Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Kamboja, Pasar Potensial Produk Buah dan Sayuran Indonesia
Minggu, 7 Februari 2021 15:35 WIB
Sebelumnya
Keunggulan salak asal Indonesia adalah rasanya yang tidak dapat tidak dapat dijumpai di Vietnam dan Thailand. Salak segar Indonesia pertama kali diimpor sejak 2016 dan terus meningkat sampai dengan 2019. Pada 2019, impor salak Indonesia dapat dilakukan sebanyak 2 kali dalam seminggu dengan jumlah 5 ton/minggu. Dalam setahun, impor tersebut mencapai 480 ton. Untuk menjaga kualitas rasa dan kesegaran dari buah salak, kargo udara merupakan transportasi yang paling efisien.
“Salak merupakan salah satu komoditi Indonesia yang dapat diterima secara luas dengan baik dan menjadi salah satu alat diplomasi Indonesia di Kamboja,” ungkap Duta Besar RI di Phnom Penh, Sudirman Haseng.
Baca juga : Ganjar: Gerakan Jateng Di Rumah Saja Bukan Sinyal Lockdown
Dia berharap, komoditi lainnya dapat segera menyusul popularitas salak. Tentu, ke depannya, ekspor, terutama untuk produk–produk pertanian dan perkebunan Indonesia dapat meningkat.
Faktor konektivitas, terutama melalui jalur udara pada masa pandemi, jelas Sudirman, merupakan salah satu kendala utama untuk mendorong ekspor produk perkebunan dan pertanian Indonesia. KBRI Phnom Penh menurutnya terus berupaya melakukan pendekatan dengan berbagai maskapai, baik di Indonesia maupun Kamboja untuk membuka kargo khusus udara, terutama untuk komoditi segar.
Baca juga : Mandiri Investment Forum Garap Investor Potensial Investasi Di Indonesia
Pada awal 2020, impor salak hanya dapat dilakukan selama 2 bulan, sebelum semua akses penerbangan ditutup akibat pandemi Covid-19. Impor yang semua dilakukan dua kali seminggu tersebut berubah menjadi satu kali sebulan, sehingga satu kali setiap tiga atau empat bulan. Tergantung ketersediaan charter flight khusus.
Penggunaan charter flight untuk mengimpor buah, menyebabkan biaya transportasi yang sangat tinggi. Akhirnya, transaksi total sepanjang 2020 tercatat hanya 30 ton. Pada awal Februari 2021, sebanyak 7 ton salak Indonesia dapat diimpor kembali, masih menggunakan pesawat charter flight khusus.
Baca juga : Platform Pinjam Modal Buka Layanan Di Seluruh Indonesia
Menurut data Kementerian Perdagangan Kamboja, total perdagangan Indonesia dan Kamboja tercatat pada 2020 688 juta dollar AS, di mana Indonesia menjadi salah satu negara asal impor terbesar di Kamboja. Jumlah ini berpotensi meningkat, jika dapat diimbangi dengan ketersediaan transportasi langsung, terutama kargo udara dari Indonesia ke Kamboja yang dapat menekan biaya transportasi. [RSM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya