Dark/Light Mode

Tulisan Lyudmila Georgievna Vorobieva, Duta Besar Rusia Untuk Indonesia

Satu Tahun Operasi Militer Khusus Rusia Di Ukraina

Sabtu, 25 Februari 2023 04:30 WIB
Dubes Lyudmila Vorobieva. (Foto Khairizal Anwar)
Dubes Lyudmila Vorobieva. (Foto Khairizal Anwar)

 Sebelumnya 
Pada 25 Januari 2023, Amerika Serikat dan Jerman memutuskan untuk mengirim pasokan ke Ukraina berupa tank produksi mereka sendiri guna membentuk beberapa batalion. Hal tersebut juga diumumkan di London dan beberapa ibu kota Eropa lainnya. Kiev juga tidak menutupi bahwa agar dapat “menang dari Rusia di medan pertempuran” mereka membutuhkan senjata berat dan senjata penyerang modern.

Tidak seorang pun di Ukraina atau di Barat berbicara tentang suatu operasi pertahanan. Rezim Kiev bahkan sudah memohon untuk mendapat pasokan pesawat.

Baca juga : Utusan Khusus Australia Bidik Penguatan Kerja Sama Ekonomi

Pelatihan personel militer Ukraina juga terus berlanjut. Pada 2022, sekitar 10.000 tentara Ukraina telah mengikuti pelatihan di Inggris. Seperti yang telah dikonfirmasi di Kiev, pada 2022, Polandia, Republik Ceko, Slowakia, AS, dan Jerman telah melatih lebih dari 20 ribu tentara.

Saat ini, program-program dimaksud sedang dilaksanakan di pangkalan militer di Polandia. Saat ini, program pelatihan tersebut sedang dilaksanakan di pangkalan militer Polandia dan Jerman sebagai perwujudan pelaksanaan misi pemberian dukungan militer ke Ukraina, yang telah mendapatkan persetujuan dari Dewan Uni Eropa pada 14 November 2022.

Baca juga : Dubes Djauhari Resmikan Indonesia Experience Center Di Shanghai

Dengan pernyataan lantang tentang berperang “hingga orang Ukraina terakhir”, rezim Kiev menyembunyikan kebenaran pahit: akibat serangan artileri di wilayah Republik Rakyat Donetsk dan Lugansk (DPR dan LPR). Serta wilayah yang dibebaskan di Kherson dan Zaporozhye Oblast, pada 2022, memakan korban jiwa 4.574 warga sipil, termasuk 153 anak, beberapa ribu orang, sementara 279 anak terluka. Tercatat sekitar 100 kasus ledakan dengan korban warga sipil, termasuk di antaranya empat orang anak akibat ranjau anti-tank PFM-1 “Kelopak”.

Selama sembilan tahun terakhir, setidaknya 50.000 fasilitas infrastruktur sipil telah dihancurkan atau dirusak di Donbass. Bersamaan dengan hal tersebut, neo-Nazi Ukraina menggunakan taktik “terorisme militer”: mereka menggunakan penduduk sipil sebagai tameng atau “perisai manusia”, menanam ranjau-ranjau anti-tank di kota dari jarak jauh, menembaki daerah permukiman dengan artileri NATO berkaliber besar dan MLRS, menempatkan persenjataan di taman kanak-kanak, sekolah, rumah sakit, gereja, rumah tinggal dan industri bahan kimia berbahaya, menghalang-halangi pelaksanaan evakuasi penduduk sipil, melanggar norma hukum humaniter internasional, melakukan kekejaman terhadap tawanan perang Rusia.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.