Dark/Light Mode

Presiden Karzai Layangkan Protes Keras

Rakyat Afghanistan Sedih Duitnya Disunat Joe Biden

Selasa, 15 Februari 2022 08:10 WIB
Warga Afghanistan di Kabul, menggelar unjuk rasa memprotes Presiden AS Joe Biden soal dana cadangan untuk kompensasi korban tragedi 9/11. (Foto: Hussein Malla/Associated Presse).
Warga Afghanistan di Kabul, menggelar unjuk rasa memprotes Presiden AS Joe Biden soal dana cadangan untuk kompensasi korban tragedi 9/11. (Foto: Hussein Malla/Associated Presse).

RM.id  Rakyat Merdeka - Berbagai elemen masyarakat Afghanistan mendesak Amerika Serikat (AS) mengembalikan dana mereka yang disunat Presiden Joe Biden. Ditegaskan mereka, dana tersebut milik rakyat, bukan punya Pemerintahan Taliban.

Presiden AS Joe Biden menekan Instruksi Presiden (Inpres), yang isinya mengizinkan mengambil uang sebesar 3,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 50 triliun) atau separoh dari dana cadangan Afghanistan di Bank Sentral Afghanistan yang selama ini dibekukan. Inpres itu diteken Kamis (10/2) waktu setempat.

Secara keseluruhan, Afghanistan memiliki aset sekitar 9 miliar dolar AS (Rp 128,9 triliun) di luar negeri. Termasuk 7 miliar yang dibekukan di AS. Sisanya, sebagian besar berada di Jerman, Uni Emirat Arab dan Swiss.

Setelah pasukannya ditarik keluar dari Afghanistan pada Agustus 2021, AS membekukan aset tersebut. Langkah ini dipandang sebagai faktor utama yang menyebabkan krisis ekonomi di negara Asia Tengah itu.

Baca juga : Hamid Karzai Ajak Rakyat Afghanistan Ambil Kembali Aset Dari Tangan Asing

Dilansir Voice of America, kemarin, rakyat Afghanistan dan keluarga Korban 9/11 mengutuk keputusan tersebut. Mereka tidak habis pikir pemerintahan Biden bisa berlaku kejam di saat rakyat Afganistan sedang susah.

Seperti diketahui, perekonomian Afghanistan terpuruk setelah Taliban mengambil alih pemerintahan pada pertengahan Agustus 2021, menyusul hengkangnya pasukan AS dan sekutu setelah berperang selama 20 tahun.

Seorang ibu rumah tangga di Afghanistan Muhajira Amanallah mengungkapkan, situasi mereka memburuk selama hampir satu atau dua tahun.

“Sebelum ini, mudah bagi saya mendapatkan roti dan air,” katanya.

Baca juga : Ketua DPRD DKI Sayangkan Pemprov Paksakan Gelar Formula E Di Tengah Pandemi

Dasar keputusan Inpres Biden, yakni Taliban sedang berkuasa di Afghanistan ketika serangan 9/11 dan menolak menyerahkan Osama bin Laden, dalang serangan itu.

Direktur Agenda Kemanusiaan di Pusat Studi Strategis dan Internasional, Jacob Kurtzer, mengatakan, dana itu cadangan rakyat Afghanistan, bukan aset Taliban.

“Membekukan aset itu dan mulai membaginya berdasar perhitungan internal AS, mengirim pesan yang salah kepada rakyat Afghanistan tentang peran Amerika dalam merespons krisis kemanusiaan. Bahkan terhadap krisis ekonomi yang mereka alami,” sambungnya.

Banyak keluarga korban serangan teroris 9/11 di New York, Amerika Serikat pada 11 September 2001 lalu, mendukung dana tersebut untuk membantu rakyat Afghanistan. Brett Eagleson, putra korban 9/11 mengatakan, menyerahkan distribusi dana untuk 9/11 ke pengadilan akan memaksa keluarga untuk saling berselisih.

Baca juga : Presiden Minta Menparekraf Segera Lakukan Rebranding Di Danau Toba

“Itu, tidak benar, dan tidak adil,” cetus Eagleson.

Mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai juga melayang-kan protesnya terhadap kebijakan Biden.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.