Dark/Light Mode

Warganya Tertib

Korsel Nggak Berlakukan Lockdown

Selasa, 4 Agustus 2020 19:46 WIB
Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan, Umar Hadi (kanan), saat menerima penghargaan sebagai Dubes Terbaik 2018 dari pemerintah Korea Selatan. (Foto: KBRI Seoul)
Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan, Umar Hadi (kanan), saat menerima penghargaan sebagai Dubes Terbaik 2018 dari pemerintah Korea Selatan. (Foto: KBRI Seoul)

RM.id  Rakyat Merdeka - Koordinasi antar pemerintah, kementerian dan lembaga terkait yang menangani pandemi Covid-19, seolah menjadi jaminan bagi warga Korea Selatan, bahwa mereka bisa mengatasi wabah bersama.

Inilah yang membuat warga Korea Selatan tidak harus menjalani penutupan wilayah dan pembatasan gerak publik atau lockdown seperti yang banyak dilakukan negara lain. Hal ini disampaikan Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan, Umar Hadi dalam RMInsight berjudul Negeri K-Pop Kelimpungan Tangkis Resesi pada Selasa sore (4/7).

"Di sini ada undang-undang penularan penyakit menular. Jadi mereka sudah siap dengan perlengkapan menghadapi pandemi. Karena mereka juga belajar dari kasus Mers dan flu burung," jelasnya.

Baca Juga : Disaat Pandemi, ARTUGO Ramaikan Pasar Home Appliance Indonesia

Korsel pun tidak pernah berhenti melakukan tes PCR secara massal, demi menentukan langkah penanganan lanjutan. "Tes PCR di sini gratis. Ada tes PCR drive-tru. Nanti hasilnya bisa dikirim via email atau pesan singkat," lanjut Umar.

Selain itu dia menyebutkan, 70 persen perekonomian Korsel bergantung pada perdagangan internasional. Sehingga kegiatan ekspor dan impor adalah kegiatan ekonomi yang sangat penting bagi rakyat Korsel. Hal ini menjadi penyebab mengapa Korsel tidak menerapkan lockdown, karena kegiatan ekonomi tidak mungkin berhenti.

"Secara geografis juga, Korsel adalah daratan yang luas dengan penduduk 50 juta jiwa. Antar kota juga terhubung dengan transportasi modern. Jadi memang untuk lockdown sulit juga," bebernya.

Baca Juga : Puan Bicarakan Vaksin Corona Hingga Dukungan ke Palestina

Umar mengatakan, ketika Kota Daegu menjadi episentrum penyebaran Covid-19, pemerintah Korsel sempat menetapkan kota itu sebagai zona khusus (special zone). Namun, otoritas setempat tidak menerapkan lockdown, kegiatan berjalan seperti biasa. Transportasi publik tetap berjalan dan pasar juga tetap dibuka.

Korea Selatan pertama kali mencatat kasus pertama COVID-19 pada 20 Januari lalu. Hingga kini, pandemi di Korea Selatan telah memasuki hari ke-198. Per Selasa (4/8), Korsel mencatatkan 14.423 kasus positif dengan 301 orang meninggal dunia dan 13.352 berhasil sembuh.

Masih ada 770 orang lainnya yang tengah menjalani pengobatan di rumah sakit. Sementara total sudah ada 1.589.780 tes PCR yang dilakukan Korsel sejak Januari. DAY