Dark/Light Mode

Calon Menhan Trump Nol Ilmu Soal ASEAN, Pengamat: Tidak Perlu Diromantisasi

Kamis, 16 Januari 2025 16:16 WIB
Calon Menteri Pertahanan Donald Trump, Pete Hegseth, di sidang Senat Amerika Serikat, Selasa (14/1/2025). (Foto Tom Williams/CQ Roll Call)
Calon Menteri Pertahanan Donald Trump, Pete Hegseth, di sidang Senat Amerika Serikat, Selasa (14/1/2025). (Foto Tom Williams/CQ Roll Call)

RM.id  Rakyat Merdeka - Media internasional menyoroti sidang konfirmasi untuk calon Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth di Senat, Selasa (14/1/2025). Pasalnya, dalam sidang tersebut, mantan pembawa berita Fox News itu tidak bisa menyebutkan satu pun negara anggota ASEAN dengan benar. Padahal, ASEAN dinilai memiliki peran strategis yang relevan bagi AS.

Senator Tammy Duckworth menginterogasi Hegseth untuk mengetahui pengetahuannya yang dibutuhkan untuk memimpin negosiasi internasional dalam posisinya sebagai Menhan AS.

Duckworth mengajukan tiga pertanyaan kepada Hegseth. Apakah ia dapat menyebutkan satu negara yang merupakan anggota ASEAN, menjelaskan jenis perjanjian yang dimiliki AS dengan negara-negara di kae, dan berapa banyak negara yang tergabung dalam blok tersebut.

Dalam sidang konfirmasi Senat yang itu, Hegseth mengatakan tidak dapat menyebutkan jumlah pasti negara-negara ASEAN. Tapi, dia tahu sekutu AS yang ada di Asia.

"Saya tahu kita memiliki sekutu di Korea Selatan dan Jepang dalam AUKUS (perjanjian antara Australia, Inggris, dan AS) dengan Australia," ujarnya, seperti dilandir Associated Press, Kamis (16/1/2025).

Baca juga : Tak Tahu ASEAN, Calon Menhan Trump Panen Kecaman

Jawaban itu segera disambar Duckworth dengan pernyataan."Tak satu pun dari ketiga negara itu tergabung dalam ASEAN," katanya.

Menanggapi kabar ini, pendiri lembaga penelitian independen Synergy Policies Dinna Prapto Raharja mengatakan, pemerintahan AS sejak Barack Obama, retorikanya adalah ASEAN itu penting dan sentral untuk kerja sama dengan negara-negara di Asia Tenggara.

"Faktanya, matanya Amerika itu sebenarnya bukan ASEAN. Zamannya Obama tidak pernah terjadi pivot to Asia kan? Matanya (Obama) ke Timur Tengah," ujar Dinna kepada Rakyat Merdeka, Kamis (16/1/2024) petang.

Dia melanjutkan bahwa setelah AS di bawah pemerintahan Donald Trump 'jilid 1', sang taipan real estate fokus ke Asia Pasifik.

"Dan dia kemudian melahirkan AUKUS, yang boleh dikatakan sebuah pengkhianatan pada ASEAN," lanjutnya.

Baca juga : Menhan: Kopassus Harus Bekali Diri dengan Teknik Kemanusiaan

Karena dibentuknya AUKUS, kerja sama antara AS, Australia dan Inggris, lanjut Dinna, seolah mengabaikan ASEAN.

"Pembicaraan apapun menyangkut ASEAN, baik itu keamanan ataupun kerja sama maritim, kenapa harus dibicarakan sepihak kepada pihak di luar ASEAN," sebutnya.

Jadi, Dinna menekankan bahwa jangan hanya melihat sekilas saja mengenai ketidakmampuan calon Menhan pilihan Trump mengenal ASEAN.

"Jangan meromantisasi seolah Trump saja yang membuat ASEAN dilupakan," ingatnya.

Dosen Hubungan Internasional Bina Nusantara ini mengingatkan, meski Paman Sam memang sudah meningkatkan level kerja sama dengan ASEAN ke tingkat Comprehensive Strategic Partnership, bentuk perhatian AS ke ASEAN tidak akan pernah sebanding dengan perhatian mereka ke Timur Tengah atau China.

Baca juga : Sultan: Capres Independen Perlu Diwacanakan

"Jadi jika Trump jilid 2 membawa orang yang tidak paham soal ASEAN, berarti pendekatan Trump di kawasan memang akan fokus pada hal-hal transaksional dan membidik langsung ke China," tegasnya.

Dia pun mengajak semua pihak untuk melihat dulu bagaimana dampaknya dengan pilihan kebijakan Trump, yang menurutnya, bisa membawa dampak baik atau buruk.

AS sudah meningkakan level kerja sama dengan ASEAN ke tingkat Comrpehensive Strategic Partnership pada 2022 saat Kamboja menjadi Ketua ASEAN. Status ini sebagian besar bersifat simbolis yang menempatkan Washington pada level yang sama dengan China, yang telah memperoleh kehormatan tersebut tahun sebelumnya.

ASEAN menekankan prinsip nonintervensi dan diplomasi personal, dan luasnya keanggotaan serta kemitraannya, menjadikannya diposisikan secara unik sebagai forum untuk membahas isu-isu geopolitik utama. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.