Dark/Light Mode

Usai Serangan Capitol, Kongres AS Sahkan Kemenangan Biden

Kamis, 7 Januari 2021 20:54 WIB
Kerusuhan di Gedung Capitol, Amerika Serikat, Rabu (6/1). (Foto: Ist)
Kerusuhan di Gedung Capitol, Amerika Serikat, Rabu (6/1). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Beberapa jam usai ratusan pendukung Presiden Donald Trump menyerbu Gedung Capitol Amerika Serikat (AS), Kongres AS resmi mengesahkan kemenangan Joe Biden dari Partai Demokrat, Kamis (7/1). Segera setelah pengesahan itu, Gedung Putih merilis pernyataan dari Trump.

Trump menjanjikan transisi yang tertib pada 20 Januari saat Biden dilantik sebagai presiden. Kongres kini mengesahkan kemenangan suara elektoral yang diperoleh Biden usai kisruh terjadi di Gedung Capitol pada Rabu dan setelah perdebatan yang cukup panjang hingga Kamis dini hari waktu setempat.

Usai perdebatan, senat dan Dewan Perwakilan Rakyat menolak dua keberatan terhadap penghitungan suara dan mengesahkan suara elektoral final dengan perolehan 306 suara untuk Biden dan 232 suara Trump.

Wakil Presiden Mike pence, saat mengumumkan total akhir suara yang mendukung kemenangan Biden mengatakan, Biden dan Kamala sah menjadi Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat. Keduanya akan dilantik pada 20 Januari.

Berita Terkait : 11 Senator Tuntut Audit Hasil Pemilu

Diketahui, setelah kerusuhan yang disemangati oleh Trump, perusuh memaksa menerabas barikade keamanan lokal, merusak jendela, hingga memanjat tembok untuk berusaha masuk ke Gedung Capitol.

Kekacauan semakin menjadi usai Trump berbicara kepada ribuan pendukung di dekat Gedung Putih dan meminta kepada mereka berbaris di Capitol untuk terus memrotes proses pemungutan suara. Dia mengatakan kepada pendukungnya untuk menekan wakil terpilih mereka menolak hasil, dan mendesak mereka untuk melawan.

Pihak kepolisian menyebut empat orang meninggal dunia dalam kekisruhan itu. Satu dari tembakan dan tiga akibat keadaan darurat medis. Selain itu, 52 orang ditangkap.

Sejumlah perusuh juga mengepung ruang majelis DPR saat para anggota parlemen berada di dalam. Perusuh menggedor-gedor pintu dan memaksa penundaan pengesahan tersebut. Petugas keamanan bahkan menaruh perabotan untuk menahan pintu ruang majelis dan mengeluarkan senjata api.

Berita Terkait : KPK Telusuri Kontrak Kemensos Dengan Rekanan Proyek Bansos

Serangan terhadap Capitol adalah puncak dari retorika yang memecah belah dan meningkat selama berbulan-bulan setelah pemilu pada 3 November. Pemicunya, presiden dari Partai Republik, Trump, berulang kali membuat klaim palsu bahwa pemungutan suara dicurangi dan mendesak para pendukungnya untuk membantu membalikkan kekalahannya.

Trump bersikeras membuat klaim palsu bahwa dia telah memenangkan pemilu. Namun, belakangan Trump mulai melunak. "Meskipun saya sama sekali tidak setuju dengan hasil pemilu, dan fakta menunjukkan kepada saya, namun akan ada transisi yang tertib pada 20 Januari," kata Trump dalam pernyataan yang diunggah di Twitter oleh juru bicara Gedung Putih Dan Scavino.

Sejumlah anggota kongres ternama dari Partai Republik menyampaikan kritik keras atas Trump, dan menyalahkan dia atas kekerasan pada hari itu.

"Tak ada keraguan bahwa Presiden telah membentuk massa itu. Presiden memancing massa, dia memantik api itu," ujar Kepala Konferensi Partai Republik DPR, Liz Cheney, mengatakan dalam cuitan di Twitter.

Baca Juga : Kasus Suap Pengurusan DAK, KPK Rampungkan Penyidikan Bupati Labura

Senator Partai Republik, Tom Cotton yang juga pimpinan konservatif dari Arkansas, menyeru agar Trump menerima kekalahannya dalam pemilu dan berhenti menjerumuskan warga Amerika menuju kekerasan massal. [FAQ]