Dark/Light Mode

Temuan Badan Keamanan Transportasi Nasional AS

Lebih Banyak Orang Tewas Gara-gara Lakalantas Daripada PD II

Senin, 22 Juli 2019 21:52 WIB
Insiden kecelakaan di jalan tol Texas pada Juni lalu.(Foto AP/Rita Leith)
Insiden kecelakaan di jalan tol Texas pada Juni lalu.(Foto AP/Rita Leith)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejak Januari 2000, jumlah korban kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di Amerika Serikat jauh lebih banyak dari pada korban Perang Dunia II (PD II). Bahkan juga lebih banyak daripada pemake heroin.

"Kenapa tidak ada yang protes? Harusnya warga marah dan protes dengan fakta ini," ujar Kepala Badan Keamanan Transportasi Nasional (NTSB) Robert L Sumwalt.

NTSB mengatakan 94 persen penyebab kecelakaan adalah kesalahan manusia karena lalai, ngebut dan mabuk. Berdasarkan catatan NTSB) pada 2006-2015 ada 190.455 kematian yang disebabkan lakalantas angka ini lebih banyak daripada korban tewas akibat overdosis heroin di waktu yang sama. Membunuh hampir 100 ribu orang.

Untuk angka lakalantas sejak Januari 2000, NTSB mencatat lebih dari 624 ribu orang tewas  kecelakaan. 30 juta lainnya korban cacat akibat lakalantas. Sedangkan korban lakalantas ini jauh lebih tinggi dari jumlah  korban tewas di prajurit AS PDI dan PD II hanya mencapai 535 ribu orang.

Baca juga : Sulawesi Dan Kalimantan Dihantam Banjir, Telkomsel Jaga Kualitas Jaringan

NTSB menyebut meningkatnya angka kepemilikan kendaraan bermotor juga berperan pada peningkatan angka korban lakalantas. Ada 197 ribu orang tewas dalam insiden kebut-kebutan sejak 2000. 78 ribu orang tewas tewas hanya karena lengah saat mengemudi.

10 tahun terakhir, lebih dari 49 ribu pejalan kaki tewas karena kelalaian pengendara mobil atau motor. Asosiasi Kesehatan Publik Amerika (NHTSA) mencatat ada 481 ribu lakalantas disebabkan pengemudi yang sibuk dengan ponsel. Sayangnya

"Sayangnya kebanyakan pengendara kita menganggap kecelakaan ini hanya akan terjadi pada orang lain, bukan pada mereka," ujar staf Dewan Keamanan Nasional Maureen Vogel.

Meski peraturan diwajibkan pemakaian sabuk pengaman sudah diterapkan sejak 1968, masih tetap saja ada 89 persen korban tewas dalam lakalantas walau mereka tetap mengenakan sabuk pengaman. 220 ribu pengendara bersabuk pengaman tewas sejak 2000.

Baca juga : Semangat Eksplorasi PT Saka Energi Indonesia

Sejak ponsel mulai menjamur, angka lakalantas juga ikut naik. 800 korban tewas akibat lakalantas terkait ponsel pada 2017. Kebanyakan korban sedang menelpon, membalas pesan atau berfoto dan membuat video selagi mengemudi.

"Meski banyak yang menyadari bahayanya berkendara sambil menggunakan ponsel, mereka tetap melakulan kegiatan mengganggu ini," ujar Jake Nelson dari layanan bantuan keamanan berkendara.

"Multi-tasking tidak pernah baik. Melakukan dua hal sekaligus hanya membuat kalian bodoh dan berbahaya," sambung Wakil Ketua NTSB Brice Landsberg.

Diperkirakan, pengemudi yang ngobrol lewat ponsel selagi berkendara lima kali lebih mungkin terlibat lakalantas. Sementara mereka yang membalas pesan selagi berkendara delapan kali lebih mungkin mengalami kecelakaan. Selain bermain ponsel, mengantuk juga menjadi salah satu penyebab lakalantas. Leboh dari 10 ribu orang tewas akibat mengantuk.

Baca juga : Bina Anak Jalanan Jakarta, Suster Inoue Sabet “The Social Contributors Award”

"Banyak pengemudi yang menjalankan kendaraan mereka saat mengantuk. Mereka tidak sadar mereka mengantuk. Yang mereka tahu, mereka sudah celaka," ujar juru bicara NTSB Christopher O'Neil.

AAA Foundation, layanan keselamatan berkendara AS menemukan 21 persen lakalantas disebabkan pengemudi yang mengantuk. Pengemudi yang hanya tidur kurang dari empat jam sehari 12 kali lebih besar beresiko mengalami lakalantas. Ngebut juga penyebab lakalantas. 37 ribu lakalantas sepanjang 25 tahun terakhir akibat pengendara yang ngebut.

Sejak 1974, batas atas kecepatan berkendara di AS naik dari 88 kilometer perjam menjadi 113 kilometer perjam. Enam negara bagian bahkan mengizinkan hingga 129 kilometer perjam. Sementara di Texas, ada sejumlah jalan yang mengizinkan pengemudi berkendara hingga 137 kilometer perjam. NTSB mengatakan kemungkinan ada lebih dari 1.900 orang masih hidup jika batas kecepatan berkendara tidak setinggi sekarang. Wakil kepala NHTSA Heidi King meminta pengemudi untuk lebih berhati-hati saat berkendara.[DAY]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.