Dark/Light Mode

Soal Kepri Bagian Dari Malaysia

Mahathir Kembali Ke Jalan Yang Benar

Sabtu, 25 Juni 2022 07:35 WIB
Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad. (Foto: ANTARA Foto/Ho-WAG Mahathir).
Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad. (Foto: ANTARA Foto/Ho-WAG Mahathir).

RM.id  Rakyat Merdeka - Mahathir Mohamad mengklarifikasi ucapannya soal Malaysia harusnya mencaplok Kepulauan Riau (Kepri). Mantan Perdana Menteri Malaysia itu mengaku tak pernah meminta negaranya mengambil daerah yang saat ini masuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mahathir yang sebelumnya di-bully, kembali dipuji karena dianggap sudah kembali ke jalan yang benar.
 
Pernyataan Mahathir soal Malaysia seharusnya mencaplok Kepri itu, disampaikan saat menjadi pembicara di rangkaian Kongres Survival Melayu, di Selangor, Malaysia, Minggu (19/6). Saat itu, dia menyebut, Kepri dan Singapura awalnya bagian dari Tanah Melayu, yang seharusnya dimiliki Malaysia.
 
Ucapan Mahathir ini mendapat reaksi keras dari Indonesia. Sadar ucapannya menimbulkan polemik, Mahathir pun membuat keterangan tertulis. Politisi berusia 96 tahun itu memastikan, pernyataannya di Kongres Survival Melayu itu, telah disalahartikan.
 
"Laporan tentang yang saya katakan pada pertemuan orang Melayu itu, tidak akurat. Saya tidak meminta Malaysia untuk mengklaim tanah yang telah kami hilangkan," kata Mahathir, Kamis (23/6).
 
Menurut Mahathir, yang dia maksud adalah sangat menyesalkan Malaysia abai dalam menjaga daerah. Wilayah yang banyak menghasilkan kekayaan justru jadi bagian negara lain.
 
"Saya mencoba untuk menunjukkan, kami sangat khawatir kehilangan batu seukuran meja, tetapi tidak pernah tentang bagian yang lebih besar dari Malaysia, ketika mereka diambil dari kami," tambahnya. 
 
Penjelasan itu dimaksudkan untuk menyindir masalah internal Pemerintah Malaysia dengan Kesultanan Johor, yang mengurusi sengketa Batu Puteh, wilayah yang diperebutkan dengan Singapura. Pulau Batu Puteh atau Pedra Branca ditetapkan oleh Mahkamah Internasional (ICJ) sebagai milik Singapura dalam putusan tahun 2008.
 
"Kehilangan Pulau Batu Puteh bukanlah masalah besar. Adalah kesalahan Pemerintah Johor untuk menyangkal bahwa (Pulau) Batu itu milik Johor. Seandainya penolakan itu tidak dilakukan, tidak akan ada perselisihan sekarang," jelas dia. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.