Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kerja Sama PT Inka Dengan Perusahaan Swiss

Hore, Banyuwangi Bakalan Punya Pabrik Kereta

Sabtu, 9 Maret 2019 21:09 WIB
Duta Besar Muliaman Darmansyah Hadad mendampingi Menteri Luhut Binsar Pandjaitan bertemu pihak produsen kereta Swiss Stadler Rail. (Foto IST)
Duta Besar Muliaman Darmansyah Hadad mendampingi Menteri Luhut Binsar Pandjaitan bertemu pihak produsen kereta Swiss Stadler Rail. (Foto IST)

RM.id  Rakyat Merdeka - Produsen kereta api Swiss Stadler Rail Bersama PT Inka akan nembangun pabrik kereta api di Banyuwangi. Hal ini diutarakan pemilik perusahaan Stadler Rail dalam serangkaian pertemuan dengan Menteri BUMN, Menteri Perindustrian dan Menko Maritim. Dalam kunjungan ini, pemilik Stadler Peter Spuhler dan sejumlah petinggi Stadler didampingi Duta Besar Indonesia di Bern, Swiss, Muliaman Darmansyah Hadad. Pimpinan PT Inka dan Ketua Komite Indonesia Swiss Asian Chamber of Commerce juga ikut serta.

Stadler Rail dan PT Inka akan membangun joint venture di Banyuwangi untuk memproduksi kereta api regional, light rail vehicle dan kereta dalam kota atau Metro. Pembangunan dimulai 2020 dengan kapasitas 250 unit pertahun dan akan mencapai 500 unit tahun 2025 dan 1.000 unit per tahun pada 2030.

Nilai investasi Stadler dalam proyek ini mencapai 210 juta dolar Amerika atau Rp 3 triliun. Dalam strategi pendayagunaan sumber domestik, pihak Stadler menjelaskan beberapa tahapan yang akan dilalui.

Berita Terkait : Perusahaan Ini Libatkan Petani Pasok Bahan Baku Kayu Lapis

Tahap pertama selama dua tahun adalah rekrutmen tenaga kerja domestik, pembangunan supply chain dan perencanaan pembangunan. Hal ini dilanjutkan dengan progran train the trainer, pengenalan budaya kerja Stadler dan kemampuan membangun jaringan.

Pengiriman staf inti Stadler ke Indonesia adalah tahap berikutnya, mereka ini akan kembali ke Swiss setelah staf Indonesia dalam menjalankan operasi pabrik sepenuhnya. Pihak Stadler juga memaparkan target market hasil produksi Stadler Inka selain untuk memenuhi kebutuhan pasar Indonesia yaitu ke negara Asia lainnya dan Pasifik serta Afrika Sub Sahara.

"Tidak hanya hanya kebutuhan domestik yang tinggi, produksi Stadler Inka ini juga dapat dipasarkan di pasar ASEAN, Australia dan negara negara Afrika," ujar Duta Besar RI Bern Muliaman D Hadad dalan keterangan pers KBRI Bern.

Berita Terkait : Caleg Perempuan Suarakan Perlindungan Dan Perwakilan Perempuan Di Parlemen

Hubungan historis Indonesia dengan Afrika merupakan nilai tambah dalam mempermudah pemasaran produksi Stadler Inka ke Afrika. Kebutuhan akan sarana transportasi darat merupakan salah satu fokus pembangunan infrastruktur Indonesia. Hal ini diungkapkan Menteri BUMN Rini Sumarno dalam diskusi dengan Stadler pada hari yang sama.

"Inka telah memainkan peran penting dalam memasok kebutuhan kereta api di Indonesia, adanya keterlibatan mitra asing yang mempunyai teknologi tinggi akan meningkatkan kapasitas PT Inka dalam memenuhi kebutuhan transportasi darat Indonesia," ujar Menteri Rini. Menteri BUMN juga menekankan pentingnya program pendidikan vokasi yang melibatkan dunia industri untuk mencetak generasi kerja siap pakai. Indonesia akan dapat memberikan fasilitas tax holiday jika nilai investasi lebih dari 200 juta dolar Amerika.

Fasilitas lebih lanjut diberikan jika Stadler membangun fasilitas pendidikan vokasi, khususnya vokasi perkeretaapian. Pimpinan Stadler dan Dirut PT Inka telah menandatangani Head of Statement untuk membangun pabrik di Banyuwangi. Penandatanganan ini dilakukan dihadapan Bupati Banyuwangi Azwar Anas pada tanggal 7 Maret 2019. Investasi Stadler di Indonesia merupakan tindak lanjut dari pendekatan kepada Stadler yang dilakukan Dubes dan Ketua Komite Indonesia SACC Jesse NG dari Bajak GmbH.

Berita Terkait : Perusahaan Sawit Besar Tetap Berpihak Ke Petani

Pihak PT Inka juga telah mengunjungi Stadler di Bussnang, Swiss. Delegasi Stadler juga telah bertemu dengan pimpinan INKA dan meninjau fasilitas pabrik Inka di Madiun.[MEL]