Dewan Pers

Dark/Light Mode

Ahli Sejarah Bongkar Kekerasan Terhadap Etnis Uighur

Kamis, 4 Agustus 2022 09:59 WIB
Aksi mendukung muslim Uighur, China. (Foto: Reuters)
Aksi mendukung muslim Uighur, China. (Foto: Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Otoritas Amerika Serikat (AS) terus memberikan perhatian khusus terhadap tindakan China kepada muslim Uighur. AS dan negara sekutu menyebut tindakan kekerasan China terhadap Uighur merupakan aksi genosida telah berlangsung lama.

AS mengklaim, beberapa kali kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Xinjiang, kampung muslim Uighur, hanya untuk memprovokasi masyarakat. Bahkan, dalam lawatannya ini, Jinping sempat menyiratkan pesan bahwa Xinjiang adalah teritorial China sepenuhnya.

Hal ini menguatkan dugaan informasi yang menyebut China telah menahan sedikitnya 1,8 juta orang Uighur dan minoritas muslim Turki lainnya di kamp-kamp interniran, sejak 2017.

Kepada Radio Free Asia (RFA), Seorang peneliti dari Victims of Communism Memorial Foundation yang berbasis di Washington DC, Andrian Zenz mengatakan, pernyataan Jinping merupakan penegasan untuk meruntuhkan Uighur.

"Ini adalah pernyataan pembangkangan dan kebanggaan. Pada dasarnya, Xi Jinping memberi isyarat bahwa tidak ada yang bisa ikut campur dalam kebijakan etnis China di Xinjiang, dan bahwa garis merah Beijing ditegakkan dengan kuat," kata Zenz kepada RFA, dikutip Kamis (4/7).

Sementara itu, media internasional lainnya melaporkan, China telah meminta Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet untuk mengubur laporan kekerasan masyarakat Xinjiang ke Uighur. Karena laporan tersebut dianggap tidak benar.

Berita Terkait : DPR Perjuangkan Puluhan Desa Perbatasan Belum Teraliri Listrik

Peneliti sejarah dari Universitas Georgetown, James Millward menyatakan, Jinping kerap menyinggung keberadaan muslim Uighur di Xinjiang. Hal itu menyusul pernyataan Jinping tentang peradaban China.

"Semua kelompok etnis di Xinjiang adalah anggota keluarga yang terkait dengan garis keturunan Tiongkok," cuit Millward.

Narasi ini, imbuh dia, secara tidak langsung menyiratkan hubungan genetik antara orang-orang Asia Tengah yang sekarang diperintah oleh Partai Komunis Tiongkok dan Zhonghua, yaitu orang-orang Tiongkok.

"Ke mana para pemuda Uighur pergi? Yang benar adalah sebagian besar pria muda Uighur telah menghadapi penghilangan paksa. Mereka berada di kamp atau penjara. Ini cukup jelas," tukas dia.

Lebih lanjut, Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan kepada RFA, AS akan terus bekerja untuk mempromosikan akuntabilitas penggunaan kerja paksa oleh pemerintah China, serta dugaan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang sedang berlangsung terhadap Uighur dan anggota kelompok etnis. Pun, agama minoritas lainnya di Xinjiang.

 

Sementara, Analis China Ma Ju mengatakan Jinping pergi ke Xinjiang untuk Kongres ke-20 Partai Komunis China (PKC) pada musim gugur. Di mana Jinping kemungkinan akan diangkat kembali untuk masa jabatan ketiga sebagai sekretaris jenderal partai dalam kongres rakyat.

Berita Terkait : Kudatuli, Sejarah Politik Yang Menggembleng Puan Maharani

"Pernyataan Xi Jinping yang dibuat setelah kunjungannya ke wilayah tersebut menunjukkan dia akan membasmi beberapa tokoh budaya yang tersisa dan berhati-hati setelah menyingkirkan elit Uighur," tegas Ma kepada RFA.

Sementara, Direktur Kongres Uighur Dunia di Inggris, Rahima Mahmut menyebut acara-acara seperti tarian panggung Uighur yang digelar selama kunjungan Jinping, diatur untuk tujuan propaganda.

"Ini cukup sering terjadi. Hal yang sama tidak hanya untuk pejabat dari pemerintah pusat, tetapi juga untuk pejabat daerah. Para mahasiswa dan artis Uighur dipaksa untuk menyambut pejabat tersebut," imbuh Mahmut.

Mahmut memastikan tarian Uighur yang dipentaskan dimaksudkan untuk menunjukkan kepada dunia, orang Uighur menikmati kehidupan bahagia yang normal.

Akan tetapi menurut Mahmut, ada hal yang aneh dan menakutkan saat melihat foto dan video Jinping dengan mayoritas orang Uighur lanjut usia di sekitarnya, karena para pemuda etnis minoritas ini tidak terlihat.

Menanggapi hal ini, Center for Indonesian Domestic and Foreign Policy Studies (CENTRIS) menilai kegiatan apapun yang dilakukan oleh pemerintah China khususnya Presiden Jinping kepada muslim Uighur, sudah pasti memiliki maksud dan tujuan tertentu.

Berita Terkait : Publik Masih Percayai Kinerja Polri Bongkar Kasus Brigadir J

Yakni mengubah pandangan dunia terhadap Tiongkok Peneliti CENTRIS, AB solisa mengatakan bahwasannya China tidak akan mampu mengubah persepsi negara-negara dunia atas kekejian mereka terhadap muslim Uighur dan etnis minoritas di negara tersebut.

"Ibarat bau bangkai, kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan China sudah tercium kemana mana, sehingga sulit bagi Beijing untuk menutup nutupi atau menghilangkan tindakan keji mereka terhadap muslim Uighur," sebut AB.

"Negara-negara dunia khususnya Indonesia seyogyanya tidak termakan langkah gencar propaganda China, untuk mengubur kejahatan kemanusiaan yang mereka lakukan terhadap muslim Uighur," sarannya. ■