Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
2 Bulan, 813 Orang Tewas
Corona Lebih Ganas dari SARS
Senin, 10 Februari 2020 08:03 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Korban tewas akibat wabah virus corona terus bertambah. Sampai kemarin sore, tercatat sudah 813 orang meregang nyawa. Lebih tinggi dibanding korban wabah SARS pada 2002-2003 yang menewaskan 774 orang.
Sejak mencuat Desember tahun lalu, di Wuhan, China, banyak yang membanding-bandingkan keganasan virus Corona dan SARS. Setelah dua bulan berlalu, ternyata Vorona lebih mengerikan dibanding wabah SARS yang juga muncul di China, 18 tahun lalu.
Wabah SARS pertama kali muncul di Kota Foshan, akhir November 2002. Pemerintah setempat agak terlambat mendeteksi wabah ini. Baru diketahui Maret 2003.
Setelah virus SARS menyebar ke mana-mana. Ke Hong Kong, Kanada, Taiwan, dan Singapura. Hingga wabah ini mereda Juni 2003. SARS menyebar ke 20 negara. Menjangkiti 8.098 orang. Menewaskan 774 orang.
Paling banyak korban tewas adalah warga China, Hong Kong, dan Kanada. Penyebaran virus Corona agak mirip-mirip SARS atau sindrom pernafasan akut parah. Pertama kali muncul di Wuhan, akhir Desember lalu.
Baca juga : 33 Orang Kena Corona, Singapura Panik
Pemerintah China, yang sudah pengalaman dengan SARS, langsung bergerak melakukan penangkalan dan antisipasi penyebaran. Seperti mengisolasi Wuhan, membangun rumah sakit darurat, dan sebagainya.
Namun, langkah ini tetap terlambat. apalagi virus Corona ternyata lebih ganas. Dalam dua bulan, wabah ini terus menyebar ke belahan dunia. Tiap hari, ribuan orang terjangkit. Puluhan orang tewas.
Komisi Kesehatan Nasional China, seperti dilaporkan New York Times, kemarin, menyebut ada 37.198 orang terinfeksi. Dalam sehari, 89 orang tewas. Ada 2.656 kasus penularan baru. Mayoritas kasus terjadi di Provinsi Hubei, pusat penyebaran virus Corona.
Dalam laporan New York Times, berdasarkan data yang dikumpulkan John Hopkins University, hingga kemarin, virus sudah menyebar ke 30 negara dan menjangkiti 37.525 orang di seluruh dunia. Korban tewas 813 orang. Paling banyak warga China, terutama Wuhan. Hanya ada dua kematian yang terkonfirmasi di luar China daratan. Satu di Filipina dan satu di Hong Kong.
Jumlah korban tewas itu sangat mungkin bertambah, mengingat yang terjangkit terus bertambah tiap hari. Banyak dokter percaya, jumlah kematian dan infeksi dari wabah ini jauh lebih banyak dari kenyataannya.
Baca juga : Kejagung Bisa Lebih Hebat Dari KPK..
Mengingat rumah sakit dan laboratorium berada di bawah tekanan pemerintah China yang otoriter. Kabar baiknya, jumlah orang yang sembuh terus bertambah. 2.689 orang dinyatakan sembuh.
Pemerintah China mengklaim, penyebaran virus Corona lebih stabil dalam beberapa hari terakhir. namun, pejabat Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan agar tidak terlalu percaya data yang disebarkan China.
Direktur Program Eksekutif Kedaruratan Kesehatan WHO, Michael Ryan menyebut, penyebaran wabah virus Corona di Wuhan dan Hubei masih sangat intens. “Terlalu dini untuk membuat prediksi,” kata Ryan.
Di tempat terpisah, China mengklaim menemukan obat untuk virus Corona. Obat yang digunakan untuk mengobati HIV itu, kini sedang diujicobakan pada pasien sebagai terapi melawan Corona.
Obat untuk corona itu disebut Kaletra. Obat itu merupakan kombinasi dua anti HIV, lopinavir dan ritonavir. Obat ini telah digunakan pada pasien dalam uji coba di China sejak 18 Januari.
Baca juga : I2: Isu Virus Corona Diperbincangkan 124.175 Kali di Medsos
Namun, profesor penyakit menular dan kesehatan global di Universitas Oxford, Peter Horby ragu dengan obat tersebut. Dia bilang, tidak mungkin untuk memprediksi apakah ada obat yang akan efektif melawan virus Corona.
“Tidak ada yang tahu. Sebagian besar obat yang diuji coba terbukti tidak efektif. Ini adalah hasil yang lebih umum. Orang harus sangat ber hatihati,” kata Horby.
Menurut dia, pengujian obat harus diberikan dalam kondisi uji coba yang ketat. Dia menerangkan, jawaban soal obat dapat diketahui dalam tiga atau empat bulan.
Tetapi ketakutan terhadap Corona telah mendorong banyak orang untuk mencari persediaan Kaletra meskipun tidak ada bukti bahwa obat itu dapat membantu mengobati mereka yang jatuh sakit. Semoga segera ditemukan obat untuk membunuh virus Corona ini. Aamiin. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya