Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Tarif Tinggi Juga Menghantui
Trump Desak Putin Akhiri Perang Ukraina, Dengan Ancaman Sanksi Yang Lebih Berat
Kamis, 23 Januari 2025 08:28 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk segera mengakhiri perang dengan Ukraina. Jika tidak, AS akan mengenakan tarif tinggi dan sanksi lanjutan terhadap Rusia.
"Mendorong Putin untuk menyelesaikan perang, sama dengan memberikan bantuan yang sangat besar kepada Rusia dan presidennya," kata Trump via Truth Social, Rabu (22/1/2025).
Sekadar mengingatkan, saat kampanye, Trump pernah sesumbar bahwa dia bisa mengakhiri perang Ukraina, dalam tempo 24 jam setelah menjabat.
Berikut isi tulisan Trump di Truth Social pada 22 Januari 2025, yang mendesak Putin segera mengakhiri perang Ukraina:
"Saya tidak bermaksud menyakiti Rusia. Saya mencintai rakyat Rusia, dan selalu memiliki hubungan yang sangat baik dengan Presiden Putin. Terlepas dari HOAX Rusia, Rusia, Rusia dari kaum Kiri Radikal.
Kita tidak boleh lupa bahwa Rusia membantu kita memenangkan Perang Dunia II, yang mengakibatkan hampir 60.000.000 nyawa melayang dalam prosesnya.
Baca juga : Fakta Pelantikan Trump Dapat Pengamanan Ketat Yang Belum Pernah Ada
Dengan semua itu, saya akan mendukung Rusia, yang ekonominya sedang gagal, dan Presiden Putin, dengan sangat baik. Selesaikan masalah ini sekarang, dan HENTIKAN Perang konyol ini! INI AKAN MENJADI LEBIH BURUK. Jika kita tidak membuat "kesepakatan".
Saya tidak punya pilihan selain mengenakan Pajak, Tarif, dan Sanksi tingkat tinggi pada apa pun yang dijual oleh Rusia ke Amerika Serikat, dan berbagai negara peserta lainnya.
Mari kita akhiri perang ini, yang tidak akan pernah dimulai jika saya menjadi Presiden! Kita dapat melakukannya dengan cara yang mudah, atau cara yang sulit. Cara yang mudah selalu lebih baik.
Saatnya untuk "MEMBUAT KESEPAKATAN." TAK BOLEH ADA LAGI NYAWA YANG HILANG!!!"
Rusia belum menanggapi pernyataan tersebut. Namun, dalam beberapa hari terakhir, para pejabat senior mengungkap peluang Moskow untuk berurusan dengan pemerintahan AS yang baru.
Putin telah mengatakan berulang kali, bahwa dia siap untuk menegosiasikan berakhirnya perang, yang pertama kali dimulai pada tahun 2014. Syaratnya, Ukraina harus menerima kenyataan 20 persen wilayahnya telah menjadi bagian dari teritorial Rusia.
Baca juga : Gerindra: Berani Korupsi, Ada Sanksi Tegas Menanti
Tak cuma itu. Putin juga menolak untuk mengizinkan Ukraina bergabung dengan NATO.
Kepada Reuters, Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB Dmitry Polyanskiy mengatakan, Kremlin perlu mengetahui apa yang diinginkan Trump dalam kesepakatan untuk menghentikan perang, sebelum negaranya bergerak maju.
Dalam World Economic Forum pada Selasa (21/1/2025) lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan, sedikitnya 200 ribu penjaga perdamaian dibutuhkan di bawah perjanjian apa pun.
"Setiap pasukan penjaga perdamaian untuk Ukraina, harus memasukkan unsur pasukan Amerika Serikat supaya bisa menjadi pencegah yang realistis bagi Rusia. Itu tidak mungkin tanpa Amerika Serikat," papar Zelensky kepada Bloomberg.
Sejauh ini, Trump belum menentukan hukuman ekonomi seperti apa yang akan dijatuhkan kepada Rusia, dan kapan waktu pelaksanaannya.
Impor Rusia ke AS telah anjlok sejak 2022, menyusul pembatasan skala berat yang sudah diberlakukan. Saat ini, ekspor utama Rusia ke AS adalah pupuk berbasis fosfat dan platinum.
Baca juga : Sri Mul: Ketahanan Pangan Tidak Hanya Sebatas Padi
Di media sosial, ada tanggapan pedas dari orang Ukraina. Banyak yang menyarankan bahwa lebih banyak sanksi adalah jawaban yang lemah terhadap agresi Rusia.
Namun, pertanyaan terbesar adalah apa yang sebenarnya terbuka untuk didiskusikan Putin dengan Ukraina, pada setiap pembicaraan damai.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya