Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Suasana Ramadan di Indonesia selalu diwarnai dengan toleransi umat lintas agama. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru muncul, melainkan sudah ada sejak dulu. Menjelang akhir Ramadan 1445 Hijriah, keberkahan lailatul qadar semakin terasa memberikan makna mendalam bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang toleran.
Membahas keutamaan Ramadan yang sarat dengan nuansa perdamaian, Dosen Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Suhadi Cholil, menjelaskan bahwa terdapat banyak kejadian yang menggambarkan kuatnya rasa toleransi ketika Ramadan.
“Salah satu contohnya adalah adanya kelompok masyarakat di Kota Solo dan beberapa kota lainnya yang saling rukun. Ketika umat Islam menjalankan puasa Ramadan, umat Kristiani di sana ikut menyiapkan kolak sebagai menu berbuka puasa, dan diantarkan ke banyak rumah umat Islam,” ujar Suhadi, seperti keterangan yang diterima redaksi, Jumat (5/4).
Baca juga : Kemenhub Berikan Mudik Gratis Via Udara Bagi 17 Penyandang Disabilitas
Sebagai seorang akademisi yang juga sering meneliti interaksi umat lintas agama, Suhadi juga menemukan adanya umat Kristiani yang ikut membangunkan tetangganya yang Muslim ketika datang waktu sahur. Fenomena ini banyak ditemukan di Kota Solo.
Ia bercerita, kalau misalnya hidup bertetangga dengan jarak rumah yang cukup dekat, bahkan berdampingan, sudah tidak asing lagi jika dijumpai umat Kristiani yang ikut membangunkan sahur. Bahkan terkadang jika ada rumah yang dianggap belum bangun untuk sahur, maka tetangganya yang Kristiani ini akan ikut mendatangi dan memanggil penghuni rumah sampai mereka bangun dari tidurnya.
Ramadan juga seringkali dirayakan dengan cita rasa budaya yang berbeda, sesuai dengan wilayah umat Islam bertempat. Menurut Suhadi, perbedaan budaya dalam merayakan Ramadan adalah hal yang wajar dan menjadi daya tarik tersendiri ketika mengunjungi negara-negara lain.
Baca juga : Cara Pertamina Ajak UMKM Cari Cuan di Momen Ramadan
Di Indonesia, sudah menjadi kebiasaan, baik instansi pemerintah maupun swasta, mengurangi jam kerja ketika Ramadan dengan maksud menghormati mereka yang berpuasa. Selain itu, pengurangan jam kerja juga memungkinkan orang untuk lebih dekat dengan keluarga dan teman-temannya dengan bisa pulang lebih awal, bahkan sampai mengadakan buka puasa bersama.
“Karena Indonesia merupakan negara multikultural dan banyak agama, buka puasa di Ramadan tidak hanya dilakukan mereka yang beragama Islam, namun juga umat lainnya. Rasa toleransi yang tinggi bisa kita lihat di lingkungan publik, orang-orang yang tidak berpuasa biasanya mencari tempat tersendiri jika ingin menyantap makanan. Jam kerja pun biasanya dikurangi ketika Ramadan,” imbuh Suhadi.
Dirinya juga menceritakan tentang kebiasaan buka puasa di negara Australia. Di sana, orang-orang yang tidak berpuasa malah sengaja diundang untuk mendatangi acara buka puasa bersama di berbagai tempat umum dan pusat kota. Suguhan buka puasa di Australia tidak hanya berisi makanan lokal, namun juga jenis kuliner yang hanya bisa ditemukan di negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam.
Baca juga : Kementan Pantau Stok Telur Dan Daging Ayam Selama Ramadan
Menurutnya, Ramadan yang penuh ampunan ini juga tak bisa dipisahkan dengan keberkahan malam lailatul qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini datang diantara sepuluh malam terakhir Ramadan.
Suhadi mengajak umat Islam untuk memahami esensi dari Ramadan dan malam lailatul qadar. Dia menerangkan, Al-Qur'an diturunkan di Ramadan membawa rahmat yang menyeluruh kepada semua manusia.
Mengakhiri penjelasannya, Suhadi menggarisbawahi besarnya peranan Ramadan yang di dalamnya juga diturunkan Al-Qur'an, terhadap kemajuan peradaban manusia. Menurutnya, Al-Qur'an tidak hanya membahas tentang ibadah semata, namun juga berkontribusi pada emansipasi perempuan dan peningkatan kualitas hidup umat manusia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya