Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Alkisah, ketika banjir bandang yang menerjang dunia telah susut, umat manusia berupaya mendirikan menara terlampau tinggi di Kota Babel. Megaproyek gerbang Ilahi itu dilaksanakan dengan tujuan mencapai surga.
Namun, Tuhan yang introvert menolak kunjungan manusia. Lalu, Ia mengacaukan bahasa-satu mereka. Pembangunan itu mangkrak, sebab kutukan Tuhan membuat mereka berbicara dengan bahasa berbeda-beda. Di titik itulah manusia bermigrasi ke seluruh penjuru Bumi.
Mitos diaspora dan kejamakan bahasa tersebut barangkali menemukan realitasnya pada peristiwa eksodus manusia primordial dari tanah Afrika. Kita boleh menduga, protobahasa yang begitu sederhana telah digunakan sebelum manusia hijrah.
Baca juga : Suarakan Aspirasi Para Janda,Warga Pulo Gadung Dukung Mas Pram-Bang Doel
Sebab, organisasi sosial yang memungkinkan program migrasi itu sukes takkan terjadi tanpa fitur komunikasi memadai seperti bahasa. Tetapi, bahasa juga berkembang karena pola kerja sama manusia yang kian kompleks. (Dan anatomi peranti ucap yang lebih 'canggih' ketimbang spesies lainnya memungkinkan manusia memproduksi serta mengembangkan bahasa secara luwes.)
Kejatuhan Orde Baru adalah keruntuhan Menara Babel. Sentralisasi kekuasaan, bagi Rezim Orde Baru, merupakan kata lain homogenisasi Indonesia. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Nalar penyeragaman ini dipromosikan dengan motif persatuan nasional dan stabilitas politik.
Maka, ekspresi etnis di Indonesia yang multikultural harus ditekan. Salah satu 'korban' homogenisasi budaya tersebut: bahasa daerah. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa kita telah mengerjakan tiga kali rekonstruksi Menara Babel dengan menciptakan bahasa persatuan, baik disengaja atau tidak.
Baca juga : Beringin Target Menang Di 16 Pilkada Jawa Barat
Rekonstruksi pertama berlangsung pada era bahari ketika Nusantara menjadi pusat niaga internasional. Pertemuan orang-orang mancanegara membentuk pijin lingua franca yang dioplos dari berbagai bahasa. Alat komunikasi verbal singkat ini kemudian menjadi kreol yang nantinya disebut bahasa Melayu.
Tapi, kesadaran tentang satu nasion karena efek kolonialisme mendorong bapak-bapak pendiri bangsa memberi jenama baru pada bahasa Melayu: bahasa Indonesia.
Politisasi bahasa Melayu ke bahasa Indonesia menjadi rekonstruksi Menara Babel kedua. Adapun rekonstruksi Menara Babel ketiga ditaja Rezim Orde Baru dengan membekukan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa resmi dan medium komunikasi formal.
Baca juga : Praktisi Hukum Soroti Pedagang Yang Menolak Uang Tunai
Sungguh, bahasa daerah adalah kemestian takdir. Ia kembali diinsyafi para penuturnya pasca-keruntuhan Orde Baru. Kesadaran akan identitas etnis yang telah lama ditekan rezim tangan besi bahkan dialami para seniman sastra dengan menulis, katakanlah, puisi-puisi berbahasa daerah.
Tentu, semuanya tak lagi sama dan tak mungkin sama. Di sini kita melihat kecanggungan bahasa daerah di hadapan bahasa nasional. Sebab, sejak dahulu, pada umumnya, bahasa daerah tak pernah menjadi alat komunikasi tulis.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya