Dark/Light Mode

Tangkap Presiden Venezuela, Trump Gegerkan Dunia

Senin, 5 Januari 2026 07:50 WIB
Presiden AS Donald Trump (tengah) menyaksikan secara siaran langsung penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (Foto: Instagram/whitehouse)
Presiden AS Donald Trump (tengah) menyaksikan secara siaran langsung penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (Foto: Instagram/whitehouse)

 Sebelumnya 
Presiden China Xi Jinping melalui Kementerian Luar Negerinya ikut mengecam aksi AS itu. China meminta Trump membebaskan Maduro dan istrinya. Langkah AS dianggap melanggar hukum internasional, norma-norma dasar dalam hubungan internasional, dan tujuan serta prinsip-prinsip Piagam PBB. 

Sejumlah pemimpin negara-negara Amerika Selatan ikut melakukan kecaman. Hal yang sama juga disampaikan Negara-negara Uni Afrika (UA). Dalam pernyataannya yang dirilis pada Sabtu (3/1), Uni Afrika mengatakan penculikan Maduro dan tindakan militer terhadap lembaga-lembaga negara menimbulkan kekhawatiran serius tentang penghormatan terhadap hukum internasional dan kedaulatan bangsa. 

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mendesak AS segera membebaskan Maduro beserta istrinya. Menurutnya, penangkapan tersebut sebagai pelanggaran yang jelas terhadap hukum internasional dan tidak dapat dibenarkan. 

Menurutnya, apa pun alasan yang dikemukakan, penggulingan secara paksa terhadap seorang kepala pemerintahan yang sedang menjabat menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional. 

Baca juga : Penuhi Kebutuhan Hidup, Korban Banjir Sumatera Putar Otak Cari Pekerjaan

Senada, Pemerintah Rusia juga mendesak AS membebaskan Maduro dan istrinya. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov telah berbicara melalui telepon dengan Rodriguez. Ia menyatakan solidaritasnya dengan rakyat Venezuela dalam menghadapi agresi bersenjata. 

“Rusia akan terus mendukung langkah yang diambil oleh kepemimpinan Bolivarian untuk membela kepentingan nasional dan kedaulatan negara,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia. 

Sekjen PBB Antonio Guterres prihatin dan khawatir dengan situasi tersebut. Juru Bicara Sekjen PBB Guterres, Stephane Dujarric mengatakan, Guterres sangat prihatin dengan aksi militer AS di Venezuela. 

Guterres khawatir dengan dampak terhadap kawasan tersebut. Ia meminta semua pihak menghormati hukum internasional. Terlepas dari situasi di Venezuela, perkembangan ini merupakan preseden yang berbahaya. 

Baca juga : KOI Apresiasi Dukungan Penuh Presiden Prabowo

“Sekretaris Jenderal terus menekankan pentingnya penghormatan penuh, oleh semua pihak, terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB,” pungkas Dujarric. 

Trump Lirik Minyak Venezuela 

Usai melakukan serangan militer dan menangkap Maduro bersama istrinya, Presiden Trump menegaskan AS akan mengambil alih cadangan minyak Venezuela. Sejumlah perusahaan besar di AS diizinkan untuk melakukan investasi terhadap pengelolaan minyak di Venezuela. 

“Kita akan mengizinkan perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara itu,” kata Trump dalam konferensi pers di Florida, Sabtu (3/1/2026). 

Wapres Venezuela Rodrigues tak kaget dengan pernyataan Trump. Kata dia, tujuan operasi AS adalah untuk melakukan kudeta dan merebut sumber daya alam atau minyak Venezuela. 

Baca juga : Abdul Aziz: Pencabutan Tidak Selesaikan Masalah

“Kami siap mempertahankan Venezuela, kami siap menjaga sumber daya alam kami, yang seharusnya digunakan untuk pembangunan nasional,” tegasnya. 

Venezuela sendiri diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mengalahkan negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Iran. 

Menurut data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, Venezuela yang merupakan salah satu pendiri OPEC memiliki cadangan minyak terbesar di dunia sebesar 303 miliar barel atau 17 persen dari cadangan global. 

Jumlah tersebut mengalahkan jumlah cadangan minyak negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi yang memiliki 267 miliar barel, Iran dengan 209 miliar barel, serta Irak dengan 145 miliar barel. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.