Dark/Light Mode

Akibat Perang Dengan Iran

Popularitas Trump Makin Melorot Ke Titik Terendah

Kamis, 26 Maret 2026 04:52 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunjungi Museum Elvis Presley di Graceland, Memphis, Tennessee, Amerika Serikat, Senin (23/3/2026). (Foto White House)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunjungi Museum Elvis Presley di Graceland, Memphis, Tennessee, Amerika Serikat, Senin (23/3/2026). (Foto White House)

RM.id  Rakyat Merdeka - Popularitas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tergerus. Di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kritik terhadap kebijakan perang Iran, tingkat dukungan publik nyungsep ke titik terendah sejak Trump kembali menjabat.

Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos yang berlangsung selama empat¬ hari dan berakhir pada 23 Maret itu mencatat, hanya 36 persen warga AS yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump. Angka ini turun dari 40 persen pada survei pekan sebelumnya.

Penilaian publik terhadap kepemimpinan Trump mengendalikan biaya hidup juga memburuk. Hanya 25 persen responden yang menyatakan puas. Padahal, biaya hidup menjadi fokus utama Trump saat kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Lonjakan harga bensin sejak AS bersama Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu, menjadi faktor utama yang mempengaruhi persepsi tersebut.

Survei nasional ini dilakukan secara daring dengan melibatkan 1.272 responden dewasa di AS. Dengan margin kesalahan (margin of error) sekitar 3 persen.

Hanya 35 persen warga yang mendukung serangan AS ke Iran, turun dari 37 persen pada pekan sebelumnya. Sebaliknya, sebanyak 61 persen menyatakan tidak setuju, meningkat dari 59 persen.

Baca juga : PM Korsel Tunda Ke China, Fokus Urus Krisis Energi

Survei sebelumnya yang dilakukan setelah serangan awal menunjukkan, 27 persen mendukung, 43 persen menolak dan 29 persen masih ragu.

“Apakah dia (Trump) bisa berhenti melakukan hal seenaknya?” tanya seorang netizen di Instagram dengan akun Sineas_98 yang mengomentari berita terkini seputar Trump di portal Reuters, Rabu (25/3/2026).

“Maaf saya sudah memilih orang yang salah untuk memimpin negeri ini,” celoteh akun morringga_Sweet.

“Kita harus melihat kekacauan baru selama tiga tahun ke depan,” sahut akun lainnya.

Setahun sejak diambil sumpah sebagai Presiden pada 20 Januari 2025, dukungan rakyat atas Trump rata-rata di angka 47 persen. Angka ini terus turun sejak kebijakannya menyerang Venezuela dan Iran.

Meski popularitas Trump menurun, kondisi ini tidak berpengaruh banyak pada elektabilitas Partai Republik dalam menghadapi Pemilu paruh waktu Kongres pada November mendatang.

Baca juga : Akhir Ramadan, Prabowo Nikmati Kebersamaan Dengan Mbak Titiek Dan Didit

Sebanyak 38 persen pemilih terdaftar menilai Partai Republik lebih mampu mengelola ekonomi dibandingkan 34 persen yang memilih Partai Demokrat.

Dukungan dari internal Partai Republik masih solid. Meski sekitar satu dari lima anggota partai tersebut tidak puas terhadap kinerja Trump secara keseluruhan. Angka yang tidak banyak berubah dibandingkan pekan sebelumnya.

Ketidakpuasan terhadap penanganan biaya hidup di kalangan Republikan meningkat menjadi 34 persen, dari sebelumnya 27 persen.

Pasukan Parasut

Trump dikabarkan berencana mengerahkan sekitar 1.000 prajurit dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat menuju Timur Tengah. Langkah ini diambil untuk memperkuat postur militer AS melawan Iran.

Pengerahan pasukan penerjun payung ini mencakup personel staf divisi yang dipimpin langsung Mayor Jenderal Brandon Tegtmeier, serta satu batalyon dari Tim Tempur Brigade ke-1.

Menurut sumber yang memahami rencana tersebut kepada Reuters, Rabu (24/3/2026), elemen awal dari staf divisi dan batalyon diperkirakan mulai bergerak dalam waktu sepekan ke depan.

Baca juga : Libur Panjang, Akses Layanan Informasi Publik KPK Tetap Tersedia

Pasukan yang diberangkatkan ini bagian dari Immediate Response Force (IRF) atau Pasukan Respons Cepat. Unit ini memiliki spesialisasi khusus untuk dikerahkan dalam hitungan jam setelah perintah turun dan menjadikannya ujung tombak Pentagon (Departemen Pertahanan AS) dalam menghadapi situasi darurat yang tidak terduga.

“Brigade tersebut akan menjadi unit siap sedia di Timur Tengah. Dipersiapkan untuk dipanggil jika diperlukan,” ujar sumber yang namanya enggan disebut.

Meski perintah resmi pengerahan (deployment orders) belum diterbitkan secara formal, para personel dikabarkan telah mendapatkan instruksi untuk bersiap. Ini bermakna, perintah tersebut bakal muncul dalam waktu dekat.

Langkah militer ini bukanlah yang pertama bagi Divisi Lintas Udara ke-82. Pada 2020 divisi yang bermarkas di Fort Liberty, North Carolina, AS, ini juga melakukan pergerakan serupa menyusul ketegangan hebat setelah tewasnya komandan Iran, Qasem Soleimani.

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.