Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Mahathir: Begitu Saya Mundur, Orang Melayu Di Malaysia Kehilangan Segalanya
Selasa, 28 Maret 2023 10:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengklaim, orang Melayu di negaranya telah kehilangan segala-galanya, setelah dia mundur dari jabatan puncak pada Februari 2020.
“Itu benar. Orang Melayu menjadi sangat miskin, setelah saya tak lagi menjabat Perdana Menteri,” tulis Mahathir via Facebook, Senin (27/3).
Politisi berusia 97 tahun itu mengaku telah berupaya memperbaiki nasib orang Melayu di Malaysia, ketika dia menjabat Perdana Menteri untuk kedua kalinya, setelah Pemilu ke-14 pada Mei 2018.
Namun, upaya tersebut kandas setelah pemerintahan Pakatan Harapan (PH) digulingkan, dan Mahathir kehilangan posisinya sebagai Perdana Menteri.
Peristiwa ini terjadi setelah Gerakan Sheraton, manuver politik yang membuat Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) meninggalkan Pakatan Harapan pada Februari 2020. Hingga koalisi tersebut digulingkan dari pemerintah federal.
"Itulah mengapa, saya mengeluh sekarang,” kata Mahathir.
Postingan ini ditujukan untuk membantah tuduhan Perdana Menteri Malaysia saat ini, Anwar Ibrahim.
Baca juga : DMI Maluku Utara Dorong Segarakan Muktamar VIII
Awal bulan ini, Anwar diyakini telah mengkritik beberapa mantan pemimpin Malaysia, dalam kongres khusus nasional Partai Keadilan Rakyat (PKR) yang digelar di Shah Alam.
Tanpa menyebut nama, Anwar menyinggung bahwa seorang mantan pemimpin - dalam dua masa jabatannya sebagai perdana menteri selama 22 tahun dan 22 bulan - telah menggunakan posisinya untuk memperkaya diri sendiri, keluarga dan anak-anaknya.
Mahathir adalah Perdana Menteri Malaysia yang menjabat sejak Juli 1981 hingga Oktober 2003. Kemudian lanjut lagi pada Mei 2018 hingga Februari 2020.
Dalam pidatonya, Anwar mengatakan, mantan pemimpin Malaysia itu mengeluhkan orang Melayu yang kehilangan dominasinya, setelah dia tak lagi berkuasa.
Terkait hal tersebut, Mahathir menuntut Anwar memberikan bukti atas tuduhannya.
“Membuat tuduhan itu mudah. Namun, tuduhan yang tidak terbukti secara jelas, tidak dapat diterima kebenarannya. Itu fitnah,” ujarnya.
Mahathir menuduh pemerintahan Anwar menolak konstitusi negara, setelah pertemuan pro-Melayu dibatalkan.
Baca juga : Ribuan Orang Mati Masih Terdaftar Sebagai Pemilih
Pertemuan yang membahas hak-hak Melayu telah dijadwalkan di Kuala Lumpur pada 19 Maret lalu, dan mengagendakan Mahathir sebagai tamu kehormatan.
Namun, acara tersebut dibatalkan, setelah dua tempat menarik izin mereka untuk acara tersebut.
Mahathir menyebut, acara yang direncanakan telah sesuai dengan ketentuan konstitusi negara dan Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO).
Menurutnya, menghalangi acara tersebut, sama saja dengan menolak konstitusi negara dan UMNO. Karena itu, perlu diadakan faksi-faksi lain untuk melindungi hak-hak orang Melayu dan Bumiputera lainnya.
“Orang Melayu harus lebih peduli dengan pemerintahan yang dipimpin Anwar Ibrahim,” cetus Mahathir, seperti dilansir Channel News Asia.
"Pemerintahan saat ini adalah bentuk kediktatoran, yang tidak memungkinkan orang untuk menyuarakan pendapat mereka atau mengkritiknya," imbuhnya.
Free Malaysia Today menyebut, Mahathir tak punya bukti soal ini. Namun, dia meyakini, Anwar adalah dalang di balik pembatalan ini.
Baca juga : KPK: Percaya Nggak? Ya Nggak!
"Hal seperti itu tak mungkin dilakukan, tanpa persetujuan atau arahannya," ucap Mahathir.
Sebelum pembatalan acara, Anwar telah memerintahkan aparat keamanan untuk mewaspadai orang-orang yang mengobarkan api ras dan agama di negara tersebut.
“Kami tidak akan mengizinkan setiap upaya oleh siapa pun, yang coba-coba memanaskan suhu rasial atau agama di negara ini,” kata Anwar dalam konferensi pers, setelah rapat Kabinet pada 17 Maret lalu.
Dalam Pemilihan Umum ke-15 tahun lalu, Mahathir gagal mempertahankan kursinya di Langkawi. Dia gagal setelah finish keempat dalam pertarungan lima sudut. Itu adalah kekalahan elektoral pertamanya dalam waktu 53 tahun. ***
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya