Dark/Light Mode

Raih Australia Award Literasi Media dan Digital

25 Pemuda Dua Pekan Belajar di Brisbane dan Sydney

Rabu, 7 Agustus 2019 08:41 WIB
Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia Allaster Cox
Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia Allaster Cox

RM.id  Rakyat Merdeka - Sekitar 25 orang dari berbagai latar belakang dan profesi menerima beasiswa, Australia Awards Democratic Digital And Media Literacy Short Course 2019. Di antaranya jurnalis, dosen, tokoh muda hingga pihak pembuat keputusan.

Dalam program tersebut, mereka berkesempatan bertemu dan mengembangkan kerja sama dengan lembaga pemerintah Australia, di antaranya unit kejahatan siber di kepolisian, ABC Digital, Go Digi Partners, Google HQ, Facebook, dan WhatsApp.

Baca juga : Salah : Insya Allah Kami Belajar dari Kesalahan

Kursus singkat itu akan digelar di Brisbane dan Sydney selama dua pekan. Tepatnya, pada 23 September hingga 4 Oktober. Namun keberangkatan peserta diawali dengan tiga hari pre-course workshop. Selanjutnya, setelah balik, mereka mengikuti tiga hari post-course.

"Saya mengucapkan selamat kepada seluruh penerima beasiswa. Semoga program selama dua minggu di Australia bisa menjadi pengalaman dan pelajaran yang baik bagi semuanya," ujar Wakil Dubes Australia untuk Indonesia Allaster Cox di Jakarta, Selasa malam (6/8).

Baca juga : Petemuan Kementerian Pemuda Dunia Hasilkan Deklarasi Lisboa +21

Dia berharap, dengan beasiswa ini, peserta dapat memajukan literasi informasi serta peran pemerintah dan pemimpin komunitas dalam melindungi prinsip-prinsip demokrasi. Yang tentunya dapat mempromosikan pluralisme nilai toleransi.

Dalam proses pemilihan, pendaftar beasiswa diminta untuk menulis sejumlah program yang nantinya akan mereka terapkan di dunia kerja atau kegiatan masing-masing peserta. "Rencananya  saya akan mengadakan mata kuliah literasi digital dan membuat alat ukur kecerdasan digitalliterasi media," kata Alimatul Qibtiyah, pengajar UIN Yogyakarta kepada RMCO.id.

Baca juga : International LCC Terminal 2F Dorong Pertumbuhan Pasar LCC di Bandara Soetta

Sedangkan Giri Lumakto dari Mafindo atau (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) Solo menyebut, akan lebih fokus kepada pelatihan untuk warga pedesaan dalam merespons informasi. Target usia peserta 35-40. Tapi tidak menutup kemungkinan usia yang lebih muda.

"Pada pelatihan ini saya fokus pada penyadaran dan pelatihan cek fakta hoaks atau tidaknya suatu informasi," pungkas Giri yang hadir di Jakarta mengikuti program tiga hari sebelum terbang ke Negeri Kanguru itu. [MEL]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.