Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Moderasi Beragama Antar-Lintas Agama Penting dalam Meredam Ideologi Ekstrem
Rabu, 7 Mei 2025 15:17 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kebijaksanaan untuk perdamaian adalah konsep yang menekankan pentingnya pemahaman, toleransi, dan introspeksi dalam menciptakan harmoni sosial. Kebijaksanaan membangun individu untuk mengatasi perbedaan dengan sikap terbuka, menghindari konflik, dan membangun hubungan yang lebih kuat berdasarkan penghormatan dan empati. Karena itu, moderasi beragama antar lintas agama menjadi sangat penting dalam meredam ideologi ekstrem guna mewujudkan kedamaian.
“Pendekatan ini mengajarkan bahwa perdamaian bukan hanya tentang menghindari konflik, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif untuk hidup berdampingan dengan saling menghormati,” kata Ketua Umum Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), Prof Philip Kuntjoro Widjaja, di Jakarta, Rabu (7/5/2025).
Pernyataan ini diucapkan Prof Philip dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak 2025 yang akan jatuh pada Senin, 12 Mei 2025. Ia mengungkapkan, makna tema Hari Raya Waisak 2025 yang berjudul Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan Mewujudkan Perdamaian Dunia. Menurutnya, tema ini memiliki makna yang sangat mendalam, baik dari sisi spiritual maupun sosial, terutama bagi umat Buddha dan masyarakat Indonesia yang plural.
Baca juga : Lestari Moerdijat: Atasi Tantangan, Identifikasi Permasalahan Perempuan Dengan Tepat
Menurut Philip, pengendalian diri bagaikan seni mengemudi, harus tahu kapan harus menginjak pedal gas, berhenti, berbelok, atau mengerem ketika mengemudi. Begitupun dalam setiap aspek kehidupan, seseorang harus bisa mengontrol diri agar tidak terjerembab dalam keterpurukan.
“Jadi, tidak hanya ngerem saja, tapi kita juga harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi untuk bisa mengendalikan diri,” tuturnya.
Hari Raya Waisak, kata Philip, bukan sekadar perayaan momentum keagamaan, melainkan sebagai refleksi dan internalisasi semangat spiritual menuju pencerahan sejati. Dalam perayaan Waisak, umat Buddha diajak menyelami tiga peristiwa suci yang dialami Sidharta Gautama atau Sang Buddha untuk memperoleh pencerahan dan kedamaian antar makhluk hidup. Hal ini merupakan bagian dari siklus kehidupan, yang mengingatkan untuk senantiasa berbagi dan merawat sesama, terutama dalam isu-isu kemanusiaan dan lingkungan.
Baca juga : Pimpin Delegasi Ke Malaysia, Ibas Tegaskan Pentingnya Perlindungan PMI Dan
Philip menambahkan, ini adalah tantangan besar bagi generasi muda lintas agama untuk berkolaborasi dalam mewujudkan dunia yang lebih baik. Oleh karena itu, moderasi beragama antar lintas agama menjadi sangat penting dalam meredam ideologi ekstreem guna mewujudkan kedamaian.
“Semangat moderasi beragama, yang berada di tengah (moderat), tidak condong ke kanan dan ke kiri, juga harus digelorakan untuk menjunjung tinggi nilai nilai persatuan bangsa,” jelas akademisi yang juga aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan hidup ini.
Dalam sejarah Nusantara, Phillip menyampaikan, agama Buddha pernah menjadi mayoritas dan memiliki kejayaan yang besar di masa kerajaan Majapahit dan Brawijaya di Indonesia. Dia memastikan, saat itu, umat Buddha tidak eksklusif dan intoleran. Sehingga, beragam agama, termasuk Islam masuk ke Indonesia dan bisa hidup berdampingan.
Baca juga : Rosan Pastikan LG Tanam Modal Di Sektor Tambang
Menurut Philip, semua agama mengajarkan kebaikan, sehingga perlu terus didorong adanya ruang dialog lintas agama agar saling memahami dan menghormati satu sama lain. "Yang terpenting bukan agamanya, tetapi bagaimana kita mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang ada dalam agama tersebut, sehingga kita bisa hidup berdampingan," tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya