Dewan Pers

Dark/Light Mode

Perpusnas Dan Arsip Nasional Perkuat Hubungan Kerja Sama

Kamis, 23 September 2021 17:34 WIB
Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando (kiri) bersama Kepala ANRI Imam Gunarto. (Foto: Dok. Perpusnas)
Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando (kiri) bersama Kepala ANRI Imam Gunarto. (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perpustakaan Nasional (Perpusnas)  memperkuat kolaborasi dan kerja sama dengan Arsip Nasional RI (ANRI), salah satunya dengan rencana membuat akses terintegrasi antara kedua instansi. Wadah terintegrasi ini diharapkan mempermudah masyarakat untuk mengakses arsip dan bahan pustaka dalam waktu bersamaan.

Kepala ANRI Imam Gunarto menyatakan, kolaborasi mesti dilakukan karena kedua instansi layaknya dua mesin pesawat. Dengan kolaborasi ini, Perpusnas dan ANRI dapat berfungsi secara optimal.

Imam juga meminta Perpusnas agar seiring sejalan dalam mengakuisisi arsip dan naskah kuno yang ada di dalam maupun luar negeri. "Naskah kuno sebagai peninggalan budaya harus dijaga dan dilestarikan agar tidak diakui oleh negara lain pada kemudian hari," ucapnya, dalam audiensi dengan Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando, di Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (22/9).

Syarif Bando menyambut baik ajakan ini. Baginya, setiap kementerian/lembaga harus berkolaborasi guna menciptakan terobosan yang lebih baik. “Semua yang disampaikan Pak Imam adalah tugas negara yang harus dicermati dan dibijaksanai,” ungkapnya.

Untuk memudahkan koordinasi, Syarif Bando mengusulkan pembuatan Surat Keputusan (SK) Bersama perihal peningkatan kinerja antara Perpusnas dan ANRI. Hal ini untuk memudahkan masyarakat dalam membedakan tugas dan fungsi Perpusnas maupun ANRI, serta untuk melegitimasi keberadaan negara tanpa dibatasi oleh status kelembagaan.

Dalam waktu dekat, ANRI akan menyelenggarakan Pekan Memori Dunia yang mengangkat tentang Hikayat Aceh. ANRI juga tengah membangun pusat studi kebencanaan di Aceh. Dalam hal ini, arsip Tsunami Aceh yang ditetapkan sebagai salah satu Memory of the World (MoW) akan dijadikan sebagai bahan studi.

Sebagai upaya penguatan MoW tersebut, Imam meminta dukungan langsung ke Perpusnas. Sebelumnya, pihaknya sudah meminta dukungan dari Pemprov Aceh. “Tugas utama ANRI di Aceh adalah membangun pusat studi kebencanaan. Untuk itu kami mohon dukungan, penguatan, dan pengkayaan dari sisi perpustakaan dari Perpusnas,” pinta Imam.

Imam juga meminta Perpusnas melakukan pembinaan ke daerah bersama dengan pihaknya. Hal ini merespons kondisi di daerah, yang ranah perpustakaan dan arsip digabung menjadi satu yakni dinas perpustakaan dan kearsipan daerah.

Baik Perpusnas maupun ANRI sebenarnya sudah memiliki standar kompetensi untuk kepala dinas dan pejabat struktural di dinas perpustakaan dan kearsipan daerah. Namun, tetap diperlukan penyelarasan antara kedua standar kompetensi tersebut. Hasil dari penyelasaran tersebut bisa digunakan sebagai acuan kepala daerah saat melakukan promosi dan penempatan untuk pejabat daerah di bidang perpustakaan dan kearsipan.

“Standar kompetensi ini sangat penting untuk disusun bersama sebagai upaya dalam menjaga kualitas penyelenggaraan perpustakaan dan kearsipan di daerah,” jelas Imam. Kolaborasi antara Perpusnas dan ANRI ini merupakan upaya penguatan jalinan kerja sama dalam nota kesepahaman yang dimulai sejak 2019. [USU]