Dark/Light Mode

Berpuisi di Puing-Puing Menara Babel

Kamis, 21 November 2024 14:04 WIB
Royyan Julian. Foto: Istimewa
Royyan Julian. Foto: Istimewa

 Sebelumnya 
Bahasa daerah adalah instrumen komunikasi oral yang kalaupun dipaksa-gunakan sebagai wahana bersastra, akan dilabeli dengan istilah paradoks 'sastra lisan'. Apa yang disebut 'sastra lisan' seperti puisi-puisi lama kini telah masif dialihmediakan ke bentuk tertulis.

Maka, saat gelombang desentralisasi budaya melanda Indonesia, sebagian pesastra berbondong-bondong menulis puisi (dan fiksi) berbahasa daerah. Bahasa daerah yang mulanya diterapkan secara lisan dan pada sastra tradisional, di tangan para pengarang yang terbiasa menulis dengan bahasa Indonesia, kini harus 'dipaksa' berartikulasi dalam genre-genre modern.

Itulah mengapa, menulis karya sastra modern berbahasa daerah kerap dianggap riskan. Kecemasan tersebut berangkat dari dugaan bahwa pengarang yang telah karib dengan bahasa nasional cuma akan menerjemahkan logika bahasa Indonesia ke dalam bahasa daerah.

Baca juga : Suarakan Aspirasi Para Janda,Warga Pulo Gadung Dukung Mas Pram-Bang Doel

Sementara itu, bahasa daerah memang tak pernah menyediakan langgam bahasa tulis, tak seperti bahasa Indonesia, Inggris, atau Arab. Walhasil, karya sastra modern berbahasa daerah dinilai tidak merepresentasikan realitas etnis beserta segala kompleksitasnya. Sebab, bahasa menunjukkan pola pikir, pandangan hidup, dan praktik keseharian masyarakat penuturnya.

Tapi, haruskah karya sastra seratus persen merepresentasikan realitas? Bukankah realitas dalam karya sastra telah mengalami reduksi? Bukankah karya sastra telah mengalami defamiliarisasi dan deotomatisasi? Bahkan, seorang kritikus menganggap bahwa realitas dalam karya seni hanyalah realisme ideologi pengarangnya.

Jika memang puisi (modern) berbahasa daerah tidak sesuai 'langgam' bahasa daerah, bukankah ihwal tersebut justru akan menambah varian bahasa daerah yang bersangkutan? Bahasa daerah dialek tulis, misalnya.

Baca juga : Beringin Target Menang Di 16 Pilkada Jawa Barat

Dengan demikian, menyambut positif bermunculannya sastra modern berbahasa daerah sama artinya dengan membuka kemungkinan estetika baru karya sastra modern berbahasa daerah. Eksplorasi artistik tersebut bisa lahir dari persinggungan bahasa daerah dengan logika bahasa nasional.

Menulis karya sastra dalam bahasa daerah setelah terbiasa dengan nalar bahasa Indonesia memang akan menghadirkan sejumlah tantangan bagi pengarang. Meskipun keduanya merupakan bahasa yang digunakan di wilayah sama, perbedaan struktur, kosakata, dan konteks kultural antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah menciptakan kendala cukup signifikan.

Gramatika dan sintaksis dalam bahasa daerah acap berbeda dengan bahasa Indonesia. Dalam beberapa bahasa daerah, struktur kalimat, urutan kata, atau penggunaan afiks mungkin sangat berbeda. Hal ini berefek pada bagaimana penulis membangun kalimat atau paragraf yang mungkin terasa lebih alami dalam bahasa Indonesia, tapi memerlukan adaptasi dalam bahasa daerah.

Baca juga : Praktisi Hukum Soroti Pedagang Yang Menolak Uang Tunai

Di samping itu, tidak semua kata dalam bahasa Indonesia memiliki padanan langsung dalam bahasa daerah, atau sebaliknya. Penulis barangkali akan sukar mengekspresikan konsep-konsep abstrak, modern, atau spesifik yang lazim dijumpai dalam bahasa Indonesia, tapi tak ada padanan yang tepat dalam bahasa daerah.

Terkadang bahasa daerah memiliki kata-kata lebih kaya untuk pengalaman budaya tertentu, tapi minim untuk konsep modern yang sering digunakan dalam karya sastra kontemporer, sehingga pengarang harus berkreasi atau mengadopsi kosakata serapan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.