tri Agung menyebut, kejayaan bawang putih Magelang mulai meredup setelah 1990-an. "Penyebabnya dari aspek budidaya bawang putih, petani kurang memerhatikan soal konservasi lahan. Tidak ada terasering dan marak terjadi penebangan tanaman tegakan sehingga kesuburan tanah makin menurun. Dampaknya mutu dan produksi tanaman ikut turun," terang Tri.

Keadaan makin diperparah dengan mulai masuknya bawang putih impor ke Indonesia. Produksi bawang lokal kalah bersaing dari sisi harga, ukuran, dan bentuk umbi. 

Berita Terkait : Wacana Pembentukan Pansus Pemilu Prematur dan Tak Relevan

"Sehingga petani mulai enggan menanam karena terus merugi. Biaya produksi tinggi, belum lagi produktivitas yang terus menurun. Perlahan tapi pasti bawang impor kian menggerus pasar produksi bawang putih lokal," imbuh Tri.

Sejak digulirkan program swasembada bawang putih oleh Kementerian Pertanian (Kementan), luas tambah tanam dan luas panen di Magelang kembali bertambah. Menurut data dinas setempat, luas panen bawang putih pada 2016 hanya mencapai 38 hektare dengan produksi hanya 178 ton. Pada 2018, luas tanam melonjak naik hingga 500 hektare lebih.

"Kurun 2017-2019, Kementerian Pertanian menggelontorkan APBN lebih dari Rp 26,6 miliar khusus untuk pengembangan bawang putih di Magelang. Kami optimis kejayaan bawang putih Magelang bisa dibangkitkan kembali baik melalui APBN maupun wajib tanam importir," tukasnya.

Direktur Perbenihan Hortikultura Kementan Sukarman yang mewakili Dirjen Hortikultura saat panen raya bawang putih di lahan kemitraan PT Sentosa Indo Permata dengan Kelompok Tani Sidomulyo 2, Desa Madyogondo, Kecamatan Ngablak, Senin (29/4) mengatakan, potensi lahan di daerah Ngablak masih sangat luas dan potensial ditanam bawang putih.

Berita Terkait : Daerahnya Kebanjiran, Warga Cililitan Ngungsi Ke Pinggir Jalan

"Kami sangat mendukung upaya dinas dan importir yang gencar melakukan ekspansi tanam. Dari yang biasanya hanya di lereng Gunung Sumbing, saat ini telah meluas ke wilayah timur di lereng Gunung Merbabu, Gunung Andong dan Gunung Telomoyo," ujar Sukarman.

Diakui Sukarman, lahan di lokasi ini sangat bagus dan tersedia ribuan hektare. Petaninya juga antusias. Hasil panen bawang putih varietas Lumbu Kuning di kawasan tersebut ternyata juga tidak kalah dibandingkan dengan di wilayah barat yang sudah terlebih dulu ada. "Buktinya hasil panen di Ngablak ubinannya mencapai 12 ton per hektar. Ini luar biasa," tambah Sukarman di hadapan ratusan petani setempat.

Sukarman mengatakan, seluruh hasil panen tahun 2018 akan dijadikan benih untuk musim tanam 2019. "Tentu yang bisa dijadikan benih adalah yang umbinya bagus. Kalau tidak bisa dijadikan benih, bisa dijual sebagai konsumsi," tuturnya.

Hasil panen bawang putih lokal, lanjutnya, akan dikawal oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) menjadi benih bermutu untuk musim tanam berikutnya. "Sampai 2021, Bapak Menteri Pertanian mentargetkan swasembada tercapai. Lebih cepat lebih baik," ujarnya, optimis.

Berita Terkait : PDIP Yakin, 2021 Kita Swasembada Bawang Putih

Penangkar benih Magelang, Fathul Hakim mengaku siap menyerap hasil panen petani untuk diproses menjadi benih di gudang miliknya di Kaliangkrik. Secara umum hasil panen di Ngablak bagus, jenisnya lumbu kuning. 

"Selama kondisi panenan bawangnya bagus, kami siap menyerap. Supaya petani makin semangat tanam. Para penangkar benih Magelang saat ini tak hanya mampu memasok kebutuhan benih untuk petani Magelang, namun juga memasok kebutuhan benih di luar diantaranya ke Palu, Poso, Donggala, Sigi, Agam, Tanah Datar, Lumajang dan Wonosobo," kata Hakim. 

Direktur PT Sentosa Indo Permata Dicky Yongko mengaku senang bermitra dengan petani di Ngablak Magelang untuk merealisasikan kewajiban tanamnya. Sebagai tahap awal pihaknya menanam 20 hektare sebagai syarat pengajuan rekomendasi impor atau RIPH.

"Kami pelaku usaha yang pertama kali masuk Ngablak. Ternyata memang cocok. Sesuai ketentuan, tahap awal kami tanam dulu 20 hektare sebagai syarat pengajuan rekomendasi impor atau RIPH. Luasan tersebut 25 persen dari total kewajiban kami 80 hektar. Komitmen kami akan lunasi tanam di Ngablak ini sesuai ketentuan pemerintah," kata Dicky. [KAL]