Dark/Light Mode

Perkuat Kemitraan Dialog Dengan ASEAN

Inggris Libatkan Perempuan Dalam Agenda Perdamaian

Sabtu, 28 Februari 2026 04:05 WIB
Menteri Inggris untuk Indo-Pasifik Seema Malhotra (tengah) didampingi Kepala Perwakilan Tetap Vietnam di ASEAN Dubes Ton Thi Ngoc Huong (kiri) dan Duta Besar Inggris untuk ASEAN Helen Fazey dalam diskusi perayaan lima tahun Kemitraan Dialog ASEAN-Inggris di Wisma Habibie &Ainun di Jakarta, Rabu (25/2/2026). (Foto Kedubes Inggris)
Menteri Inggris untuk Indo-Pasifik Seema Malhotra (tengah) didampingi Kepala Perwakilan Tetap Vietnam di ASEAN Dubes Ton Thi Ngoc Huong (kiri) dan Duta Besar Inggris untuk ASEAN Helen Fazey dalam diskusi perayaan lima tahun Kemitraan Dialog ASEAN-Inggris di Wisma Habibie &Ainun di Jakarta, Rabu (25/2/2026). (Foto Kedubes Inggris)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Inggris menegaskan komitmennya mendukung peran perempuan dalam menciptakan perdamaian. Kaum perempuan harus dilibatkan secara aktif dalam setiap proses perdamaian.

Hal tersebut disampaikan Menteri Inggris untuk Indo-Pasifik Seema Malhotra di acara Public Discussion on Women, Peace and Security after 25 Years di Wisma Habibie & Ainun, Jakarta, Rabu (25/2/2026). Dialog terbuka yang digelar secara hybrid itu bagian dari perayaan lima tahun Kemitraan Dialog Inggris dan ASEAN.

“Peran perempuan sangat penting. Mereka menciptakan perdamaian yang stabil dan fokus memajukan komunitas mereka,” ujar Malhotra.

Politikus perempuan ini menegaskan, tidak boleh ada kemunduran dalam hak-hak perempuan. Termasuk dalam hal pendidikan, suara politik maupun keterlibatan di ruang sipil.

Baca juga : ASMINDO Perkuat Kemitraan Kayu AS, Yakin Naikkan Ekspor Furnitur

Sebagai bukti komitmen, Inggris telah menunjukkan kepemimpinan selama 25 tahun terakhir dalam memastikan peran perempuan dalam agenda perdamaian dan keamanan.

Malhotra merujuk pada kepemimpinan Inggris dalam lahirnya Resolusi 1325 Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2000 tentang agenda Women, Peace and Security (WPS). Menurutnya, keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan terkait keamanan dan penyelesaian konflik, terbukti menghasilkan perdamaian yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Inggris juga mengapresiasi peran sentral ASEAN dalam arsitektur kawasan yang mendorong pemberdayaan perempuan di berbagai sektor. “Inggris dan ASEAN mempromosikan integrasi ekonomi, serta menyempurnakan standar dan regulasi untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan,” jelasnya.

Selain itu, kedua pihak memperkuat kerja sama dalam transisi energi bersih, pendidikan—khususnya STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics)—serta pendekatan kesehatan holistik guna meningkatkan respons terhadap krisis.

Baca juga : Perkuat Harmoni Sosial, LippoLand Salurkan Perlengkapan Ibadah Ke Empat Masjid

Inggris tercatat telah melatih lebih dari 4.000 pemangku kepentingan di seluruh ASEAN. Dengan lebih dari 400 di antaranya merupakan aktor negara. Inggris juga mengembangkan ASEAN WPS Knowledge Hub, platform pengetahuan tentang perempuan, perdamaian, dan keamanan yang telah dimanfaatkan lebih dari 3.500 pengguna untuk mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti.

“Kami telah membantu enam negara ASEAN mengadopsi dan memperbarui rencana aksi nasional. Termasuk Vietnam dan Malaysia, serta melanjutkan kerja sama dengan Indonesia pada fase kedua,” tambah Malhotra.

Duta Besar Inggris untuk ASEAN Helen Fazey mengatakan, agenda WPS menjadi salah satu program kunci dalam hubungan ASEAN–Inggris sejak terbentuknya Kemitraan Dialog.

“Dalam lima tahun terakhir, kita telah membangun fondasi kerja sama tidak hanya di bidang ekonomi, iklim, kesehatan dan pendidikan. Tapi juga dalam mem-promosikan kesetaraan gender serta meningkatkan peran perempuan dalam perdamaian dan keamanan,” ujarnya.

Baca juga : 22 Pertanyaan Umum soal Perjanjian Perdagangan Resiprokal RI-AS dan Jawabannya

Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Politik-Keamanan Dato’ Astanah Abdul Aziz menambahkan, ASEAN berkomitmen menjadikan agenda WPS sebagai prioritas strategis di tengah dinamika keamanan kawasan yang semakin kompleks.

“Mengintegrasikan perspektif gender ke dalam tiga pilar komunitas ASEAN sangat penting untuk meningkatkan ketahanan, mendorong pembangunan inklusif, dan memperkuat sentralitas ASEAN,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.