Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Mau Evakuasi 1,5 Juta Warga Sebelum Gempur Gaza, Israel Diledek
Minggu, 15 Oktober 2023 09:09 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Hingga Sabtu (14/10/2023), Israel belum ada tanda-tanda bakal menurunkan tensi serangan ke Gaza, Palestina. Justru, Israel berencana menggempur habis-habisan. Sebelum serangan itu dilancarkan, militer Israel memberikan ultimatum kepada 1,5 juta warga Palestina untuk menyingkir. Ide gila Israel ini pun diledek dunia.
Rencana Israel melakukan operasi militer besar-besaran di Jalur Gaza ternyata bukan isapan jempol. Seperti dilansir Reuters, Sabtu (14/10/2023) pagi waktu setempat, Juru Bicara Militer Israel Letnan Kolonel Jonathan Conricus mengeluarkan ultimatum melalui sebuah video singkat.
Dalam video itu, Conricus meminta semua penduduk Palestina terutama yang ada di bagian Utara agar segera meninggalkan rumahnya dan pindah ke bagian selatan, tepatnya ke wilayah bernama Wadi. Ia memberikan waktu kepada penduduk Palestina hingga pukul 4 sore atau 6 jam setelah ultimatum itu dikeluarkan.
"Di sekitar Jalur Gaza, tentara cadangan Israel dalam formasi bersiap-siap untuk operasi tahap berikutnya,” kata Conricus dalam video tersebut.
Mendengar rencana invasi tersebut, warga Palestina yang sedang berada di bawah gempuran rudal Israel sejak pekan lalu, makin panik. Ribuan orang berbondong-bondong meninggalkan rumah mereka. Seperti yang terlihat dari foto yang dirilis AFP, jalanan di Jalur Gaza penuh dengan berbagai kendaraan yang menuju wilayah selatan.
Dalam salah satu foto, sebuah mobil bak terbuka penuh sesak oleh ibu dan anak-anak. Tak hanya menumpang mobil, sebagian warga terlihat berjalan kaki sambil menggendong tas besar atau menenteng pakaian seadanya dalam tas jinjing. Tampak wajah-wajah lelah dan cemas.
Baca juga : Warga Subang Serbu Bazar Sembako Murah Relawan Sandi
Namun, tak semua warga Kota Gaza mau pindah ke wilayah Selatan. Sebagian masih memilih untuk bertahan di rumahnya masing-masing, meski pesawat tempur Israel makin sering menggempur Kota Gaza.
Kelakuan Israel ini yang makin ganas memborbardir Gaza mendapat kritikan dari dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut perintah evakuasi dari Israel kepada penduduk Palestina benar-benar tak masuk akal. Bagaimana mungkin 1,5 juta warga Palestina pindah dalam waktu hanya 6 jam. Sementara sebagian dari mereka masih terbaring di rumah sakit akibat serangan Israel.
"Perintah evakuasi Israel ke Gaza sama dengan hukuman mati bagi pasien rumah sakit yang rentan," kata juru bicara WHO Tarik Jasarevic, Sabtu (14/10/2023), seperti dilansir Reuters.
Kata dia, tak mungkin memindahkan orang sakit dalam waktu 24 jam seperti yang diinginkan oleh militer Israel. "Ada orang-orang yang sakit parah dan cederanya berarti satu-satunya peluang mereka untuk bertahan hidup adalah dengan menggunakan alat bantu hidup, seperti ventilator mekanis,” kata Jasarevic.
Diplomat utama Uni Eropa Josep Borrell menggambarkan arahan Israel sama sekali tidak realistis. Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mendesak Israel untuk membatalkan seruannya.
"PBB menganggap gerakan seperti itu tidak mungkin terjadi tanpa konsekuensi kemanusiaan yang buruk,” kata Stephane Dujarric, Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB.
Baca juga : Warga Pembakar Sampah Bakal Didenda Rp 300 Ribu
Ia khawatir perintah Israel itu akan mengubah situasi yang sudah menjadi tragedi menjadi situasi yang membawa malapetaka.
Kecaman juga datang Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Riyadh juga mengecam militer Zionis yang terus menargetkan warga sipil Palestina yang tidak berdaya.
"Kerajaan Arab Saudi menegaskan penolakannya terhadap seruan pengusiran paksa warga Palestina dari Gaza, dan kecamannya atas terus menerus menargetkan warga sipil tak berdaya di sana,” kata Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam sebuah pernyataan pada Jumat, yang dilansir Al Arabiya, Sabtu (14/10/2023).
Seruan lebih keras datang dari Menteri Luar Negeri China Wang Yi, dalam keterangan bersama dengan Diplomat Utama Uni Eropa untuk Politik Luar Negeri dan Keamanan Josep Borrell setelah keduanya memimpin Dialog Strategis Tingkat Tinggi China-Uni Eropa di Beijing. Dia bilang, banyak sekali ketidakadilan yang terjadi di dunia, tapi ketidakadilan terhadap Palestina telah berlangsung selama lebih dari setengah abad.
Penderitaan yang melanda generasi ke generasi tidak boleh berlanjut. Menurut Yi, solusi dua negara dan berdirinya negara Palestina merdeka adalah cara Palestina dan Israel bisa hidup berdampingan secara damai dan bagaimana bangsa Arab dan Yahudi hidup harmonis.
Wang juga menyoroti empat prioritas yang dianggap mendesak oleh China. Prioritas pertama, menghentikan perang sesegera mungkin, mencegah perluasan konflik dan menghindari memburuknya situasi.
Baca juga : Reza Maju Dari Dapil 9
Kedua, meminta semua mematuhi hukum humaniter internasional, yaitu melakukan segala upaya guna menjamin keselamatan warga sipil dan membuka jalur penyelamatan serta bantuan kemanusiaan secepat mungkin.
"Tujuannya untuk mencegah bencana kemanusiaan yang parah," ujarnya.
Ketiga, negara-negara terkait harus menahan diri, mengambil sikap objektif dan adil, berupaya meredakan konflik dan menghindari dampak keamanan regional dan internasional yang lebih besar.
Keempat, PBB harus memainkan perannya dalam menyelesaikan masalah Palestina. Menurutnya, Dewan Keamanan PBB perlu mengambil tanggung jawab penting, membangun konsensus internasional secepat mungkin dan mengambil tindakan nyata untuk mencapai tujuan tersebut.
"China akan berpartisipasi aktif dalam konsultasi darurat dalam Dewan Keamanan PBB dan mendukung seruan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres agar melindungi warga sipil. China akan memberikan bantuan kemanusiaan darurat ke Jalur Gaza dan Otoritas Nasional Palestina melalui PBB," papar Wang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya