Dark/Light Mode

Quick Count by Litbang Kompas
Anies & Muhaimin
25.23%
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58.47%
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16.30%
Ganjar & Mahfud
Waktu Update 20/02/2024, 00:17 WIB | Data Masuk 100%

AS-RI Diharap Investasi Komunikasi dan Kemitraan Antara Milenial

Kamis, 11 Juli 2019 07:08 WIB
Simposium bertajuk
Simposium bertajuk "Hubungan 70 tahun Indonesia-AS: Sejarah, Kebijakan dan Masa Depan" yang digelar bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington DC, Hudson Institute, dan US Indonesia Society (USINDO) di Washington DC pada 9 Juli 2019. (KBRI Washington)

RM.id  Rakyat Merdeka - Hubungan antar masyarakat, baik yang dilakukan mahasiswa dan pelajar, kunjungan wisatawan maupun masyarakat luas, akan menjadi kunci yang semakin penting bagi kemitraan antara Indonesia dan Amerika Serikat, saat ini maupun di masa yang akan datang.

Hal ini mengemuka dalam simposium sehari bertajuk "Hubungan 70 tahun Indonesia-AS: Sejarah, Kebijakan dan Masa Depan" yang digelar bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington DC, Hudson Institute, dan US Indonesia Society (USINDO) di Washington DC pada 9 Juli 2019. Simposium ini membahas aspek historis, sekaligus tantangan maupun peluang serta proyeksi hubungan Indonesia dan AS di masa depan. 

Menurut Duta Besar (Dubes) RI untuk AS, Mahendra Siregar yang membuka Simposium dan sekaligus menjadi salah satu pembicara utama, kedua negara harus menginvestasikan berbagai upaya untuk mendorong komunikasi dan kemitraan yang lebih aktif antara generasi muda atau kaum milenial yang akan melengkapi dan memperkuat diplomasi tingkat pemerintah.

"Perkembangan dan kemajuan teknologi yang serba cepat dan transparan, membuat komunikasi antar masyarakat kedua negara tidak lagi ada jarak, baik dari perspektif geografis maupun budaya, sehingga menjadi lebih lugas dan produktif," kata Dubes Mahendra dalam keterangan pers kepada RMCO.id.

Baca juga : DPRD Surabaya Lihat Pendidikan dan Pelayanan Digital Finlandia

"Kemitraan  RI dan AS juga senantiasa didasarkan prinsip kesetaraan di semua aspek," imbuhnya.

Hal senada  ditegaskan sejarawan Baskara T Wardaya. Dia mencontohkan betapa kedekatan masyarakat kedua negara sudah terlihat sejak lama. Salah satunya adalah kisah menarik yang jarang diketahui publik, yakni saat Allan Broom Savannah dari Negara Bagian Georgia yang pada Januari 1950 mengirim surat pribadi kepada Presiden Harry Truman agar Pemerintah AS mendukung Indonesia dalam menegakkan kemerdekaan. 

Masih dalam konteks historis, sejarawan dari Ohio State University, Prof. Robert J. McMahon menekankan, simpati publik AS  pada masa-masa awal perjuangan bangsa Indonesia dalam menegakkan kemerdekaan juga selaras dengan kebijakan Pemerintah AS. 

"Saat Belanda, yang nota bene adalah sekutu AS, melakukan aksi militer yang kedua pada tahun 1948 misalnya, AS mengancam tidak akan mengucurkan bantuan Marshall Plan ke Belanda yang perekonomiannya tengah morat-marit, jika Belanda tidak menghentikan aksinya tersebut," tukasnya. 

Baca juga : Program Mekanisasi Pertanian Difokuskan di Daerah Pinggiran

Terkait proyeksi ke depan kerja sama kedua negara, Mark Clark, Acting Deputy Assistant Secretary urusan Asia Pasifik Kementerian Luar Negeri AS menilai, evolusi positif kemitraan Indonesia dan AS menjangkau banyak aspek.

  "Dalam beberapa waktu terakhir, kita melihat pengembangan bidang-bidang baru seperti dialog kerja sama mengenai ruang angkasa, penanganan mitigasi bencana, kesehatan, terorisme, pencurian ikan di laut dan sebagainya," tutur diplomat senior AS yang fasih berbahasa Indonesia ini.

Sementara itu, menurut salah satu panelis, yakni Dubes David Merrill, Ketua USINDO, aspek strategis lain yang perlu didorong adalah kerja sama antar Parlemen, seperti melalui peningkatan frekuensi saling kunjung, diskusi, dan berbagi pengalaman antar anggota legislatif kedua negara. 

Selain Randall G Schriver, Asisten Menteri Pertahanan AS urusan Keamanan Indo-Pasifik, dan Kenneth Weinstein, Ketua Hudson Institute, simposium ini juga dihadiri oleh berbagai kalangan di AS, mulai dari akademisi, think-tanks, diplomat, pebisnis, wartawan hingga LSM. Sejumlah mantan Dubes AS untuk Indonesia juga tampak hadir.

Baca juga : Lebaran, Transaksi Elektronik Mandiri Syariah Melesat

Simposium  ini digelar dalam rangka merayakan 70 tahun hubungan bilateral  RI-AS yang dimulai pada Desember 1949. [MEL]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.