Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Stabilitas Kawasan Diujung Tanduk Akibat Agresi Amerika dan Israel
Rabu, 4 Maret 2026 22:58 WIB
Konflik yang meletus antara Amerika Serikat (AS)-Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026 telah menjadi titik penting dalam sejarah geopolitik Timur Tengah. Konflik ini merupakan benturan kekuatan global dan regional yang memiliki kapasitas militer, strategi, dan tujuan politik yang berbeda secara mendasar. Operasi epic fury menandakan besarnya dukungan Amerika Serikat terhadap Israel yang tidak hanya dalam bentuk proteksi diplomatic dan ekonomi, tetapi juga militer.
Kekuatan Militer
Baik Amerika dan Israel kita ketahui adalah negara dengan kekuatan militer yang mumpuni. Mereka memiliki kekuatan angkatan bersenjata yang merata dalam berbagai matra. Akan tetapi Iran juga tidak bisa dianggap enteng. Secara kuantitas, Iran memiliki salah satu angkatan bersenjata terbesar di kawasan dengan tenaga aktif besar, cadangan siap pakai, dan jaringan milisi yang luas di negara-negara tetangga. Iran juga diketahui memiliki rudal balistik dan drone kamikaze yang dapat digunakan untuk menyerang target di luar wilayahnya, termasuk pangkalan Amerika Serikat dan kota-kota Israel, ini adalah sebagai bentuk perang asimetris.
Iran--dengan kekuatan jaringan milisi proksinya di Irak, Suriah, Lebanon (Hezbollah), dan Yaman--dapat menekan lawan tanpa perlu mobilisasi pasukan besar secara langsung. Taktik ini dapat memperluas konflik ke wilayah lain dan menciptakan tekanan strategis yang kompleks serta berdampak jangka Panjang. Presiden Amerika, Donald Trump, sendiri pada akhirnya harus mengakui bahwa perang ini akan lebih lama dari perkiraan sebelumnya, karena Iran tidak menunjukan tanda-tanda akan menyerah, dan bahkan memperluas serangannya ke berbagai fasilitas militer dan simbol politik Amerika di kawasan.
Baca juga : Silaturahmi Ramadan Di Jabar, Kapolri Beri Pesan Jaga Persatuan-Kesatuan
Dampak Agresi Amerika dan Israel terhadap Keamanan Kawasan
Agresi militer yang dilakukan oleh Amerika bersama Israel—baik dalam bentuk serangan langsung, dukungan militer, maupun operasi terbatas—berpotensi menimbulkan dampak multidimensional terhadap keamanan regional, khususnya di kawasan Timur Tengah. Dalam perspektif keamanan internasional, tindakan tersebut tidak hanya berdampak pada aktor yang menjadi sasaran, tetapi juga mengubah konfigurasi stabilitas kawasan secara lebih luas.
Pertama, agresi militer meningkatkan eskalasi konflik dan memperbesar risiko perang terbuka antarnegara maupun konflik proksi. Ketegangan antara Israel dan Iran, misalnya, berpotensi meluas dengan melibatkan aktor non-negara seperti kelompok bersenjata di Lebanon, Suriah, atau Yaman. Dinamika ini menciptakan apa yang dalam studi keamanan disebut sebagai security dilemma, di mana tindakan defensif satu pihak dipersepsikan sebagai ancaman oleh pihak lain sehingga memicu perlombaan militer baru di kawasan.
Kedua, stabilitas politik domestik negara-negara kawasan turut terpengaruh. Serangan eksternal sering kali memperkuat narasi anti-Barat dan memperdalam polarisasi internal. Pemerintah di negara-negara Timur Tengah dapat menghadapi tekanan publik untuk mengambil posisi lebih konfrontatif, yang pada akhirnya mempersempit ruang diplomasi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan tata kelola regional dan memperburuk krisis kemanusiaan.
Baca juga : Menlu Iran: Trump Ubah America First Jadi Israel First
Ketiga, dampak ekonomi regional dan global juga signifikan. Timur Tengah merupakan kawasan strategis bagi distribusi energi dunia. Ketegangan yang melibatkan Iran—yang memiliki posisi strategis di sekitar Selat Hormuz—berpotensi mengganggu pasokan minyak global dan mendorong lonjakan harga energi. Instabilitas ekonomi ini tidak hanya dirasakan negara-negara kawasan, tetapi juga negara berkembang yang bergantung pada impor energi.
Keempat, agresi tersebut berpotensi menggeser arsitektur keamanan regional. Negara-negara Arab Teluk dapat mempererat aliansi pertahanan dengan Amerika Serikat atau memperkuat kerja sama keamanan baru, sementara aktor seperti Rusia dan Tiongkok mungkin memanfaatkan situasi untuk memperluas pengaruh geopolitik mereka. Dengan demikian, kawasan menjadi arena kompetisi kekuatan besar (great power competition).
Namun demikian, terdapat pula argumen yang menyatakan bahwa tindakan militer tertentu dapat berfungsi sebagai deterrence untuk mencegah ancaman yang dianggap eksistensial. Dalam perspektif ini, agresi dipandang sebagai langkah pencegahan guna membatasi kemampuan militer lawan. Meski demikian, efektivitas pendekatan ini sangat bergantung pada kalkulasi rasional para aktor dan mekanisme kontrol eskalasi yang tersedia. Dalam hal ini Keputusan Trump untuk menyerang Iran juga dikritik oleh sebagian besar rakyat Amerika dan anggota dari partai Demokrat di Amerika, yang menilai Keputusan ini sebagai kebijakan ugal-ugalan dan tanpa perhitungan matang.
Secara normatif, penggunaan kekuatan militer tanpa legitimasi multilateral berisiko melemahkan hukum internasional dan kredibilitas lembaga global. Jika pola tindakan unilateral menjadi preseden, maka stabilitas sistem internasional dapat semakin rapuh.
Baca juga : Kabin Luas Dan Sejuk, Xpander Nyaman Buat Perjalanan Jauh
Kesimpulannya, agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran di Timur Tengah cenderung memperbesar ketidakpastian keamanan regional. Alih-alih menciptakan stabilitas jangka panjang, pendekatan militer berisiko memperluas konflik, memperdalam rivalitas, serta mengganggu tatanan keamanan kawasan. Oleh karena itu, jalur diplomasi, de-eskalasi, dan mekanisme keamanan kolektif tetap menjadi opsi paling rasional untuk menjaga stabilitas regional.
Yusa Djuyandi
Pengamat dan peneliti di bidang politik dan pertahanan Universitas Padjadjaran
Pengamat dan peneliti di bidang politik dan pertahanan Universitas Padjadjaran
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya