Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ini Kisah Konjen RI Cape Town, Afrika Selatan (4)
Dari Agen Susu Ke Gerbong Filsafat
Jumat, 12 Juli 2024 15:20 WIB
Bagian 8
Gerbong Pancasila
Mas Yon yang penuh idealisme dan pikiran tentang pengabdian akhirnya masuk partai politik, PDI. Dia banyak membaca dan mempelajari buku-buku Bung Karno dan memiliki kemampuan retorika yang bagus.
Di sela-sela waktu menjalankan usaha agen susu, Mas Yon ikut dalam kegiatan-kegiatan kantor Cabang PDI di Malang. Dia bahkan terpilih sebagai Ketua Ranting di Kecamatan Sukun dan sempat menyelenggarakan pertemuan PDI di halaman rumah jalan Perkutut Utara.
Baca juga : Pengalaman Mistis Dan Sepeda Perang Tudi
Pak RW yang berbaju hijau jaman Orba marah dan meneror Mas Yon dengan menghubung-hubungkan dia dengan partai terlarang di Indonesia tahun 1965. Bapaknya juga ditegur agar bisa mengarahkan anaknya ke jalan yang benar. Mas Geng dan Tudi, juga ditegur agar jangan seperti Mas Yon.
Pak RW sebenarnya baik kepada kami. Hanya saja dia kurang senang saat Mas Yon "salah arah". Di kantor RW depan rumah Tudi bersaudara banyak dilakukan berbagai kegiatan termasuk rapat-rapat RW dan Darma Wanita. Di kantor itu juga, pernah terjadi suara orang mengerang kesakitan disiksa karena mencuri sandal. Konon waktu itu tangannya diletakkan di bawah kaki meja dan kemudian mejanya ditindih.
Untuk menangkal sindiran Pak RW, Mas Geng memberi label kamarnya yang terlihat jelas dari depan termasuk dari kantor RW yang berada di depan rumah dengan nama “Gerbong Pancasila”.
Karena terror yang berat Mas Yon jadi stress dan sering sakit-sakitan. Kondisi fisik dan psikisnya drop sampai pernah muntah darah.
Baca juga : Jualan Kacang Hingga Duel Dengan Parad
Tahun 1987, Mas Yon memutuskan merantau ke Jakarta. Kakak beradik itu sangat sedih harus berpisah dengan Mas nya yang banyak berkorban dan memperjuangkan adik-adiknya. “Geng, Tud, titip Agen Susu. Jaga dan rawatlah adik-adik dan bantu Emak Bapak. Teruskan sekolah dan kuliah sampai lulus. Jangan sampai putus cita-cita” Kata Mas Yon.
Mas Geng dan Tudi dan adik-adiknya meneruskan usaha loper susu. Mas Geng yang kuliah di FH Unibraw senang membaca buku-buku filsafat. Kekuatan pemikiran dan kekuatan batin yang disampaikan oleh para filsuf kesohor itu meneguhkan hati dan tekad Mas Geng yang diikuti juga oleh Tudi. Kierkegard, salah satu filsuf menuliskan “As if I were a slave, chained to death and every time the chain rattles the death witters everything.”
Kierkegard menggambarkan betapa batin dia sangat menderita. "Seakan-akan aku seorang budak, terbelenggu oleh kematian dan setiap kali belenggu kematian itu berbunyi, kematian menghancurkan segala-galanya?" Dalam setahun, ayah ibunya meninggal, tahun berikutnya saudara-saudara. Dan dia menjadi sebatang kara.
Mas Geng dan Tudi berpikir mereka masih bersyukur tidak semenderita seperti itu. Mereka masih mempunyai orang tua, saudara-saudara. Itu karunia dan rejeki yang sangat besar. Di sisi lain, mereka belajar dari semangat filsuf Nietze “I teach you the over man” yang artinya aku ajarkan kepadamu jadilah manusia agung- orang dengan jiwa besar - atau pemimpin.
Baca juga : Dua Bersaudara Mengejar Mimpi, Dari Kampung Bebekan Ke Afrika Selatan
Bersambung...
Oleh Tudiono, Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) Cape Town, Afrika Selatan. In Flight Jakarta-Cape Town, Juli 2024.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya