Dark/Light Mode

Diperlakukan Baik Di Pusat Penahanan ICC, Duterte Pesan Obat Diabetes Dan Nasi

Rabu, 19 Maret 2025 04:05 WIB
Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte tampil perdana secara virtual dalam sidang Mahkamah Pidana Internasional, Jumat (14/3/2025). (Foto Tangkapan Layar GMA News)
Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte tampil perdana secara virtual dalam sidang Mahkamah Pidana Internasional, Jumat (14/3/2025). (Foto Tangkapan Layar GMA News)

 Sebelumnya 
Sebelum Duterte diterbangkan ke Belanda, putri bungsunya, Veronica, membagikan foto surat keterangan kesehatan ayahnya yang ditandatangani oleh seorang dokter. Surat menunjukkan bahwa pria berusia 79 tahun itu memerlukan perawatan lanjutan terkait diabetes.

Dokter menyarankan agar Duterte dirawat di rumah sakit untuk menghindari komplikasi diabetes akut berupa ketoasidosis diabetik. Hal ini bisa terjadi jika kadar glukosanya melonjak hingga 328.

Di Filipina, kasus Duterte jadi bahasan di Senat, Senin (17/3/2025). Saudara perempuan Presiden Ferdinand Marcos Jr, Senator Imee Marcos mengajukan penyelidikan atas upaya penangkapan Duterte. Imee adalah teman dekat putri sulung Duterte, yang juga Wakil Presiden Sara Duterte.

Baca juga : Pendukung Duterte Gelar Konvoi Dan Doa Bersama

“Sebagai Ketua Komite Senat untuk Hubungan Luar Negeri, saya menyerukan penyelidikan mendesak atas penangkapan mantan Presiden Rodrigo Duterte. Ini isu yang telah memecah belah negara,” ujarnya.

Imee mengatakan, merupakan hal yang penting untuk memastikan proses hukum dijalankan dengan benar serta memastikan hak-hak hukum dilindungi, bukan hanya ditegakkan.

“Kedaulatan dan proses hukum kita harus tetap menjadi yang utama,” sambungnya.

Baca juga : Penangkapan Duterte Dirayakan Aktivis HAM

Duterte ditangkap polisi Filipina di Bandara Internasional Manila pada 11 Maret 2025 setibanya dari Hong Kong. Dia lalu diterbangkan ke Den Haag, Belanda, beberapa jam kemudian untuk diserahkan ke ICC.

Penangkapan Duterte di bandara memang atas dasar perintah ICC. Duterte didakwa melakukan kejahatan kemanusiaan selama perang narkoba pada 2011-2019. Rentang waktu itu adalah ketika Duterte menjadi Wali Kota Davao dan menjabat Presiden Filipina.

Menurut kelompok hak asasi manusia, operasi itu menewaskan 30.000 orang. Sementara menurut polisi Filipina, korban tewas mencapai lebih dari 6.200 orang.

Baca juga : Resmi Jadi Penghuni Pusat Detensi ICC, Sel Duterte Dilengkapi Komputer Dan Gym

Penangkapan Duterte menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat Filipina. Para pendukung Duterte, terutama warga Kota Davao, mendesak agar sang eks Presiden dibebaskan. Sementara, keluarga para korban lega Duterte diadili, sampai-sampai terus menyumpahi Duterte kala menyaksikan sidang ICC pada Jumat (14/3/2025).

Senat sejauh ini telah mengagendakan dengar pendapat publik pada Kamis (20/3/2025). Mereka mengundang pejabat tinggi kepolisian serta pejabat pemerintah lain untuk membeberkan buktibukti mengenai penangkapan Duterte.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.